]Indonesia – Indonesian –[ إندونيسي
Dinukil dari Buku:
“Syirik pada Zaman Dahulu
dan Sekarang” (2/685-730)
Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria
Terjemah: Abu Umamah Arif Hidayatullah
Editor : Eko Haryanto
Abu Ziyad
2015 - 1436
الشرك
في الربوبية بالتعطيل
«باللغةالإندونيسية»
مقتبس من كتاب : الشرك في القديم
والحديث
للشيخ أبو بكر محمد زكريا (2/685-730)
ترجمة:عارف هداية الله أبو أمامة
مراجعة:أبوزيادإيكوهاريانتو
2015 - 1436
Teori Hidup Menurut
Komunis
Segala
puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa
ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya,
kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal
perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu
wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan
barangsiapa yang -Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak
diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu
wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi
bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu
‘alaihi wa sallamadalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:
Sisi Kelam
Paham Ta'thil Masuk Dalam Syirik Rububiyah:
Tidak diragukan lagi bahwa kesyirikan merupakan musuh
bebuyutan tauhid, dialah lawan dari setiap orang yang mengesakan AllahShubhanahu wa ta’alla. sebagaimana
aqidah tauhid mencakup didalamnya keyakinan untuk menetapkan rububiyah, asma
dan sifat serta perbuatan Allah azza wa jalla. Begitu juga mencakup keyakinan
untuk menolak adanya orang yang menjadikan tandingan bersama AllahShubhanahu wa ta’alla, baik dalam hal
rububiyah, asma dan sifat maupun perbuatan -Nya. Lagi tidak memalingkan satupun
jenis ibadah kepada selain -Nya.
Begitu pula, sungguh dalam kesyirikan juga mencakup
secara jelas bentuk pengingkaran kepada Allah Shubhanahu wa ta’alladari aspek rububiyah, asma dan sifat serta
perbuatan -Nya, lagi terkandung didalamnya untuk menjadikan tandingan bersama
AllahShubhanahu wa ta’alla, dari segi
rububiyah, asma dan sifat serta perbuatan -Nya, dan bisa dipastikan pelakunya akan
memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah jalla wa 'ala.
Atas dasar inilah kita dapat melihat bahwa keberagaman
perbuatan syirik, walaupun pada awal mulanya masuk dalam keragaman perbuatan
kufur, kecuali bagi orang yang mencoba lebih cermat dalam melihat pendalilan
yang ada pada harfiah tauhid dan syirik niscaya dirinya akan mendapat
pencerahan yang sangat jelas bahwa hukum perilaku kufur tersebut tetap masuk
dalam keberagaman syirik. Masuknya penamaan dalam hukum syirik ini tidak
menjadikan adanya kontradiksi antara syirik dan kufur, sebab kekufuran memilik
berbagai macam cabang yang sangat banyak, dan kesyirikan merupakan bagian dari
cabang-cabang kekufuran tersebut yang sangat berlawanan dengan tauhid.
Kemudian sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya,
bahwa pangkal kesyirikan itu ada pada bentuk tasybih (penyerupaan
makhluk pada penciptanya). Dan bagi orang yang menta'thil, tanpa sadar dirinya
telah menyerupakan Rabbnya dengan suatu khayalan atau sebenarnya dirinya telah
menjadikan -Nya dalam bagian alam khayalan, sehingga bisa dikatakan pada
pelakunya, bahwa dirinya adalah seorang musyrik, yang menyekutukan Allah azza
wa jalla. Bila ada yang menyangkal, "Sesungguhnya kesyirikan harus berada
ditengah-tengah antara dua hal, dimana salah satu dari yang lain menjadi sekutu
(serikatnya)".
Kita katakan padanya, "Sesungguhnya kesyirikan
dengan cara menta'thil terkandung juga didalamnya bentuk mempersekutuan AllahShubhanahu wa ta’alla. Yaitu bisa dalam
bentuk kesombongan, atau dengan ajakan jiwanya untuk menjadi sekutu bagi –Nya
yaitu dengan cara memperbudak dirinya kepada hawa nafsunya". Oleh sebab itu,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam sebuah keterangan yang berkaitan
dengan masalah ini, beliau mengatakan, "Setiap orang yang sombong maka dia
adalah seorang musyrik, lihat kepada Fir'aun bagaimana dia menjadi orang yang
paling sombong untuk mau beribadah kepada Allah azza wa jalla, disamping
predikat sombong yang dikenakan, juga stempel musyrik telah melekat padanya.
Bahkan penelitian mendalam menyimpulkan bahwa setiap
orang, semakin sombong untuk mau beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’allamaka dirinya semakin jauh terjatuh ke dalam
lubang kesyirikan. Sebab setiap kali dirinya menolak untuk beribadah kepada
-Nya, akan semakin menambah kebutuhan dan kefakirannya kepada AllahShubhanahu wa ta’alla, untuk dapat
merealisasikan pada keinginan yang dicintainya, yang menjadi tujuan inti -yakni
tujuan hati- harus menggunakan tujuan pertama, sehingga dirinyamenjadi seorang
musyrik dengan sebab keingkarannya akan hal tersebut".[1]
Hal senada juga dijelaskan oleh Imam Ibnu Qoyim dalam
sebuah pernyataannya, "Salah satu diantara keduanya yaitu menyekutukan
Allah Shubhanahu wa ta’alladengan
cara menta'thil. Yang merupakan bentuk kesyirikan yang paling buruk diantara
bentuk kesyirikan yang ada, sebagaimana kesyirikan yang dilakukan oleh Fir'aun.
Kesyirikan dan menta'thil adalah dua perkara yang saling berkaitan. Maka bisa
dikatakan, setiap orang yang menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’allasama dengan mu'athil (orang yang sedang
menta'thil), demikian pula sebaliknya, setiap mu'athil pasti musyrik.
Namun, kesyirikan tidak melazimkan berada pada pokok menta'thil, karena
terkadang orang yang menyekutukan Allah Shubhanahu
wa ta’allamasih menetapkan adanya pencipta, yakni Allah Shubhanahu wa ta’allabersama dengan
sifat-sifat yang dimiliki -Nya.
Tapi, bersamaan dengan itu dirinya menta'thil
(meniadakan) hak tauhid pada -Nya. Maka kesimpulannya, pondasi kesyirikan serta
pilar yang menjadi asas sebagai tempat untuk dijadikan rujukan dalam segala hal
ialah masalah menta'thil ini".[2]Dalam
kesempatan lain beliau menjelaskan dalam bentuk qasidahnya yang isinya hampir
sama dengan pernyataan diatas, beliau mengatakan:
Ketahuilah
sesungguhnya kesyirikan dan ta'thil
Semenjak lahir menjadi dua bersaudara yang tak
terpisahkan
Setiap orang
yang menta'thil pasti menjadi musyrik
Itu
adalah kepastian yang sangat jelas
Seorang hamba
tertuntut pada dzat yang menghilangkan musibah
Serta
mencukupi segala kebutuhannya
Segala kebutuhan
dilabuhkan Kepadanya
Hanya
kepadanya tempat berlindung dari ketakutan
Jika sirna
sifat dan kemampuan untuk berbuat
Serta
ketinggian dzat atas seluruh makhluk
Niscaya orang
akan melabuhkan kepada dzat lain
Itulah
efek dari sikap mengingkari tuhan dan menta'thilnya
Ada yang
menta'thil sifat-sifatnya
Ada
pula yang meniadakan keesaannya
Semua telah
dibantah oleh para rasul
Mulai
dari Nuh hingga rasul terakhir
Manusia dalam
hal ini terbagi menjadi tiga kelompok
Tidak
ada yang ke empatnya
Salah satunya
yang suka menyekutukan Ilah
Jika
berdo'a menyeru kepada sesembahan yang lain
Inilah
pengagung berhala yang masuk dalam kategori pertama
Ada
lagi yang beribadah kepada selain Allah[3]
Berkata
Syaikh Muhammad Khalil Haras, didalam bukunya tatkala mencoba untuk menjabarkan
bait-bait diatas, "Penulis sedang menegaskan didalam lantuan bait-bait
ini, bahwasannya menta'thil dan menafikan sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’allamerupakan saudara
kembar kesyirikan dan melakukan peribadahan kepada berhala. Dimana keduanya,
semenjak muncul, keberadaannya menjadi 2 hal yang tidak mungkin berpisah.
Dan
yang terdepan ialah menta'thil yang akan mendorong untuk berbuat syirik, bahkan
konsekuensi dari setiap orang yang menta'thil, sebagaimana hal ini juga
merupakan konsekuensi dari pangkal keyakinan tersebut. Sehingga setiap mu'athil
dan orang yang ingkar terhadap sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’allamaka dia adalah seorang yang telah
menyekutukan -Nya dan sebagai penyembah thagut.
Hal
tersebut, dikarenakan setiap hamba dalam kehidupan ini menghadapi dua kondisi,
yaitu sisi yang baik maupun buruk. Sedangkan dia sendiri tidak mampu untuk
memisahkan diri untuk bisa mendapat kebaikan dengan sendirinya, atau menolak
kejelekan yang menimpanya. Oleh karena itu dia sangat butuh kepada dzat yang
mampu menolak keburukan yang akan menimpanya, dan memberi kecukupan atasnya.
Dzat tersebut sebagai tempat untuk menggantungkan segala kebutuhannya dengan
harapan nantinya akan memenuhi kebutuhannya. Dirinya akan berlindung kepadanya
dari kekhawatiran yang sedang menimpa agar melimpahkan rasa aman.
Sehingga
apabila kita menafikan sifat-sifat tuhan dan perbuatannya seperti di atas ini,
yang menjadi tujuan, demikian pula tatkala kita menafikan keberadaannya diatas
Arsynya, maka para hamba tidak memiliki sesuatu yang bisa dijadikan sebagai
tempat berlindung, bahkan mereka tidak mendapatkan apapun, karena kosong.
Akhirnya mereka meminta perlindungan kepada selainnya. Dan yang menyeret mereka
pada kesyirikan semacam ini, berawal dari menta'thil dan ingkar kepada Allah
azza wa jalla.
Maka
bagi orang yang menta'thil sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’allasesungguhnya dirinya sedang meniadakan tauhid
kepada -Nya. Dua ta'thil ini sama dengan meniadakan dua perkara yang dengannya
diutuslah para rasul, mulai dari rasul pertama yaitu Nuh 'alaihi sallam hingga
penutup para rasul yaitu Muhammad Shalallahu
‘alaihi wa sallam, disebabkan karena mengingkari dan membatalkan kedua
perkara tadi. Dan manusia dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok, tidak
ada kelompok yang keempatnya.
Pertama :
kelompok yang menyekutukan Allah Shubhanahu
wa ta’alladalam peribadahan yaitu dengan menyeru bersama -Nya sesembahan
yang lain. Dan ini merupakan kesyirikan yang paling banyak dilakukan oleh
orang-orang yang menyekutukan Allah ta'ala. Dimana mereka masih menetapkan
keberadaan Allah azza wa jalla, Dialah Maha Esa dalam rububiyah -Nya, dalam
mencipta, memberi rizki, mengurusi serta menguasainya. Akan tetapi, mereka
menyertakan sesembahan yang lain bersama -Nya dalam peribadahan yang mereka
kerjakan.
Kedua:
kelompok yang mengingkari Allah jalla wa 'ala, ingkar terhadap keberadaan -Nya,
dan sifat-sifat -Nya yang maha sempurna. Maka kelompok ini, hakekatnya tidak
menyembah AllahShubhanahu wa ta’alla,
namun sedang menyembah selain AllahShubhanahu
wa ta’alla. Karena terkumpul dalam dirinya antara menyekutukan Allah dan
menta'thilnya.
Dari
dua kelompok ini diambil dua tonggak yang dibangun diatasnya kekufuran dan
pengingkaran. Dan ini merupakan dua kelompok yang paling buruk, sebab orang
yang menyeru sesembahan lain bersama Allah Shubhanahu
wa ta’allasambil berdo'a kepada-Nya itu lebih ringan dibanding orang yang
sama sekali tidak mau berdo'a kepada -Nya, tapi menyeru kepada selain
-Nya".[4]
Selanjutnya
dalam bait syairnya Imam Ibnu Qoyim menjelaskan:
Orang yang
menafikan sifat-sifat Allah pasti melakukan kesyirikan
Dan orang yang berbuat syirik pasti sedang menafikan
salah kekhususan Allah
Atau meniadakan
sebagian kesempurnaan sifat
Oleh sebab itu, kalian jangan gegabah mengingkari
Dalam
penjabarannya dijelaskan, "Orang yang menta'thil sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’allamaka dicap sebagai
seorang musyrik, begitu pula seorang musyrik maka dicap sebagai mu'athil. Maka hendaknya perhatikan perkara ini dan
cermatilah. Dan jangan gegabah untuk menolaknya sebelum memahami dengan
baik".[5]
Kemudian Imam
Ibnu Qayim mengatakan:
Tapi, menta'thil
lebih buruk tindakannya
Dari pada perbuatan syirik secara logika dan dalil
Sebab,
seorang mu'athil hakekatnya mengingkari dzat Allah
Atau kesempurnaan yang dimiliki -Nya, dan keduanya
termasuk menta'thil
Dalam
syarhnya dijelaskan, "Maka apabila ta'thil, sebagaimana telah kami
jelaskan, sebagai saudara kandung kesyirikan serta pengikutnya, maka seorang
yang menta'thil kedudukannya lebih buruk daripada seorang musyrik, dan lebih
jelek aqidahnya dibanding seorang musyrik kepada Allah jalla wa 'ala. Tuduhan
ini bukanlah omong kosong yang sepi dari dalil, namun, ucapan ini didukung oleh
dalil dan bukti akurat.
Sesungguhnya
ta'thil terbagi menjadi dua:
Pertama:
Mengingkari Dzatnya Allah Shubhanahu wa
ta’alladan tidak mau menetapkan keberadaan -Nya. Ini termasuk paham ta'thil
yang dianut oleh sekte Dahriyah yang mengingkari adanya pencipta, dimana mereka
mengatakan, sebagaimana diabadikan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:
﴿ إِنۡ هِيَ
إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَانَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٣٧﴾ [المؤمنون:37]
"Kehidupan itu tidak lain
hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali
tidak akan dibangkitkan lagi". (QS al-Mukminuun: 37).
Kedua: Menta'thil sifat-sifat -Nya
yang maha sempurna sebagaimana telah tetap pada -Nya. Dan kedua jenis ta'thil
semacam inimengandung konsekuensi didalamnya pencemaran hakekat uluhiyah serta
celaan pada kedudukan Allah azza wa jalla".[6]
Oleh sebab itu, tatkala membicarakan ragam jenis
kesyirikan, Imam Ibnu Qayim menjelaskan, "Syirik itu terbagi menjadi dua,
syirik yang berkaitan secara langsung dengan dzat yang disembah, nama dan sifat
serta perbuatannya.Lalu yang kedua, syirik yang berkaitan dengan peribadahan
dan hubungan kepadanya.Apabila pelakunya sampai meyakini bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak mempunyai sekutu dalam dzatnya, tidak pula
dalam sifat-sifat dan perbuatan -Nya".
Hingga ucapan beliau, "Syirik jenis pertama
terbagi lagi menjadi dua, salah satunya, syirik ta'thil.Dan syirik jenis ini
termasuk yang paling buruk dan ini terbagi lagi menjadi tiga, menta'thil hasil
ciptaan dari pembuat dan penciptanya.Yang kedua, menta'thil pencipta dari
kesempurnaan yang suci, yaitu dengan menta'thil nama-nama dan sifat-sifat serta
perbuatan -Nya.Ketiga, menta'thil interaksi bersama -Nya yang wajib ditunaikan
oleh seorang hamba yang merupakan hakekat tauhid. Dan syirik jenis kedua yaitu
menyekutukan Allah Shubhanahu wa
ta’alladengan cara mengambil
tandingan bersama -Nya tanpa menta'thilnya".[7]
Hal senada juga dikatakan oleh al-Miqrizi,
"Syirik terbagi menjadi dua, syirik yang berkaitan dengan dzat yang
disembah (Allah), nama-nama dan sifat-sifat -Nya serta perbuatan -Nya.Yang
kedua, syirik yang ada pada peribadahan dan hubungan antara hamba bersama
Rabbnya.
Adapun syirik jenis pertama, maka inipun terbagi lagi
menjadi dua; Salah satunya, syirik dengan cara menta'thil, dan ini merupakan
jenis syirik yang paling jelek, seperti kesyirikan yang dilakukan oleh Fir'aun.
Dan kesyirikan seperti ini terbagi lagi menjadi tiga:
Pertama: Menta'thil hasil ciptaan
dari penciptanya.
Kedua: Menta'thil pencipta dari
sifat kesempurnaanya yang telah melekat padanya.
Ketiga: Menta'thil hubungan yang
wajib ditunaikan oleh seorang hamba dari menyempurnakan hakekat tauhid.
Dari ushul inilah pokok ideologi yang dianut oleh
paham wihdatul wujud.Begitu pula dikolaborasi oleh para atheis yang
menegaskan bahwa alam semesta sudah ada dengan sendirinya serta abadi tanpa
mengalami kehancuran pada hari kiamat. Bercabang pula dari ushul ini kesyirikan
yang muncul dari mu'athilah yang meniadakan nama-nama dan sifat-sifat AllahShubhanahu wa ta’alla, semisal sekte Jahmiyah, Qaramitah dan Mu'tazilah
yang berpaham ekstrim.
Sedangkan yang kedua: Syirik dengan cara menyerupakan.
Syirik ini banyak dianut oleh orang yang menjadikan sekutu bersama -Nya dengan mengambil sesembahan yang lain.
Semisal, kesyirikan yang dilakukan oleh Nasrani terhadap Isa putera Maryam,
Yahudi terhadap Uzair, Majusi yang membikin statmen penyandaran kejadian baik
terhadap cahaya dan kejadian buruk kepada kegelapan.Dan kesyirikan yang
dilakukan oleh Qadariyah dan Majusiyah berkisar pada hal ini".[8]
Dari penjelasan ini kita menjadi paham bahwasannya
ta'thil termasuk perbuatan menyekutukan AllahShubhanahu wa ta’alla. Bahkan
para ulama memasukan dalam jenis kesyirikan yang paling buruk.Dengan melihat
pada cabang-cabang jenis kesyirikan ini dan keberadaanya pada zaman modern ini
maka pembahasan kita akan lebih terfokus pada beberapa perkara, yaitu:
Pertama: Penjelasan tentang syirik
dalam rububiyah dengan cara menta'thil hasil ciptaan dari pencitpanya.
Kedua: Penjelasan tentang syirik
dalam rububiyah dengan cara menta'thil pencipta (Allah) dari kesempurnaan yang
maha suci, yaitu dengan menta'thil nama, sifat dan perbuatan -Nya.
Ketiga: Penjelasan tentang syirik
dalam rububiyah dengan cara menta'thil kewajiban yang harus ditunaikan oleh
seorang hamba dari menyempurnakan hakekat tauhid.
Maka paragraf-paragraf berikut ini sebagai bentuk perincian dari
masing-masing sub pembahasan tadi, yang akan kita studikan dalam pembahasan
yang lebih terfokus lagi, berikut penjelasannya:
Pertama: Penjelasan tentang syirik dalam rububiyah dengan cara
menta'thil hasil ciptaan dari pencitpanya.
Sebagaimana telah kita sebutkan sebelum ini, bahwa
jenis kesyirikan semacam ini tidak lah banyak dianut oleh umat manusia
melainkan segelintir saja dari kalangan bani Adam dari zaman dahulu kala.Dan
tidak ada yang mendorong mereka untuk ingkar kepada Allah ta'ala dalam perkara
ini melainkan karena kesombongan dan sikap keras kepala yang mereka lestarikan
tanpa ada bukti dan dalil yang mendukungnya. Seperti yang Allah ta'ala singgung
didalam firman -Nya:
﴿وَمَالَهُم
بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّايَظُنُّونَ ٢٤﴾ [ الجاثية: 24]
"Dan mereka sekali-kali
tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja". (QS al-Jaatsiyah: 24).
Dan sebelumnya pula, telah kami nukilkan tentang
beberapa kelompok yang terkenal menganut pada paham kesyirikan jenis ini dari
kalangan bani Adam serta orang-orang yang terpengaruh dengan ideologinya orang
Jahiliah pada pembahasan yang lalu.Sehingga tidak pernah terlintas dalam benak
seseorang adanya kesyirikan jenis ini didalam tubuh umat ini (umat dakwah),
karena banyak sekali prasarana ilmu yang bisa mendorong mereka untuk mengetahui
dan sampai pada keimanan.Akan tetapi, sangat disayangkan ternyata kesyirikan
jenis ini justru banyak didapati dikalangan generasi umat ini, mereka telah
terjatuh didalamnya. Berikut akan saya sebutkan beberapa kelompok yang memiliki
paham syirik jenis ini, pada materi berikut:
Pertama: Ideologi Komunis.
Ideologi yang dipegang oleh orang komunis, salah
satunya ialah mengingkari keberadaan Allah azza wa jalla dan segala perkara
gaib, mereka juga mengatakan bahwa material adalah asas terwujudnya segala
benda dan perkara. Dan di antara semboyan dan syiar mereka ialah kami mengimani
tiga perkara, Marks, Lenin dan Stalin. Kami juga mengingkari tiga hal, adanya
AllahShubhanahu wa
ta’alla, agama dan kekuasaan khusus
-sungguh ucapan yang penuh dengan kesombongan dan kedustaan-.
1.
Kerancuan
ideologi komunis secara global serta bantahannya.
Jika kita perhatikan kerancuan
ideologi komunis dalam keyakinan atheis yang dianutnya maka bisa kita simpulkan
sebagai berikut:
1.
Ucapan
mereka yang mengatakan, azalinya sebuah material atau alam, yang dikatakan
keduanya memiliki sifat abadi. Karena segala wujud benda, apapun jenisnya merupakan
hasil dari kumpulan sebuah material.
2.
Keyakinannya,
adanya evolusi pada benda atau perkembangan material yang akhirnya membentuk
sebuah kehidupan.
3.
Pendapatnya
yang mengatakan bahwa adanya alam semesta ini hanya kebetulan saja.
Kerancuan-kerancuan seperti tadilah yang banyak
dipegang oleh paham komunis sebagai usaha untuk mengingkari Allah azza wajalla.
Berikut ini akan kami paparkan syubhat-syubhat mereka satu persatu dengan dalil
yang mereka pegangi, dibarengi dengan bantahan atas kerancuan tersebut,
sehingga kita bisa lebih yakin insya Allah.
Syubhat pertama: Ucapannya yang mengatakan bahwa material adalah
bersifat azali dan kekal abadi.
Sebelum kita masuk dalam bantahan atas syubhat mereka
ini, maka ada baiknya kita terangkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan
material (unsur sebuh benda ini), serta sifat yang diberikan oleh mereka,
sehingga kita mampu menjawabnya secara detail tanpa menyisakan celah sedikitpun
bagi mereka untuk berkelit.
Definisi Maadah (material, unsur benda, elemen)
menurut Stalin:
Stalin memberikan definisi kepada ini dengan ucapannya, "Dia adalah
ucapan yang diadopsi dari filsafat yang digunakan untuk mendefinisikan hakekat
suatu masalah yang diberikan oleh manusia untuk menentukan detailnya, baik
dalam penukilan, gambaran, ilustari, atau sinonim yang ada pada suatu benda
dengan memberikan ilustrasi bebas yang bisa dipahami oleh panca indera".[9]
Atas dasar definisi ini, yang dianggap oleh mereka
cukup mewakili deskripsi kata Maadah secara sempurna, untuk menjelaskan
seluruh pengertian setiap wujud benda, semisal bunga, rumah, pohon, atau yang
lainnya -sebab setiap benda yang ada wujudnya tentu ada pengertiannya-, di sini
kata Maadah didefinisikan secara khusus yang dapat diketahui sebelum
melihat dan merasakan efeknya. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa ilmu
filsafat adalah sebuah metode yang mempelajari pengertian dan definisi suatu
kata atau benda secara mendalam dan sempurna hingga pada pengertian yang paling
rinci sekalipun.
Dalam definisi diatas, secara bebas bisa dipahami
bahwa hasil studi menyimpulkan secara defakto kalau kata ini adalah kata yang
diadopsi dari ucapan ahli filsafat. Dan sebagaimana kata Maadah ini
dipelajari secara sempurna hingga pada pengertian yang paling rinci sekalipun,
tapi tetap menunjukan bahwa asas ini dibikin dengan cara mengadopsi dari
ucapannya ahli fisafat. Fungsi dari ilmu ini ialah mendefinisikan hakekat
sebuah masalah.Yakni hakekat wujud suatu benda yang bersifat jasmani bukan yang
bersifat konsepsi, yaitu benda yang mampu memberi efek langsung pada anggota
inderawi manusia dan bisa dirasakan oleh panca indera.
Jika demikian pengertiannya maka akal pikiran adalah
lawan dari material yang berada pada otak manusia. Yang bisa digunakan untuk
berfikir tentang apa itu maadah yang bertolak belakang dengannya, dan
sebelum pemantulan maadah ini menuju otak tentu tidak ada yang namanya
sebuah pemikiran. Maka kesimpulannya maadah ialah perkara yang lebih
dahulu ada dari pada pemikiran, ini semua menurut mereka.[10]
Setelah kita mengetahui arti maadah ini yang
memberi sinkronisasi –menurut mereka- lebih dahulu ada sebelum munculpemikiran,
berikut akan saya nukilkan pendapat mereka berkaitan dengan azaliyahnya maadah
dan abadinya. Orang-orang yang berpaham materialisme mengatakan, "Maka
dengan ini, tidak ada bagi alam semesta ini kata berakhir tidak pula mempunyai
batasan. Jagad raya adalah sebuah alam yang kekal abadi tidak mempunyai waktu
permulaan dan tidak akan mengalami waktu berakhir, dari sini, bisa disimpulkan
bahwa setiap alam gaib (supranatural) maka tidak termasuk dalam deretan sifat
duniawi sehingga tidak ada dan tidak mungkin pernah ada.
Dalam fenomena nyata, jika tidak ada suatu benda pun
melainkan dari unsur materi, maka tidak dijumpai lagi selain dunia yang
bersifat materi, ini berarti menunjukan, bahwa ketika ada wujud suatu benda dan
bentuk yang berbeda-beda di alam yang mengitari kita maka disana ada kekhususan yang menyatu
menjadi satu yaitu tinggal tersisa materinya".[11]Maka, tidak ada sesuatu –mengikut pada ungkapan
mereka- kecuali tinggal dunia materi.Tidak mungkin ada disana yang dinamakan
dengan alam untuk arwah atau hari akhir, sebagaimana dibawa oleh kebanyakan
ideologi agama samawi.
Seorang manusia, menurut pandangan mereka, tercipta
dari hasil gugusan materi semata, tidak lebih daripada itu, dan unsur benda
yang bernama material inilah yang telah membentuk dan menciptakan dirinya.Maadah
ini mempunyai sifat-sifat khusus yang dimiliki oleh pencipta, dan tidak ada
disana yang dinamakan dengan dunia gaib, karena alam semesta terbatas pada
material yang bisa ditangkap oleh indera.
Bahkan, tidak cukup sampai disitu mereka mengingkari
keberadaan Allah Shubhanahu wa ta’alla,
mereka begitu keblinger sampai mengatakansecara terang-terangan bahwa
keberadaan Allah Shubhanahu wa ta’allahanyalah
hasil kreasi khayalan manusia. Masalahnya bukan pada masalah keberadaan -Nya,
namun, pangkal masalahnya ada pada pemikiran ada tidaknya AllahShubhanahu wa ta’alla.[12]
Dari sini kita mengetahui, bahwa prinsip dasar yang
menjadi pijakan mereka yaitu bahwa Allah Shubhanahu
wa ta’allatidak mampu memberi efek apapun, dan provokasi perdebatan yang berkaitan
dengan wujudnya Allah Shubhanahu wa
ta’allamenjadi perkara yang tidak berfaedah sama sekali, disebabkan mereka
punya satu standar pemikiran yang tidak mungkin berubah yaitu bahwa dibelakang
alam materi adalah khayalan dan omong kosong belaka.
Maadah ini
adalah pokok segala sesuatu, terkadang datang bermakna naturalisme sebagaimana
natural itu sendiri bermakna maadah.Adapun ucapan mereka tentang
langgengnya material, maka mereka memberi teori dengan pernyataannya,
"Sesungguhnya di alam ini tidak ada yang mampu menimbulkan sesuatu yang
tidak ada, tidak bisa melahirkan (sesuatu) selama-lamanya tanpa ada efek yang
bisa dirasakan, jika perkaranya seperti itu maka maadah atau alam itu
akan senantiasa ada selama-lamanya.
Karena, misalkan benar bahwa suatu ketika ada suatu
masa yang dimana tidak dijumpai lagi sesuatu apapun di alam ini, yakni tidak
dijumpai adanya unsur benda, lalu dari mana unsur benda itu muncul? Akan tetapi,
tidak mungkin unsur benda itu hilang, ini berarti bahwa unsur benda tersebut
tidak muncul pada suatu waktu, namun, dirinya senantiasa ada dengan sendirinya,
dan akan tetap ada dan kekal abadi.Oleh sebab itu material ini tidak mungkin
diciptakan, dan tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak akan binasa,
berdasarkan hal ini maka material tidak mungkin diciptakan selama-lamanya,
justru dirinya ada dan akan senantiasa ada, itulah yang dinamakan kekekalan
abadi".[13]
Intinya, materi adalah unsur benda yang kekal
abadi.Tidak diciptakan dari materi yang tidak ada sebelumnya, sebab tidak
mungkin ada materi yang diciptakan dari unsur yang tidak bisa punah.Oleh
karenanya tidak boleh mempersoalkan tentang permulaan material dan kapan
berakhirnya, sebab efeknya bisa dirasakan secara jelas.Demikian pula gerakan
juga mustahil diciptakan dan musnah, karena hasil dari produksi unsur benda.
Fredrick Angel mengatakan, "Unsur benda tanpa
gratifitas adalah perkara yang tidak bisa dicerna oleh akal, begitu pula
sebaliknya.Jadi, gratifitas merupakan perkara yang mustahil diciptakan diluar
unsur benda dan bisa sirna sebagaimana unsur benda ini, juga mustahil dengan
sendirinya diciptakan dan musnah".[14]
Bantahan atas syubhat ini:
Sebelum kita mulai membantah syubhat mereka, saya
ingin menyampaikan disini tentang asas pemikiran mereka yang dijadikan sebagai
pijakan tentang teori maadiyah (materialisme) ini.Sesungguhnya asas
pemikiran konsep materialisme ini yang diusung oleh paham komunis berada pada
pembatasan definitive konsep maadah tadi.
Pemikiran ini, walaupun tumbuh dan berkembang di
masyarakat Eropa pada abad ke tujuh belas, namun ternyata ini adalah sebuah
pemikiran lawas yang pernah dicuatkan oleh anak manusia pada zaman dahulu kala
semenjak munculnya penyelewengan aqidah pada umat manusia. Sehingga bisa
disimpulkan bahwa pemikiran ini merupakan buah adopsi dari paham lama yang
diusung oleh kelompok materialisme dan atheisme pertama yang mengusung
pemikiran ingkar terhadap hari kebangkitan dengan menisbatkan kematian pada
masa sebagai ganti penisbatan pada Allah ta'ala, hal ini, sebagaimana di
isyaratkan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:
﴿وَقَالُواْ
مَاهِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّاٱلدَّهۡرُۚ٢٤﴾ [الجاثية: 24]
"Dan mereka berkata:
"Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan
kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". (QS
al-Jaatsiyah: 24).
Begitu juga, kebanyakan para penentang rasul adalah
orang-orang yang menganut paham materialisme. Oleh karena itu, engkau bisa melihat bagaimana mereka begitu ambisius
dalam meraih materi lalu mengingkari adanya hari kebangkitan serta hari kiamat.
Mereka berpikiran bahwa ganjaran yang akan diperoleh oleh anak manusia hanya
terbatas pada kenikmatan mereka menikmati perhiasan dunia semata. Sinyalemen
itu bisa kita tangkap dari firman Allah Shbhanahu
wa ta’alla berikut ini, Allah mengatakan:
﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا
فِي قَرۡيَة مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُمبِهِۦ
كَٰفِرُونَ٣٤ وَقَالُواْ نَحۡنُ أَكۡثَرُ أَمۡوَٰلا
وَأَوۡلَٰدا وَمَانَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ٣٥﴾ [ سبأ: 34-35]
"Dan Kami tidak mengutus
kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang
hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya Kami mengingkari apa yang
kamu diutus untuk menyampaikannya". Dan mereka berkata: "Kami lebih
banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali
tidak akan diazab". (QS Saba': 34-35).
Begitu juga bisa kita tangkap didalam firmanNya yang
lain, Allah mengatakan:
﴿ أَيَعِدُكُمۡ
أَنَّكُمۡ إِذَامِتُّمۡ وَكُنتُمۡ تُرَابا وَعِظَٰمًا أَنَّكُم مُّخۡرَجُونَ ٣٥ ۞هَيۡهَاتَ
هَيۡهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ ٣٦ إِنۡ هِيَ إِلَّاحَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا
وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٣٧﴾ [ المؤمنون: 35-37]
"Apakah ia menjanjikan
kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan
tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu). Jauh, jauh
sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu. Kehidupan itu
tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan
sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi". (QS al-Mukminuun: 35-37).
Sebagaimana yang diabadikan oleh al-Qur'an tatkala mengkisahkan ucapan
kelompok materialisme diawal-awal munculnya agama Islam. Allah ta'ala
mengatakan:
"Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak
percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau
kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai
di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping
atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan
malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami, atau kamu mempunyai sebuah rumah
dari emas, atau kamu naik ke langit, dan kami sekali-kali tidak akan
mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang
kami baca". Katakanlah: "Maha suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya
seorang manusia yang menjadi rasul?". (QS al-Israa': 90-93).
Sungguh al-Qur'an telah menjelaskan, bahwa tuntutan
yang diminta oleh pemilik paham materialisme sebagai ganti mau membenarkan
ajaran yang dibawa oleh rasul terakhir bukanlah perkara aneh yang belum pernah
terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Namun, kejadiannya hampir sama
dialami oleh para penggemban risalah pada umat-umat dahulu. Hal ini bisa kita
lihat dari firman Allah Ta’ala yang mengkisahkan hal tersebut. Allah ta'ala
berfirman:
"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata:
"Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang
tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" demikian pula orang-orang yang
sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka
serupa". (QS al-Baqarah:
118).
Maksudnya, hati-hati kaum musyrikin Arab serupa dengan hati-hati yang dimiliki
oleh orang kafir sebelum mereka yang keras kepala. Begitu juga Allah Shbhanahu wa ta’allasinggung didalam
firman -Nya:
﴿يَسَۡٔلُكَ
أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيۡهِمۡ كِتَٰبا مِّنَ ٱلسَّمَآءِۚ فَقَدۡ سَأَلُواْ
مُوسَىٰٓ أَكۡبَرَ مِن ذَٰلِكَ فَقَالُوٓاْ أَرِنَا ٱللَّهَ جَهۡرَة فَأَخَذَتۡهُمُ
ٱلصَّٰعِقَةُ بِظُلۡمِهِمۡۚ ١٥٣﴾ [النساء: 153]
"Ahli kitab meminta kepadamu
agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya
mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata:
"Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar
petir karena kezalimannya". (QS an-Nisaa': 153).
Hal senada juga Allah Shbhanahu wa ta’allasebutkan dalam firman -Nya yang lain, yang
bebunyi:
﴿كَذَٰلِكَ
مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ
٥٢ أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡم طَاغُونَ ٥٣﴾ [ الذريات: 52-53]
"Demikianlah tidak seorang
Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka
mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila".
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. sebenarnya mereka
adalah kaum yang melampaui batas". (QS adz-Dzariyaat: 52-53).
Pola pikir mereka semua sama, ucapan generasi belakangan sama persis
dengan ucapan para pendahulunya tak ada yang berbeda. Yang nampak secara
dhohir, bahwa konsep mereka lebih menitik beratkan pada materi, dan mengingkari
sesuatu yang tidak bisa diraba dan dilihat. Mereka tidak pernah mengenal yang
namanya rasa puas dan cukup.[15]
Tapi, jika diperhatikan secara seksama ada beberapa
sisi perbedaan antara atheis zaman dahulu dengan atheis di era modern zaman
sekarang. Diantara yang paling mencolok yaitu:
Pertama: Yang dimaksud dengan atheis
ialah paham yang asasnya mengingkari keberadaan Allah Shbhanahu wa ta’allasecara mendasar -inilah arah pemikiran mereka
yang paling jelas yang banyak dianut oleh orang atheis era modern sekarang-,
yang justru tidak nampak secara mencolok dan menyebar secara luas pada orang
atheis zaman pertama. Tapi, yang populer atheis mereka lebih pada makna
kesyirikan yaitu dengan memberikan kekhususan uluhiyah kepada selain Allah azza
wa jalla. Lalu menyekutukan –Nya bersama sesembahan yang mereka jadikan sebagai
sekutu bagi Allah ta'ala.
Memang benar kalau atheis dahriyah pahamnya sudah
sangat tua dan sudah ada pada masa lampau –sebagaimana kami isyaratkan diatas-
tapi, mereka sangat sedikit, boleh dibilang minoritas plus ditambah perbedaan
pendapat yang ada ditengah-tengah mereka dalam masalah ini. Dan kelompok
tersebut bisa diklasifikasikan menjadi dua aliran[16]:
Pertama: Ahli filsafat yang beraliran
atheis ingkar tuhan. Yang mengatakan kekalnya alam semesta. Diantara tokohnya
adalah Aristoteles dan para pengikutnya. Mereka tidak pernah mengatakan, bahwa
unsur benda dialah yang menciptakan, tapi yang ada mereka menetapkan bagi jagad
raya ada penyebab yang menjadikan terbentuk serupa dengan alam semesta[17].
Kedua: Ahli filsafat yang beraliran dahriyah atheis atau sering di istilahkan
dengan nama filsafat alam. Kelompok inilah yang ucapannya di nukil oleh Allah
didalam firman -Nya:
﴿ وَقَالُواْ
مَاهِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا
ٱلدَّهۡرُۚ ٢٤﴾ [الجاثية: 24]
"Dan mereka berkata:
"Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan
kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". (QS
al-Jaatsiyah: 24).
Paham ini hampir mirip pada beberapa sisi dengan paham
komunis yang ada di era sekarang. Dan ucapan mereka telah dibantah secara
langsung oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:
﴿وَمَالَهُم
بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّايَظُنُّونَ ٢٤﴾ [ الجاثية: 24]
"Dan mereka sekali-kali
tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja". (QS al-Jaatsiyah: 24).
Maksudnya, mereka hanya menerka-nerka saja serta mengkhayalkannya. Paham
mereka ini sama sekali tidak disandarkan pada bukti dan ilmu yang yakin, tapi,
hanya sekedar praduga saja dan terkaan belaka[18].
Akan tetapi, ideologi komunis yang ada dewasa ini,
walaupun mempunyai sisi kesamaan dari pola pikir yaitu dari segi ingkar
terhadap tuhan, namun, mereka memiliki perbedaan mencolok pada beberapa sisi
dengan yang pertama -sebagaimana nanti akan kita jelaskan-.
Kedua: Paham atheis yang ada pada
zaman ini ialah paham yang asasnya didasari dengan ingkar pada keberadaan AllahShbhanahu wa ta’alla. Sebuah ideologi
baru yang menyebar secara luas pada era modern ini di negeri-negeri Eropa
sebagai pola pikir baru, lalu dilanjutkan dengan adanya Negara yang menjadikan
sebagai ideologinya, dan negara yang turut serta mengkampanyekannya. Bahkan,
mereka memerangi negeri-negeri Islam hingga ada sebagian mereka yang berteriak
lantang untuk mengkampanyekan dan menyebarkan pemikiran sesatnya tersebut.
Ketiga: Sesungguhnya paham atheis
yang ada pada zaman ini, menggunakan sarana ilmu pengetahuan modern. Dengan
klaim bahwa hal tersebut lebih ilmiah dan semakin mendukung riset ilmu
pengetahuan.
Hal itu, dikarenakan pakaian yang dikenakan oleh
penganut paham materialisme, baik generasi pertama maupun yang ada pada era modern
sekarang ini ialah sama yaitu sama-sama tertumpu pada materi sebagai elemen
yang bisa dilihat dan diraba bukan suatu hipotesa yang sulit diraba. Sehingga
mereka meletakan pola pikir ilmiah untuk menggambarkan sesuatu yang bisa
diletakan pada ruang uji coba, yang semua bisa dibuktikan dengan analisis. Dan
sebaliknya, sesuatu yang tidak bisa diangkat dalam ruang uji coba maka tidak
dinamakan sebagai ilmu pengetahuan, menurut mereka.
Dari situlah mereka berusaha menjauhkan
prinsip-prinsip agama dan perkara gaib dari forum kajian dan penelitian ilmiah,
dikarenakan tidak adanya bukti akurat menurut mereka.Bahkan perkaranya lebih
lanjut dari sekedar itu, dimana bagi sebagian besar ilmuwan Eropa meyakini
bahwa agama tidak lebih dari khurafat, sehingga mereka menolak mentah-mentah
keyakinan iman kepada AllahShbhanahu wa
ta’alla dengan argumen ilmu pengetahuan telah menolaknya.
Mereka membenci para juru dakwah secara khusus dan
pada agama Islam secara umum, bahkan ideologi dan pemikiran ini perkaranya
sampai pada tingkatan menjadi modul pada kebanyakan universitas-universitas di
negeri Islam, terkadang memakai istilah filsafat, atau geologi, atau ekonomi
modern dan yang lainnya.[19]Pola pikir diatas barangkali bisa kita bantah menjadi
beberapa poin, diantaranya:
1.
Kurang
konsisten pada metodologi tertentu.
Ini bisa ditinjau dengan
berbagai alasan, diantaranya yaitu:
·
Plin-plan
dalam memberi definisi kepada kata maadah (material).
Sebelumnya telah kita nukilkan
definisi maadah, mengacu pada pengertian yang mereka buat. Yang akhirnya
definisi tersebut juga diamini oleh orang komunis, tapi kemudian mereka meralat
kembali definisi tersebut sambil mengatakan, "Yang dimaksud dengan maadah
ialah benda abstrak diluar kekuatan energi".
Coba bandingkan dengan ucapan
mereka sebelumnya, tatkala memberi definisi maadah ini, awalnya mereka
mendefinisikan maadah dengan, "Segala sesuatu yang bisa ditangkap dengan
panca indera". Mereka membatasi elemennya hanya terbatas pada empat
perkara, yaitu, air, angin, tanah dan api.
Ketika didebat, maka orang
yang berpaham materialisme biasanya akan memukul meja dengan tangannya secara
kasar, untuk menjelaskan teorinya yang bisa diraba, atau menginjak tanah dengan kakinya, sembari
berkata pada orang yang mendebatnya, "Inilah hakekat (benda), yang bisa
saya tangkap melalui indera saya, dengan tangan, kaki, atau yang saya lihat
melalui kedua mataku, atau yang saya dengar lewat kedua telinga".[20]
Kemudian setelah riset-riset
ilmiah semakin berkembang, penelitian dan ilmu uji coba terus menyebar pada era
belakangan ini, yang dibarengi dengan menyebarnya pula hukum-hukum gratifasi
benda dan cahaya, serta konsep-konsep lainya yang lebih dikenal dengan hukum
positif.
Dimana ilmu sains modern lebih
maju daripada ilmu pengetahuan yang hanya sekedar mengandalkan daya tangkap
panca indera, sampai akhirnya ditemukan dalam riset ilmiah mereka tentang
molekul terkecil yaitu atom.
Hal itulah yang mendasari
mereka untuk segera meralat ungkapan dalam mengistilahkan kata maadah
yang sebelumnya mereka jadikan sebagai pegangan, mereka meralat definisi maadah
menjadi, "Benda abstrak diluar kekuatan energi.[21]
·
Mereka
meralat kalau material sudah lebih dahulu ada dari pada sebuah pemikiran.
Pada awalnya orang-orang
komunis mengatakan bahwa material sudah lebih dulu ada dari pada pikiran.
Tujuan yang ingin mereka capai dari konsep ini ialah mengingkari
perkara-perkara gaib karena termasuk perkara yang teorisme. Makanya dikatakan
maadah sudah lebih dulu ada daripada teori. Sehingga jangan memikirkan tentang
maadah, karena asalnya adalah maadah.
Akan tetapi mereka buru-buru
meralat pernyataan tersebut yang mengatakan maadah lebih dahulu ada daripada
teori.
Para pengamat pemikiran
Markisme dalam penyimpulan asas pemikirannya mengatakan, "Sesungguhnya
pergerakan otak atau pikiran secara khusus, lebih istimewa daripada sebuah
materi. Akan tetapi, keistimewaannya tidak dalam bentuk dan dari bentuk unsur
benda.
Pada pokok permasalahan ilmu
filsafat menentang adanya pikiran itu sama seperti menolak adanya maadah, dan
menentang adanya roh sama seperti menolak fisika. Maka yang dimaksud dengan
maadah ialah segala benda yang ada diluar konteks akal pikiran serta tidak
terhenti pada akal saja. Oleh sebab itu, suatu kekeliruan besar jikaberanggapan
bahwa pikiran termasuk bagian dari maadah, pada waktu yang bersamaan bisa
dianggap bahwa tauhid berada pada pemikiran dan maadah, dari prinsip-prinsip
materialisme yang komprehensif".[22]
Jadi, orang-orang komunis
telah mensifati sendiri konsep materi pada abad kesembilan belas yang menjadi
tonggak berdirinya paham Markisme dan Komunisme yang dibangun diatas
pondasinya, dimana mereka menyamakan antara konsep materi dan teori. Menganggap
bahwa teori adalah bentuk perkembangan dari bentuk-bentuk materi sebagai akibat
dari pantulan pertengahan materi. Mereka mensifati ucapan ini sebagai prinsip
yang komprehensif.
Dari sini kita bisa melihat,
bagaimana bentuk plin-plannya mereka didalam mendefinisikan pikiran (teori),
sebagian mereka menganggap bagian dari materi, sebagian lain memasukan pada
gabungan antara materi dan pikiran, dan menganggapnya sebagai definisi yang
paling universal. Sekarang kita ingin bertanya pada kalian, "Mana yang
benar menurut kalian tentang masalah ini? Apakah keduanya hakekatnya satu, atau
keduanya mempunyai perbedaan?
·
Mereka juga
meralat ucapannya jika material sebagai asal segala sesuatu.
Yaitu, tatkala di abad kedua
puluh muncul ledakan atom, dan ilmuwannya berusaha merubah maadah menjadi alat
kekuatan, sehingga membuka pada masalah ini definisi-definisi baru tentang
maadah. Diantaranya, dikatakan maadah hanya partikel-partikel energi yang
berbeda-beda. Sebagian ulama mereka mengatakan, "Sesungguhnya maadah
susunan dari proteinesme dan elektronisme. Maksudnya lemak yang dihasilkan dan
diperoleh dari proses pembakaran".
Manakala pengertian maadah
berubah maka mereka berpendapat tidak benarnya ucapan bahwa maadah sebagai asas
dari segala sesuatu. Bahkan, telah berhasil diungkap belakangan ini bahwa
material pada dasarnya ialah energi dengan elemen khusus yang dimilikinya
sehingga membentuk sebuah material kecil.
Sehingga mereka mengatakan,
"Bagaimana perkaranya? Bisa kita katakan tentang material pengertianya
telah berubah pada energi yang menjadi sumber material tersebut". Itulah
yang dilakukan oleh Lenin.[23]
Dari
pemaparan diatas berkaitan dengan definisi material, dan nukilan ucapan-ucapan
mereka yang berkaitan denganya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa material
yang dikatakan oleh orang komunis dan atheis, yang dengan teori tersebut mereka
membangun asas pemahamannya, definisinya telah berubah total. Hingga tidak
masuk dalam pengertian yang komprehensif yang dahulunya orang-orang komunis
begitu mendewakannya. Sebab material pada abad kedua puluh telah berubah
menjadi sebuah energi (yaitu atom, sebagai elemen benda yang terkecil).
Sebagaimana
telah diumumkan belakangan ini hasil riset yang telah ditemukan kepada publik,
bahwa suatu benda keras yang kita sentuh dan lihat tidak lain adalah susunan
dan kumpulan dari pembakaran energi dan elektronik.[24]Bahkan dunia material yang terkumpul di sebuah gunung,
sungai, tanah, pohon dan seterusnya yang bisa kita saksikan melalui panca
indera kita, semuanya merupakan partikel-partikel kecil yang tertahan dari
cahaya elektronik kecil yang senantiasa bergerak.
Dengan
ini kita telah menyelesaikan bantahan yang mengatakan bahwa material merupakan
asal dari segala benda, yang dengan sendirinya sebagai kritikan atas ucapan
mereka tentang azaliyah dan abadinya sebuah materi.
2.
Tidak
adanya bukti autentik yang mendukung akan kelanggengan dan azaliyahnya materi.
Sesungguhnya
orang-orang atheis tatkala diarahkan pertanyaan pada mereka –yang menjadi
tantangan bagi mereka- siapa yang menciptakan material? Maka mereka akan
menjawab, "Sesungguhnya ilmu pengetahuan menetapkan bahwa material telah
ada semenjak dahulu kala". Kita mengarahkan pertanyaa kepada mereka tentu
harus ada jawaban untuk mendukung dan membuktikan klaim tersebut. Yaitu, mana
dalil ilmiah autentik yang membuktikan kebenaran pendapat kalian kalau partikel
materi sudah ada semenjak zaman dahulu kala.
Semua
yang kalian sebutkan berkaitan dengan dalil-dalil yang kalian klaim bahwa
partikel lebih dahulu dari pikiran, serta mengatakan partikel tidak diciptakan
dari sesuatu. Sehingga sampai pada kesimpulan sesuatu yang tidak mungkin musnah
tentu tidak perlu diciptakan.
Inilah
tiga syubhat yang didengung-dengungkan oleh mereka, yang bila diperhatikan
tidak ada melainkan terkaan dan persangkaan yang tidak dibangun diatas satupun
dalil autentik yang ilmiah.Bagaimana mungkin kalian mau mempercayai dengan teori-teori
semacam ini sedangkan kalian sendiri membangunya diatas terkaan dan persangkaan
belaka, lalu kalian menolak mengimani adanya pencipta yang maha pencipta
sedangkan efeknya bisa dirasakan secara jelas dan gamblang!
3.
Kontradiksinya
metode komunis dengan metodologi ilmiah.
Yaitu,
bahwa filsafat yang dianut paham materialisme ialah filsafat ilmiah semata yang
selaras dengan seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Dan diantara tugas metedologi
ilmu sains –sebagaimana ma'ruf- hanya terbatas pada dunia partikel saja, tidak
lebih menjerumus pada pembahasan dibelakangnya, sebab sarana yang dijadikan
sebagai sandaran hanya riset dan ingkar kepada AllahShbhanahu wa ta’alla. Ini merupakan sarana dangkal yang menjadikan
sulit bagi mereka untuk mengetahui siapa pencipta dibalik dunia material.
Terlebih
lagi, sarana yang mereka tempuh ini tidak punya kekuatan untuk menafikan atau
menetapkan. Maka kewajiban bagi Markisme dan Komunisme untuk konsisten didalam
memegang metodologinya jangan kebablasan, seharusnya mereka lebih fokus pada
studi dan riset tentang dunia materi dan mengabaikan yang lain, akan tetapi,
mereka menjeburkan diri pada perkara yang berada diluar kapasitasnya dan
jalurnya. Yaitu masuk dalam alam gaib, tapi, mengingkari keberadaan Allah azza
wa jalla.
4.
Kontradiksi
konsep material -yang diklaim oleh mereka azali- dengan kekhususan yang
dimiliki oleh benda azali yang telah diketahui oleh semua orang yang berakal,
dan tentunya oleh orang-orang komunis.
Sesungguhnya
sifat azali (yaitu kekekalan benda tanpa disertai permulaan. Pent) sebagaimana
telah disepakati oleh semua orang yang berakal harus terpenuhi beberapa syarat
berikut:
Pertama: Keberadaan dzatnya harus sesuai dengan dzatnya.
Artinya, dia tidak membutuhkan pada keberadaan, wujudnya, dan keberlangsungannya
dari benda lain, dirinya tidak bisa dipengaruhi oleh benda lain, baik dari segi
yang menjadikan dirinya ada, atau merubahnya menjadi benda lain, atau
menjadikan dirinya sirna.
Kedua: Hendaknya sudah ada lebih dahulu tanpa didahului
dengan permulaan, sebab jika dia didahului dengan permulaan, dirinya akan
berubah menjadi sesuatu yang baru yang tadinya tidak ada, sehingga gugur
stempel azaliyah pada dirinya.
Ketiga: Hendaknya dia tetap awet tanpa mengalami kepunahan.
Sebab kalau dirinya mempunyai batas, maka ini tentunya menunjukan adanya pihak
lain yang menjadikan dirinya bisa sirna.
Dan
orang-orang materialisme secara umum menyepakati syarat-syarat wajib ini, untuk
mengatakan suatu benda azali. Akan tetapi, mereka berusaha berpaling ketika
mengaplikasikan kepada material, dimana mereka tetap ngotot kalau material
mempunyai sifat azali[25]. Apakah memang betul kalau material seperti yang
mereka sangka itu? Berikut jawabannya, yang ada pada poin atas jawaban syubhat
mereka yang kelima dan setelahnya.
5.
Bukti
autentik menjelaskan, bahwa alam semesta dan material adalah seuatu yang baru.
Bukti-bukti ini, barangkali
bisa kita gabungkan menjadi dua bagian:
Kelompok
pertama: Bukti-bukti akal yang digunakan oleh ahli filsafat kuno.
Pokok
dalil ini ialah menetapkan kejadian baru bagi semesta alam dengan menggunakan
perubahan yang nampak jelas bagi benda-benda yang ada diatasnya. Hal tersebut,
karena perubahan termasuk bentuk kejadian baru bagi rupa, fisik, dan sifat. Dan
kejadian baru ini harus ada alasan mendasar yang jelas, dan alasan-alasan ini
yang senantiasa bersambung bagi perubahan-perubahan yang ada pada akhirnya akan
mengantarkan pada satu titik yang dengannya akan menguatkan bagi kita bahwa
alam semesta ada awal permulaannya dari segi sifat ataupun hamparanya sangatlah
luas, dari sisi dzat ataupun partikelnya.
Dan
tatkala kita telah sampai pada hakekat ini tentunya kita semakin kuat
menetapkan bahwa disana ada pencipta yang punya sifat azali –yang tidak boleh
disifati dengan sifat-sifat yang mengandung konsekuensi baru ada-. Pencipta
inilah yang telah menciptakan alam semesta ini, menjadikan ada bentuknya dengan
sifat-sifat yang saling berbeda satu benda dengan yang lainnya[26]. Dan yang menjelaskan hal tersebut ialah:
Pertama: Bukti logika yang menunjukan adanya kemusnahan dan
kelahiran. Allah azza wa jalla menyebutkan didalam firman -Nya:
﴿ أَمۡ خُلِقُواْ
مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ ﴾ [ الطور: 35]
"Apakah mereka diciptakan
tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
menjelaskan, "Ada yang mengatakan,
bahwa maksud firman Allah ta'ala:
﴿ أَمۡ خُلِقُواْ
مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ ﴾ [ الطور: 35]
"Apakah mereka diciptakan
tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).
Maksudnya adalah Allah Shubhanahu wa ta’allayang menciptakan
mereka. Ada yang mengatakan, "Bukan Allah Shubhanahu wa ta’allatapi dari materi". Ada
yang mengatakan, "Tanpa adanya balasan dan ganjaran". Pendapat yang
pertama inilah yang dimaksud dalam ayat ini. Sesungguhnya setiap benda yang
diciptaan, baik berupa unsur benda yang paling kecil hingga yang paling besar
tentu harus ada yang menciptakan. Fitrah yang selamat mengetahui bahwa sesuatu
yang baru pasti ada yang menjadikan ada, ini dalil yang paling jelas yang menerangkan
bahwa segala sesuatu yang baru, baik dari benda yang paling kecil elemenya
hingga yang terbesar tentu ada yang menciptakannya. Bahkan, kebanyakan orang
yang berakal akan menolak pada perkara yang kedua dan ketiga, tapi, tidak pada
makna yang pertama.
Ada
sebuah kelompok mengatakan, "Bahwa jagad raya ini adalah sesuatu yang baru
tanpa ada dzat yang menjadikan menjadi baru". Bahkan ada lagi kelompok
yang lain mengatakan, "Bahwa jagad raya sudah ada dengan sendirinya yang
mengharuskan dengan sendirinya tanpa perlu yang mencipta". Adapun yang
mengatakan, "Sesungguhnya jagad raya sesuatu yang ada dengan sendirinya
tanpa adanya pencipta". Maka ucapan ini tidak dikenal secara jelas dari
kelompok yang terkenal, namun, hanya dinukil dari kelompok yang tidak jelas
identitasnya".[27]
Dalam kesempatan lain beliau
mengatakan, "Firman Allah ta'ala:
﴿ أَمۡ خُلِقُواْ
مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ ﴾ [ الطور: 35]
"Apakah mereka diciptakan
tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).
Ada
dua pendapat, kebanyakan para ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud,
apakah mereka diciptakan tanpa adanya yang mencipta, bahkan murni dari ketidak
adaan. Sebagaimana dikatakan oleh Allah Shubhanahu
wa ta’alladidalam firman -Nya:
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang
di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya". (QS al-Jaatsiyah: 13).
Sebagaimana dinyatakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alladalam firman -Nya:
﴿وَكَلِمَتُهُۥٓ
أَلۡقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرۡيَمَ وَرُوح مِّنۡهُۖ ١٧١﴾ [ اانساء: 171]
"Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah
dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam,
dan (dengan tiupan) roh dari-Nya". (QS an-Nisaa': 171).
Demikian pula yang Allah Shubhanahu wa ta’allasinggung didalam
firman -Nya:
"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah
(datangnya)". (QS an-Nahl: 53).
Ada yang berpendapat bahwa
yang dimaksud, apakah mereka diciptakan tanpa melalui elemen. Dan pendapat ini
adalah pendapat yang lemah. Berdasarkan firman Allah Shubhanahu wa ta’allasetelahnya, yang artinya, "Ataukah mereka
yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).
Ini
menunjukan bahwa sumpah yang ada dalam ayat bermakna apakah mereka diciptakan
tanpa ada yang menciptakan? Kalau yang dimaksud, diciptakan dari selain elemen,
niscaya dikatakan padanya, apakah mereka diciptakan dari sesuatu ataukah dari
air yang rendah (mani)? Ini menunjukan bahwa yang dimaksud ialah Aku lah
pencipta mereka bukan diciptakan oleh unsur elemen yaitu air mani. Karena
keadaan mereka yang diciptakan tanpa melalui unsur bukan berarti sedang
meniadakan adanya pencipta, walaupun mereka mengira bahwa hal tersebut tidak
mencela keimananya kepada sang pencipta, tapi justru itu menunjukan akan
kebodohannya.
Karena
bagi setiap orang, ia tidak akan pernah menyangka hal tersebut, dan anehnya
setan tidak memasukan perasaan was-was pada anak keturunan Adam dalam masalah
ini, karena, semua orang mengetahui bahwa mereka diciptakan oleh orang tuanya.
Karena pengetahuan mereka akan hal itu tidak mengharuskan adanya keimanan bagi
mereka tidak pula mencegah kekufuran mereka.
Bentuk
pertanyaan yang ada dalam ayat ialah pertanyaan pengingkaran, maksudnya,
menegaskan bila mereka tidak diciptakan begitu saja tanpa ada yang
menciptakannya, maka jika mereka mengakui hal tersebut, bahwa disana ada
pencipta maka penciptaan mereka mempunyai arti, tapi, jika mereka meyakini
bahwa mereka diciptakan dari unsur benda maka hal tersebut tidak memberikan
efek apapun pada Allah azza wa jalla".[28]
Maksud
dari ini semua yaitu menjelaskan bahwa didalam ayat diatas, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan dua
perkara dalam masalah penciptaan. Yaitu:
Pertama: Bisa jadi mereka diciptakan dari sesuatu yang tadinya
belum ada, sedangkan asalnya memang tidak ada.
Kedua: Atau mereka diciptakan dari sesuatu, dan mereka
menciptaan diri mereka sendiri, maka berarti ekstitensinya sebagai asal yang
lebih dulu ada.
Maka makna ayat, apakah mereka urbanisasi dari sesuatu yang sebelumnya
tidak ada menjadi ada tanpa adanya yang menciptakan? Atau, mereka adalah
orang-orang yang menciptakan dirinya sendiri, dari urbanisasi benda yang
sebelumnya tidak ada menjadi ada? Dan tentunya, kedua perkara diatas sesuatu
yang mustahil terjadi, yang sangat jelas seterang matahari![29]
Sesuatu yang menjadi ada tidak mungkin tidak ada sebab sesuatu yang
tidak ada mustahil menjadi hukum asal karena akan menafikan hukum umum bagi
setiap benda yang hadir dipikiran, demikian pula akan menafikan sifat-sifat
-Nya, sehingga tidak ada dzat, kekuatan, keinginan, tidak pula pengetahuan, kehidupan serta
kosong tanpa mempunyai sesuatu apapun.
Dan tentunya, tidak mungkinsesuatu yang tidak ada ini dapat berubah
menjadi ada. Dan tidak mungkin datang dari sesuatu yang tidak ada ini secara
umum, baik bentuk, sifat, kekuatan yang muncul dari dirinya, yang mendorong
sehingga bisa menjadi ada. Sebagaimana telah tetap bagi kita bahwa sesuatu yang
tadinya tidak ada tidak mungkin menjadi hukum asal. Seperti dikatakan oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam salah satu keterangannya, beliau mengatakan,
"Tidak pernah al-Qur'an membicarakan penciptaan sesuatu dari sesuatu yang
tidak ada, namun, al-Qur'an mengisyaratkan bahwa makhluk diciptakan setelah
sebelumnya tidak ada. Sebagaimana yang Allah Shubhanahu wa ta’allajelaskan didalam firman -Nya:
﴿وَقَدۡ خَلَقۡتُكَ
مِن قَبۡلُ وَلَمۡ تَكُ شَيۡٔا٩﴾[ مريم: 9]
"Dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu
(di waktu itu) belum ada sama sekali". (QS Maryam: 9).
Bersamaan dengan itu AllahShubhanahu
wa ta’alla telah mengabarkan bahwasannya Dirinya telah menciptakan mereka
melalui sarana air mani".[30]Jika perkaranya menunjukan bahwa sesuatu yang tidak
ada menjadi hukum asal maka mengharuskan wujud menjadi hukum asal, karena lawan
dari tidak ada. Oleh sebab itu sangat mustahil secara rasio sesuatu yang tidak
ada datang secara tiba-tiba menjadi ada, maka kita yakini bahwa wujud merupakan
hukum asal.[31]
Kalau kita perhatikan kepada benda-benda yang ada, yang bisa kita
tangkap dengan panca indera dijagad raya yang maha luas ini, bisa kita dapatkan
bahwa benda-benda yang ada tadi -diantaranya manusia- sebelumnya adalah sesuatu
yang tidak ada lalu menjadi ada.[32]Bahwa benda-benda besar yang ada disekeliling kita,
tadinya tidak ada bentuk dan rupanya kemudian menjadi ada, sebagaimana yang
bisa kita saksikan secara kontiyu.
Sebagaimana nampak bagi kita proses perubahan yang terjadi, yang berlalu
secara terus-menerus disekeliling kita dari partikel dan benda-benda yang ada
dialam semesta ini, baik yang bisa kita lihat atau raba atau kita bisa
merasakan efek kekuatan atau kekhususannya. Semisal, dari kematian menjadi
hidup, dari hidup menjadi mati, dari perubahan bentuk dan rupa menjadi perubahan
pada sifat dan energi.
Dan itu semua tidak bisa masuk dalam akal kita -sesuai dengan hukum alam
ini yang tetap yang bisa kita ambil pelajarannya dari alam itu sendiri-
melainkan dengan faktor efek yang didapat yang membawa rahasia
perubahan-perubahan ini yang sangat banyak yang berlangsung secara terus
menerus, yang terjadi pada segala benda dijagad raya ini dengan perbedaan
bentuk dan sifatnya. Mulai dari partikel yang paling kecil hingga yang paling
besar.
Dari sini bisa kita katakan, kalau seandainya hukum asal pada
benda-benda yang familiar dipanca indera kita (partikel) sebagai benda yang ada
secara azali, tentunya tidak bisa menjadi media konversi, perubahan,
pertambahan, pengurangan, berkembangan dan kebinasaan. Dan tidak membutuhkan
pada bentuk keberadaan dan perubahannya pada motif serta efeknya.
Dengan sebab adanya penghalang untuk sebuah proses perubahan dan
konversi, aturan serta konsekuensinya yang menolak pada tuntutan yang
dibutuhkannya pada motif dan efek yang dihasilkan, maka hal itu mengharuskan
bahwa hukum asal ialah wujud. Hanya saja yang mewajibkan secara rasio bahwa
hukum asal adalah ketiadaan, sebab akan menjadikan diantara sebab adanya adalah
karena ketiadaan yaitu Allah Shubhanahu
wa ta'ala.[33]
Kedua:
Dalil adanya kemungkinan-kemungkinan lain yang ada pada alam semesta atau dalam
material.
Melalui proses pengamatan kita yang ada di jagad raya ini, baik yang
berasal dari unsur partikel yang mungkin dapat kita tangkap dengan daya panca
indera kita, semisal bumi, planet, atau bintang. Atau yang bisa kita rasakan
sifatnya dari sifat-sifat yang ada pada benda yang kita jadikan sebagai bukti
keberadaannya melalui rasio kita, semisal sifat memikat secara khusus yang ada
pada batu permata. Atau benda-benda khusus yang tersusun dari partikel-partikel
kecil yang tidak bisa dibatasi jumlahnya di alam semesta, baik yang nampak,
semisal zat kimia atau fisika.
Dari pengamatan kita bagi benda-benda di jagad raya ini, kita dapati
adanya permulaan pada setiap bendanya yang memungkinkan secara logika untuk
membentuk dan memposisikan diri sebagai benda tidak seperti sekarang ini.
Bukankah sangat rasionalis, tidak yang menghalangi kalau seandainya akal
diletakkan pada binatang ternak, dan lisan pada
buah-buahan? Tidak pula ada
yang menghalangi kalau sekiranya jarak bumi lebih dekat lagi dengan matahari
dan bulan dari posisinya seperti sekarang? Atau perkara-perkara lain yang
sangat banyak sekali contohnya.[34]
Kalau ada yang menyanggah, sesungguhnya hikmah lah yang mengharuskan
benda-benda tersebut berada pada posisinya seperti sekarang ini. Karena jika
tidak, niscaya ekosistem dan peraturan hidup yang ada di alam semesta akan
hancur.Kami jawab, sesungguhnya hikmah termasuk di antara sifat dari
sifat-sifat Allah yaitu al-Hakim. Selagi segala sesuatu yang ada di alam
semesta memiliki kemungkinan menjadi bentuk yang berbeda-beda, bukan seperi
posisinya semula.
Maka sangat logis untuk menghukumi permulaan, yaitu sesuatu yang
posisinya seperti itu mengharuskan ada yang menentukan dan itu telah ditentukan
dengan adanya kemungkinan sesuai dengan hikmah, penciptaan, dan berkesesuaian
dengan kemungkinan-kemungkinan yang sangat banyak, jika seandainya tidak ada
perkara yang menentukan niscaya melazimkan untuk menguatkan salah satu dari dua
perkara yang mempunyai kesamaan. Atau ucapan sebagian orang yang mengatakan,
bahwa perkara yang sesuai dengan hikmah -yang tidak terhitung jumlahnya-
hanyalah kebetulan semata[35]. Dan kedua alasan tersebut tidak bisa diterima oleh
rasio.
Ketiga:
Bukti yang menunjukan betapa perfeknya alam semesta ini.
Diantara perkara terbesar yang membuat kita takjub terhadap benda-benda
yang ada di alam semesta, yang ada di sekeliling kita ialah begitu sempurnanya
susunan dan pengerjaannya. Tidak adanya sesuatupun yang ada dibumi maupun
dilangit yang datang secara kebetulan melainkan semuanya menunjukan begitu
professional dan perfeknya dalam proses pembuatan dan pengerjaannya.
Bukankah ini merupakan bentuk perfektivitas dalam penciptaan alam
semesta yang menakjubkan ini, yang terkandung dalam diagram alur planet dan
bintang-bintang, yang mana kalau seandainya ada sedikit perubahan saja niscaya
akan mengantarkan pada kekacauan, ketidakteraturan, kehancuran hingga
kemusnahan.
Begitu pula, bukankan termasuk bentuk perfektivitas yang sangat
menakjubkan dalam penciptaan manusia dengan susunan anggota tubuhnya, demikian
pula dalam penciptaan hewan dengan aneka ragamnya. Jawaban itu semua benar,
bahwa dalam segala benda, kita mampu menangkap betapa sempurnanya penciptaan
setiap makhluk tersebut yang tentunya hal tersebut tidak mungkin datang
melainkan dari dzat yang maha sempurna yang tersemat pada dirinya dan sempurna
didalam penciptaanya.[36]
Dalil ilmiah yang selaras dengan rasio ini, semuanya menunjukkan bahwa
alam semesta dengan segala isian partikelnya adalah sesuatu yang baru ada
bentuknya setelah sebelumnya semua benda tersebut belum ada wujudnya. Dan
sesuatu yang baru tentunya melazimkan adanya yang membuat menjadi ada. Dengan
ini maka runtuhlah argumen ahli materialisme yang mengatakan azaliyahnya material
sebuah benda, sebagaimana nampak bahwa sebuah materi pada awal mulanya adalah
sesuatu yang baru lalu berubah yang mana itu menjadi suatu kelazimannya. Dan
permulaan serta perubahan materi tersebut sebagai bukti akurat bahwa materi
memiliki waktu permulaan.
Dan secara langsung bukti ini membawa kita pada kesimpulan yang pasti
bahwa material juga mempunyai waktu berakhir yang pasti akan dilaluinya. Sebab
hukum alam menjelaskan, segala sesuatu yang mempunyai waktu permulaan pasti
pada akhirnya menemui waktu berakhirnya.[37]
Jika argumen yang mereka kemukaan tidak bisa diterima secara akal maupun
logika, justru dalil-dalil ilmiah menunjukan bahwa dunia material adalah
sesuatu yang baru, yang mempunyai waktu permulaan dan akan menemui waktu
berakhir, maka kita sodorkan pada mereka dalil-dalil yang diperoleh dari ilmu
pengetahuan dan hukum asalnya yang telah menetapkan bahwa alam semesta adalah
sesuatu yang baru, maka tentunya itu semua mengharuskan adanya Tuhan yang
menjadikannya ada, dari yang sebelumnya tida ada sama sekali. Begitu pula,
bahwa alam semesta mempunyai waktu berakhir yang pasti akan dilaluinya.
Kumpulan kedua: Dalil-dalil ilmiah menunjukan akan ketidak langgengannya
unsur benda serta tidak melalui proses azaliyah.
Berkaitan dengan dalil-dalil ini maka bisa kita
klasifikasikan menjadi dua:
Pertama: Dalil-dalil ilmu pengetahuan
modern, dewasa ini menunjukan secara klinis bahwa material benda tidak
mempunyai sifat azaliyah. Hal itu dengan dua alasan sebagai berikut:
Alasan pertama: Riset
ilmiah dewasa ini telah membuktikan bahwa material mempunyai waktu permulaan.
Dimana para ilmuwan yang bergerak pada bidang ini mengamati bahwa pergerakan
semua partikel dijagad raya ini berbentuk perputaran atom yang tersusun dari
partikel kecil berbentuk elektrik yang dinamakan dengan proton, sisi negatifnya
dinamakan dengan elektron, dan sebagian atom ada yang mengandung unsur ketiga
yang tenang dinamakan dengan nitron. Ini
semua, menggambarkan antara proton dan nitron keberadaannya membentuk satuan
masa atom atau inti atom, adapun elektron maka perputarannya begitu cepat
sekali. Yang kalau sekiranya bukan karena pergerakan yang cepat ini antara
satuan masa atom dengan satuan masa electron niscaya tidak akan ada perputaran
partikel dijagad raya ini, bahkan, kalau bukan karena perputaran ini niscaya
bumi ini –sebagaimana dikatakan- bentuknya hanya seukuran telor.[38]
Perputaran ini termasuk dari hukum alam yang Allah Shubhanahubwa ta’alla berikan, bulan
berputar mengelilingi bumi, dan bumi berputar mengelilingi matahari, demikian
pula satuan masa atom tersebut berputar dialam ini. Adapun yang kita ingin
tekankan disini ialah bahwa sesuatu yang berputar pasti harus ada titik
permulaan waktu maupun tempat sebagai awal mulanya.
Alasan Kedua: Berkata
ilmuwan mereka, Edward Laterkaissel tatkala membantah teori azaliyahnya jagad
raya, dirinya mengatakan, "Akan tetapi hukum kedua dari hukum dinamika
panas menetapkan salahnya teori yang terakhir ini, sebab ilmu pengetahuan
menetapkan secara jelas bahwa alam semesta ini tidak mungkin azali, karena
disana dijumpainya adanya perpindahan unsur panas yang terus menerus dari
benda-benda dingin menjadi benda-benda panas. Artinya, bahwa alam semesta
mengarah pada tingkatan yang searah pada seluruh benda yang meresap menjadi
satu kekuatan tertentu, dan ketika itu tidak ada lagi disana proses kimia atau
natural, begitu pula tidak ada lagi disana bekas kehidupan di alam semesta ini.
Dan tatkala kehidupan masih ada, maka proses kimiawi
dan naturalisasi masih terus berjalan direlnya, sehingga kita bisa menyimpulkan
bahwa alam semesta ini tidak mungkin azali, jika tidak tentu kekuatannya akan
hancur semenjak dulu, dan akan menghentikan setiap perkembangan setiap benda
yang ada".
Demikianlah ilmu pengetahuan mencapai pada kemajuan
semacam ini yang menyimpulkan bahwa alam semesta ini ada permulaan penciptaan,
yang secara tidak langsung berarti menetapkan keberadaan AllahShubhanahubwa ta’alla, sebab sesuatu
yang ada permulaannya maka tidak mungkin bisa menciptakan dirinya sendiri,
tentunya harus ada yang menciptakannya, atau ada yang menggerakan untuk pertama
kalinya, atau ada yang menciptakan yaitu tuhan.[39]Inilah dalil-dalil ilmiah yang secara tegas menetapkan
bahwa unsur materi tidak azaliyah, berikut ini akan saya sampaikan dalil-dalil
ilmiah yang membuktikan bahwa unsur materi tidak abadi.
Kedua: Bukti ilmiah yang menetapkan bahwa material tidak abadi.
Diantara bukti-bukti tersebut yang paling rasionalis ialah:
Pertama:
Sebagaimana tadi telah kita jelaskan tentang aturan dinamika panas, maka
disebutkan didalamnya, "Bahwa susunan alam semesta ini akan kehilangan
atsmosfernya sedikit demi sedikit, dengan demikian, secara pasti suatu ketika
panas tersebut akan membentuk sebuah benda dibawah tingkatan panas yang luar
biasa hingga sampai pada puncaknya, lalu pada akhirnya menurun hingga sampai
pada nol derajat, pada saat itulah tidak ada lagi di jagad raya ini kekuatan,
dan mustahil adanya kehidupan disana. Dan kejadian ini tak mungkin bisa
terelakkan lagi, kondisi dimana tidak ada lagi kekuatan, yaitu tatkala derajat
panas suatu benda telah sampai pada nol derajat, dengan perjalanan waktu yang
cukup panjang. Maka tidak diragukan lagi, bahwa fenomena alam ini membuktikan
jika unsur material suatu saat pasti akan sampai pada kebinasaan".[40]
Kedua: Teori bola
matahari yang meluap-luap. Dijelaskan dalam teori tersebut, "Bahwa
partikel-partikel yang ada dalam bola matahari menghasilkan luapan dan lidah
api dari dalam yang bisa menghasilkan panas yang luar biasa. Yang di hasilkan
dari hasil ledakan-ledakan partikel, yang terjadi secara terus menerus yang
pada akhirnya melahirkan kekuatan panas yang tidak ada yang sanggup
menyamainya.
Sebagaimana diketahui bersama, bahwa material yang
semasa dengan atom tersebut, bila selalu berbenturan maka akan menghilangkan
sebagian intinya, dimana bagian yang hilang ini akan merubah menjadi sebuah
kekuatan. Dan ketika hal itu terjadi setiap hari, bahkan setiap detik yang di
alami oleh bola matahari maka hal tersebut sejatinya menandakan adanya bagian
yang hilang darinya walaupun hanya satuan dari masa atom. Artinya, secara
absolute bahwa suatu saat nanti akan datang waktu dimana matahari akan
kehilangan satuan masa atomnya secara sempurna, artinya, bola matahari yang
menghasilkan energi panas luar biasa tersebut suatu saat nanti akan padam".[41]
Ketiga: Seorang
ahli fisika dan matematika, yang bernama John Clavind Catren menyatakan,
"Ilmu kimia memberi sumbangan pada kita bahwa sebagian partikel akan
mengalami masa kemusnahan dan kehilangan unsur materinya. Bahkan, ada sebagian
diantaranya yang mengalami masa kepunahan secara cepat sekali, dan ada pula
yang secara berlahan. Sehingga dengan hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa
partikel benda tidak mungkin abadi".[42]Inilah bukti-bukti autentik dari para pakar, yang
semuanya menunjukan bahwa material benda bukan azaliyah dan tidak mengalami
keabadian. Tapi, material tersebut tidak lain hanyalah sebuah makhluk yang
suatu saat nanti akan mengalami kemusnahan.
Dengan demikian, maka gugurlah klaim yang didengungkan
oleh orang-orang Komunis bahwa material benda sebagai sumber segalanya dan
mengklaim bahwa kehidupan ini adalah hasil dari evolusi material tersebut. Dan
berikut ini kita sebutkan kerancuan selanjutnya yang mereka usung, dibarengi
dengan bantahan terhadap pemikiran tersebut.
Syubhat kedua: Teori evolusi dzati atau teori kejadian dzat bagi materi
dan kehidupan.
Teori ini bermula, dalam stagmen yang mereka katakana,
bahwa kehidupan ini tidak lain adalah hasil dari evolusi material tanpa ada
campur tangan makhluk apapun dibelakangnya. Menurut mereka kehidupan tidak lain
adalah hasil dari proses evolusi dzat yang berkembang begitu saja selaras
dengan hukum-hukum perkembangan material alam. Teori ini juga sering di
istilahkan dengan hukum alam. Kalau kita perhatikan maka bisa kita simpulkan,
bahwa syubhat ini dibangun diatas tiga pilar:
Pilar pertama: Pendapat
yang mengatakan adanya evolusi dzat. Inilah pendapat yang dianut oleh orang
komunis pada awal mulanya.[43]
Pilar kedua: Pendapat
yang mengatakan adaya teori evolusi. Pendapat ini lebih condong dianut oleh
mereka tatkala mereka mendengar ada seorang ilmuwan yang bernama Darwin telah mengumumkan
hasil risetnya ke dunia luas gagasannya sebagai sebuah teori, maka segera orang
komunis mendukungnya karena selaras dengan pemikiran mereka.[44]
Pilar ketiga: Pendapat
yang menyandarkan penciptaan dan kehidupan kepada alam semata. Inipun, walaupun
mereka padahakekatnya tidak terlalu peduli mencari siapa yang menciptakan atau
yang menjadikan ada, tapi mereka berpendapat semacam ini walaupun mereka sendiri
mengingkari hal tersebut didalam buku-buku literatur mereka dalam rangka
melarikan diri dari gereja dan tuhan yang disembah oleh di gereja.[45]
Pilar pertama: Pendapat yang mengatakan adanya evolusi dzat.
Adapun jawaban atas syubhat ini maka sebagai berikut:
[46]Sesungguhnya statmen ini tidak lain hanyalah sebuah
usaha penafsiran yang mereka lakukan tatkala menangkap benda-benda abstrak
dalam kehidupan ini yang ada dalam unsur material. Manakala mereka mengingkari
adanya pencipta, menuntut untuk mengatakan, bahwa materi adalah benda pertama
yang ada dijagad raya, yang sebelumnya tidak ada kehidupan sama sekali, tidak
mempunyai rasa, akal dan pikiran. Lalu terus berkembang menjadi sebuah dzat
hingga tumbuh menjadi embrio kehidupan, sebagai tahapan yang lebih sempurna dan
modern dari materi benda yang ada pada pertama kalinya. Selanjutnya terus
berkembang dalam kehidupan, rasa-rasa yang tinggi hingga sampai pada tingkat
pemikiran, yang mampu memahami apa saja yang ada di alam semesta bersamaan
dengan prosesnya. Dengan sebab itulah unsur materi mampu menyadari dzatnya,
yang barangkali bisa di ilustrasikan pada alat canggih yang baru pertama kali
ditemukan dengan perkembangannya yang terus meningkat, yaitu otak.[47]
Sebelum memberi sanggahan pada masalah ini.Ada pertanyaan
yang harus di jawab, yaitu apakah ada dalil ilmiah yang menjelaskan bahwa ruh,
pikiran dan rasa adalah bagian dari unsur materi? Sesungguhnya penjelasan yang
paling luas tentang masalah ini yang dimiliki oleh orang Komunis sampai saat
ini ialah bahwa kehidupan berkembang dari sebuah energi dan pergerakannya yang
akhirnya menghasilkan pertumbuhan, dalam kata lain gerak ditambah energi maka
hasilnya adalah kehidupan.[48]
Kita gunakan metode yang sama seperti yang digunakan
oleh Marxisme untuk menjelaskan kebenaran pemahaman kita yaitu mari buktikan
secara ilmiah apakah benar bahwa gerak bila ditambah dengan energi akan
menghasilkan kehidupan ataukah tidak? Kita bertanya-tanya siapa yang
menggabungkan dua hal yang kontradiktif ini masuk pada salah satu bagiannya
–walaupun dengan usaha keras untuk menerapkan teori ini secara khusus- dengan
pertanyaan sederhana ini.Atau bila perlu dari hukum kimia untuk dapat
mengeluarkan teori diatas untuk menjelaskan hakekat kehidupan.
Maka disini, kita akan mencoba mengembalikan terlebih
dahulu kepada hasil kongres yang di ikuti oleh enam ilmuwan biologi dari
seluruh dunia yang diadakan di New York pada tahun 1959. Dan diantara ke enam
ilmuwan tersebut ada salah seorang ilmuwan yang bernama Auprin yang berasal
dari Rusia, seorang dosen ilmu biologi di Akademi Ilmu Biologi Uni
Soviet.Mereka berkumpul dalam rangka ingin menyibak misteri asal mula kehidupan
serta perkembangannya di muka bumi ini, dan untuk mengungkap seberapa besar
kemungkinan adanya kehidupan ini melalui proses kimia.
Diakhir kongres tersebut, setelah melakukan riset
secara mendalam, semua sepakat untuk memutuskan, bahwa kehidupan ini perkaranya
masih misteri, sesuatu yang memacu untuk terus diteliti hingga memungkinkan
pada suatu ketika dapat diketahui oleh ilmu pengetahuan, dan misteri ini sangat
jauh sekali kalau hanya sekedar rangkaian dari beberapa organ tertentu dan
naturalisasi yang nampak secara khusus.[49]
Kemudian, bila diperhatikan bahwa hakekat yang telah
disepakati oleh para ilmuwan hingga hari ini –baik kafir maupun muslim- bahwa
ilmu pengetahuan hingga detik ini, belum bisa mengungkapkan secara pasti,
tentang hidup dan roh, apakah kolaborasi antara energi dan gerak inilah yang
menghasilkan kehidupan, dengan teori yang sangat sederhana ini? Dan diantara
perkara yang tidak perlu diragukan, bahwa setiap gerak dan energi merupakan
tanda yang paling jelas dari inti kehidupan, akan tetapi, dalam kaidah filsafat
yang ada, mengharuskan bahwa inti sesuatu bukan lah bagian dari elemen yang
menjadi sumbernya. Kita ambil contoh, air misalnya, dalam kondisi mendidih
dirinya tersifati dengan gerak dan panas (energi), akan tetapi, secara jelas
bahwa anasir air adalah sesuatu lain yang keluar dari gerak dan energi.
Demikian pula, yang kita ketahui bahwa gerak dan
energi adalah dua hal diantara bagian inti dari inti kehidupan yang ada, sama
semisal Hidrogen, Karbon, Ozon, dan Oksigen serta lainnya dari inti sari
kehidupan yang paling mendasar. Adapun bentuk anasir kehidupan maka ini adalah
sesuatu lain yang tidak bisa ditangkap oleh manusia. Oleh sebab ini, seorang
ilmuwan bernama Angel menegaskan, "Tidak mungkin ilmu alam hingga waktu
yang akan datang untuk mengungkap inti dari inti-inti dasar kehidupan".[50]
Pengakuan mereka yang jujur ini, mengatakan, bahwa mereka tidak mungkin bisa
sampai pada hasil untuk mengungkap inti dari kehidupan secara ilmiah. Sehingga
secara klinis membuktikan bahwa pernyataan orang atheis hanya sekedar klaim
dusta tanpa ada bukti, omong kosong yang bertentangan dengan prinsip dasar akal
pikiran seorang manusia.
Maka kesimpulannya, manusia bukan hasil dari ciptaan
material, karena sesuatu yang diciptakan tidak mungkin bisa menguasai yang
menciptakan.Karena manusia terkadang meliputi material dan mengeluarkannya
dalam bentuk lingkaran ether, bahkan, lebih jauh lagi dalam riset-riset ilmu
pengetahuan mengacu pada kemampuan manusia untuk mengungkapnya.Dan ini tidak
mungkin terjadi, melainkan jika terdapat didalam tabiat manusia sesuatu yang
lebih tinggi dari unsur yang ada dalam material.Ini adalah sesuatu yang sangat
bertentangan dengan setiap inti sari dari ilmu pengetahuan yang ada.[51]
Unsur material pertama yang ada di dalam alam semesta
ini, Yang tidak mengandung didalamnya susunan yang meyakinkan, tidak pula
mengandung didalamnya kehidupan, perasaan dan pemahaman, tentunya hal ini
menjadikan tidak mungkin untuk berevolusi menjadi lebih sempurna dalam
bentuknya, begitu juga tidak mungkin sanggup untuk menciptakan
partikel-partikel lain yang lebih sempurna dan lebih maju dari diri sendiri.
Hal tersebut, dikarenakan sesuatu yang tidak memiliki tidak bisa memberi.
Adanya karya cipta yang lebih baik dan sempurna dari
pencipta yang serba kurang, maka ini setara dengan perubahan dari sesuatu yang
sebelumnya tidak ada menjadi ada, dalam perubahan bentuk.Sebab, nilai tambah
terkadang murni tidak ada, dan sesuatu yang murni tidak ada tidak mungkin
mendorong untuk menjadikannya ada kecuali adanya kekuatan besar yang
mendorongnya menjadi ada, atau sesuatu yang lebih kuat darinya.
Sedangkan dalam unsur material yang buta lagi tidak
tahu apa-apa ini tentunya tidak mungkin lebih kuat tidak pula mampu mendorong
materi kehidupan yang punya keinginan, perasaan dan akal pikiran, bahkan
sebaliknya, justru realitanya membuktikan bahwa material nilainya lebih rendah
dari kehidupan.Jika demikian, maka membuktikan kalau material ini sangat lemah
untuk bisa mencipta sesuatu yang lebih baik dari dirinya.[52]
Klaim ini –yaitu mengklaim bahwa keberadaan hidup ini
adalah hasil proses pembentukan dari material-material kecil- adalah pendapat
yang di pegang oleh orang Komunis di awal perkaranya, dimana mereka mengatakan,
"Sesungguhnya unsur material berkembang secara berlahan membentuk bilangan
sehingga menyusun menjadi sebuah benda, sehingga secara kebetulan membentuk
material lain. Dan kehidupan tidaklah ada melainkan dari hasil proses
pembentukan yang serba kebetulan dari partikel-partikel ini melalui beberapa
tahapan yang dikenal dengan evolusi".[53]
Lalu orang komunis mengilustrasikan dengan air,
sesunguhnya air apabila bertambah mendidih akan bertambah panas, akan tetapi,
tatkala air tersebut sampai pada puncak panasnya, yaitu di titik 100% derajat celcius maka air tersebut berubah
menjadi uap. Air tersebut berubah menjadi benda lain dalam beberapa proses.
Sanggahan:
Sesungguhnya evolusi pada beberapa kasus semacam ini adalah pembentukan menjadi
unsur partikel lain, akan tetapi, hakekat nama bendanya tidak berubah wujud,
tapi terjadi dikarenakan adanya orang yang melakukannya.
kemudian perubahan uap dari dalam air adalah sesuatu
yang mungkin sekali dibuktikan dengan penelitian. Terus, logikanya apakah hidup
bisa dimisalkan dengan ini? Apakah mungkin membuktikan kehidupan dari dalam
unsur material sebagai benda mati melalui sebuah riset atau
penelitian?Selanjutnya, pilar ini sebagai salah satu pilar pemikiran Marxis,
tidak mungkin bisa dijadikan sebagai patokan hukum secara umum yang dapat
diaplikasikan pada setiap benda yang bergerak yang mengalami proses pertumbuhan
secara natural. Justru, ilmu sains yang dimiliki manusia tidak mengakuinya,
walaupun pada beberapa kasus bisa diterapkan, tapi, tetap berseberangan dengan
kasus-kasus lain yang sangat banyak sekali.
Sesungguhnya akumulasi data dalam kwatintas tidak
serta merta selalu bisa dijadikan sebagai patokan dalam proses evolusi pada semua
kasus. Selagi hukum alam tersebut tidak mengharuskan kejadiannya seperti itu.
Karena, pengamatan yang mendalam membuktikan bahwa setiap proses kondisi yang
ada dijagad raya mempunyai ketentuan tertentu yang berlaku, didalam keserasian
dan hukum alamnya. Sehingga, setiap kali ketentuan tersebut berjalan maka
proses alami tersebut akan terbentuk. Kita ambil contoh analoginya:
Contoh Pertama: Telor ayam
yang telah dibuahi oleh pejantan.
Apabila terkandung suhu panas dengan derajat tertentu,
dan kelembaban dengan suhu tertentu, maka mulailah didalam telor tersebut
membentuk itik secara berkala dan bertahap hingga akhirnya terbentuk secara
sempurna didalam kulit telor, lalu pada akhirnya, setelah mengalami proses
kurang lebih selama tiga minggu itik tersebut terbentuk secara sempurna. Lalu
mulailah kulit telor tersebut retak dari dalam hingga akhirnya pecah, pada saat
itulah anak ayam tersebut keluar menuju alam dunia, babak baru kehidupannya di
muka bumi ini mulai berjalan.
Disini kita bisa melihat sebuah proses evolusi telah
terjadi. Akan tetapi, menyelisihi semua yang diklaim oleh pilar pemikiran yang
dianut oleh Marxisme. Bukan akumulasi data suhu panas, yang menjadikan secara
abstrak proses perubahan, tidak pula akumulasi data kelembabannya, akan tetapi,
justru kontinyunitas suhu panas, dan juga suhu kelembaban, yang membantu untuk
membentuk janin telor secara berkala, selaras dengan proses waktu yang telah
ditentukan oleh hukum alam hingga akhirnya terbentuk secara sempurna. Yang
kalau seandainya suhu panas ditambah presentasenya dari ukuran yang ditentukan
oleh hukum pembuahan tersebut, niscaya akan mengupas telor tersebut, dan
tentunya bila ditambah lagi suhu panasnya maka akan membunuh janin telor tadi sehingga
telornya akan terpanggang menjadi gosong.
Maka bisa disimpulkan, bahwa hukum alam adalah hukum
yang telah ditentukan ukurannya bagi masing-masing benda, selaras dengan alur
yang pasti, bukan sebuah perubahan yang dihasilkan dari proses pengukuran data.
Inilah realita yang telah dibuktikan oleh hasil riset dan penelitian sains
modern, dan ini pula yang jauh-jauh hari telah ditegaskan oleh Allah ta'ala
didalam firman -Nya:
﴿وَكُلُّ
شَيۡءٍ عِندَهُۥ بِمِقۡدَارٍ٨ ﴾ [ الرعد: 8]
"Dan segala sesuatu pada
sisi-Nya ada ukurannya". QS ar-Ra'du: 8.
Sesungguhnya contoh diatas sudah cukup untuk
membungkam teori akumulasi data yang dijadikan sebagai pilar pemikiran
orang-orang komunis. Yang dianggap sebagai hukum menyeluruh bagi setiap proses
evolusi yang terjadi pada setiap benda. Misal diatas juga cukup sebagai
sanggahan bagi pemikiran teori proses evolusi cepat yang datang secara
tiba-tiba, sebab, mayoritas proses pertumbuhan yang terjadi mengalami proses
secara berkala.
Contoh kedua: Makhluk
hidup.
Mereka mulai bergerak diawali dari pembuahan semenjak
bertemunya sel sperma laki-laki dengan sel telur perempuan. Perjalanan panjang
untuk menjadi makhluk hidup di laluinya melalui proses pertumbuhan yang
dialaminya secara bertahap. Hingga tatkala telah terpenuhi semua ketentuan yang
lazim untuk mengantarkan pada kehidupan maka secara perlahan-lahan dia akan
sampai pada proses kehidupan tersebut.
Kemudian dirinya berjalan sesuai dengan hukum
pertumbuhan yang dilalui secara bertahap. Hingga tatkala telah sempurna
pertumbuhan janin, maka ibunya akan mengeluarkan dan melahirkannya. Kemudian
diapun akan mengalami proses alami perkembangan secara bertahap hingga akhirnya
dewasa, tumbuh secara bertahap menjadi seorang pemuda, yang mapan, selanjutnya
kembali menuju proses penuaan, menjadi orang tua, lalu tua renta, selanjutnya
dirinya menghabiskan jatah usia yang telah ditentukan baginya, kemudian diapun
mati. Jasadnya larut dan kembali menjadi
tanah sebagaimana awal mulanya juga dari tanah.
Terkadang dirinya bisa saja mati pada awal perjalanan
hidup yang dijalaninya sebelum tua, lalu kembali menjadi periode pertama kali
diciptakan, tanpa melewati proses perjalanan hidup yang biasa dialami oleh makhluk
hidup. Dan setiap babak kehidupan yang dilalui oleh makhluk hidup tunduk
terhadap aturan hukum alam yang telah ditentukan bagi setiap individunya, entah
itu dari segi unsur, sifat, zaman, suhu panas, serta setiap unsur yang bisa
menjadikan adanya kehidupan, yang masing-masing punya tugas sendiri-sendiri.
Contoh yang kedua ini juga cukup sebagai bantahan untuk menyanggah setiap orang
yang punya pemikiran asas evolusi dan pemikiran akumulasi data yang mereka
peroleh didalam proses kejadian alam, sebagai pemikiran yang kontradiktif. Hal
tersebut, karena kehidupan tunduk terhadap hukum alam yang telah ditentukan
ukuran dan batasannya, baik dari sisi elemennya maupun fisiknya, bukan tunduk
kepada kumpulan data yang berbilang.
Demikian pula pemikiran pada teori evolusi cepat yang
muncul secara tiba-tiba yang diakui sebagai asas pemikiran orang komunis, juga
hasilnya kontradiksi.Karena kehidupan berjalan selaras dengan hukum alam yang
berjalan secara bertahap, bukan dengan evolusi cepat yang datang secara tiba-tiba.Dua
contoh diatas termasuk dari beribu contoh yang membatalkan dasar pemikiran
orang komunis dalam statmennya yang
berkaitan dengan teori evolusi –sesuai dengan penafsiran yang mereka inginkan-,
sehingga dengan terbantahnya asas pemikiran teori evolusi tersebut sekaligus
membantah asas pemikiran lain yang menyatakan bahwa kehidupan adalah tugas dari
tugas-tugas yang dimiliki oleh material. Tatkala sampai pada susunan partikel
sehingga menjadi benda lain melalui proses evolusi.
Sesungguhnya ilmu sains modern yang telah dicapai oleh
umat manusia yang dilakukan oleh orang barat dan timur dari para penganut paham
Marxisme, dengan biaya yang tidak sedikit, sehingga mereka harus rela merogoh
kocek untuk dana pembiayaan proyek tersebut, serta dengan waktu yang sangat
lama, maka hasilnya sampai pada sebuah kesimpulan ilmiah, bahwa sebuah
kehidupan tidak mungkin lahir melainkan dari makhluk hidup. Bahkan sarana
teknologi modern yang dibuat oleh manuisa, itupun tidak mempunyai kemampuan
untuk merubah partikel benda yang tidak punya kehidupan, menjadi partikel yang
mempunyai sel kehidupan.
Sebagaimana dimaklumi bahwa sebuah kesadaran sangat
erat kaitannya dengan kehidupan, bahkan dia merupakan indikator-indikator
kehidupan, dan bagian dari sifat-sifatnya, maka tidak mungkin ada sarana yang
mengantarkan unsur material sebagai benda mati untuk menjadikan kesadaran
sebagai salah satu tugasnya, walaupun secanggih apapun teknik yang ditempuhnya.
Ilmu sains yang diperoleh oleh manusia, telah mencukupkan kita pada tugas penting
didalam membantah asas pemikiran batil ini yang dianut oleh Marxisme dan
seluruh paham materialisme yang tidak mempercayai adanya Tuhan.
Begitu juga asas pemikiran mereka ini, pada awalnya
adalah sebuah teori yang sama sekali tidak didukung dengan dalil rasio maupun
ilmiah, sehingga melazimkan asas mereka yang menganggap bawah unsur material
sebagai pilar keberadaan benda dan elemennya menjadi pemikiran yang batil.[54]
Sisi Kedua: Teori Evolusi.
Sebagaimana telah lewat bahwa teori ini mereka ambil
setelah diteorikan dan diperkenalkan oleh Darwin ke dunia luas. Seakan-akan
mereka mendapat angin segar, sebab dalam teorinya Darwin tersebut bisa dijadikan sebagai
pendukung pemikirannya, sehingga mereka ikut mempromosikannya, karena sesuai
dengan pemahamannya, dan dengan bangga mereka mengatakan, konsep material mendapat dukungan penting.[55]
Seorang ilmuwan yang bernama John Lois mengatakan,
"Darwin telah menggembara untuk memahami konsep yang dibikin oleh berbagai
ilmuwan, lalu dirinya berusaha untuk mengembangkan menjadi sebuah konsep yang
realistis dan meyakinkan.Yaitu, bahwa dunia hewan tidak terbentuk dari satu
penciptaan, namun, itu merupakan buah dari perubahan evolusi yang bekerja untuk
merubah berbagai jenis makhluk hidup yang muncul pada generasi pertama menjadi
berbagai macam bentuk secara pasti, yang muncul pada generasi berikutnya.
Seperti manusia, dia tidak diciptakan dengan sistem
khusus yang terpisah, tapi dia merupakan hasil dari evolusi. Dan teori evolusi
tidak menganggap mustahil kekuatan yang berada pada alam dari proses penciptaan
semata, tapi meletakkan pengganti kekuatan ini dengan evolusi hidup secara
alami. Dan sungguh, konsep yang ada dalam teori evolusi ini sebagai pembaharuan
yang sangat mencengangkan".[56]Pemahaman ini, semakin menjelaskan kepada kita
seberapa jauh efektifitas teori evolusi ini mempengaruhi pemikiran materalisme.
Dan akan datang penjelasan secara rinci tentang teori ini beserta bantahannya
pada pembahasan yang akan datang.
Ketiga: Pendapat yang mengatakan adanya pencipta dari alam.
Sebagaimana telah kita sebutkan, bahwa yang namanya unsur material dan
alam bagi mereka adalah sama, akan tetapi, tatkala mereka mendapat tekanan dari
gereja Paulus yang telah diselewengkan, maka mereka akhirnya berkilah,
"Penciptaan hanya berasal dari alam".
Maka mari kita lihat seberapa besar kebenaran ucapan
ini. Apakah pantas alam menjadi seorang pencipta?Realitanya, bahwa kedustaan
ini sangat laris dizaman kita sekarang, sangat laku hingga diakui oleh
orang-orang –yang menyangka bahwa- mereka lahir dari ilmu pengetahuan material.
Kebanyakan mereka memberi alasan bahwa itu sebagai faktor terwujudnya suatu
benda dan proses kejadiannya, mereka mengatakan, "Alam lah yang mewujudkan
dan menjadikan adanya benda".
Sebelumnya mari kita tanyakan pada mereka pertanyaan
ini, apa yang kalian inginkan dengan alam? Apakah yang kalian maksud dengan
alam itu adalah yang dipenuhi dengan berbagai habitat makhluk hidup? Atau yang
kalian inginkan dengan alam tersebut adalah rangkaian zaman yang terdiri dari
tahun, hukum, dan aturan, yang mengikat jagad raya? Atau opsi terakhir, bahwa
yang kalian inginkan dengan alam adalah kekuatan lain yang berada diluar jagad
ini, yang telah mewujudkan dan menjadikan adanya alam semesta ini? Dan bila
kita merujuk, bahwa alam secara etiomologi bermakna tabiat[57]. Adapun ditinjau dari akal pemikiran manusia dewasa
ini maka alam ini mempunyai beberapa pengertian, diantaranya:
Pengertian pertama: Bahwa
yang dimaksud dengan alam ialah ungkapan tentang habitat makhluk hidup (yaitu
alam itu sendiri), yang berisikan benda mati, tumbuhan, binatang dan lain
sebagainya. Ini semua dinamakan dengan alam.
Bila dicermati, maka pengertian ini kurang
komprehensif dan justifikasi yang tidak pas. Sebab, pendapat ini hampir mirip
dengan pendapat pertama, yang mengatakan bahwa segala sesuatu ada dengan
sendirinya, namun, diungkapkan dengan menggunakan bahasa lain. Artinya, mereka
ingin membikin opini kepada publik, bahwa alam yang menciptakan alam. Langit
menciptakan langit, bumi menciptakan bumi, alam menciptakan manusia dan
binatang.
Hakekatnya, pendapat ini tidak keluar dari teori
natural, dari segi menciptakan keberadaan dirinya, dengan penafsiran bahwa air
asalnya dari air.Habitat makhluk hidup menciptakan dirinya sendiri, tak ubahnya
seperti menyamakan pelaku dengan obyeknya,dalam waktu yang bersamaan
menyetarakan antara pencipta dan hasil ciptaan.
Sebagaimana telah lewat penjelasannya, bahwa akal
manusia menolak kalau segala sesuatu ada didunia hasil dari kreasinya sendiri
tanpa campur tangan orang ketiga. Sebagaimana suatu benda tidak bisa
menciptakan sesuatu yang lebih maju darinya. Sedangkan benda-benda alam,
semisal langit, bumi, bintang, matahari, bulan, tidak memiliki akal,
pendengaran dan penglihatan, lantas bagaimana mampu menciptakan manusia yang
punya pendengaran, penglihatan dan illmu? Tentu ini tidak mungkin terjadi. Dan
batilnya ucapan ini sangat jelas, yang bisa diklasifikasikan pada dua pokok:
1.
Adakalanya
mengklaim bahwa seluruh benda ada dengan sendiri tanpa ada faktor dari luar.
2.
Adakalanya
mengatakan kalau pencipta dan ciptaannya berada pada satu taraf. Penyebab sama
dengan hasil. Tentu ini adalah perkara yang mustahil ada bentuknya, justru yang
ada hanyalah bualan dan kontradiktif yang muncul disana sini yang tidak perlu
lagi dikomentari secara panjang lebar.
Jika
mereka menyanggah, segala sesuatu diciptakan secara tiba-tiba. Maka kita jawab,
bahwa telah terbukti secara klinis tidak ada yang namanya penciptaan alam
semesta secara tiba-tiba, sebagaimana akan datang penjelasannya.Diantara yang
mendukung penyebaran teori ini ialah bukti klinis adanya makhluk hidup yang
terlahir dari dzat tertentu. Dan diantara argumentasi yang mereka dengungkan
ialah, apa yang ditemukan oleh para ilmuwan yang bergelut dengan alam, yaitu
adanya cacing yang lahir dari kotoran manusia atau kotoran hewan. Yang berubah
menjadi sebuah bakteri yang akan memakan makanan serta membuatnya rusak. Mereka
menyatakan, "Binatang-binatang kecil tersebut lahir secara alami dengan
sendirinya".
Teori
ini dengan cepat menyebar dan dianggap sebagai kebangkitan bagi teori alam, dan
langsung laris dan di amini oleh orang-orang yang hatinya tersesat dan tertipu,
yang tentunya jauh dari petunjuk dari Allah Shubhanahu
wa ta’alla. Tapi kebenaran selalu menang, tidak berapa lama kemudian teori
ini dibantah kembali oleh seorang ilmuwan terkenal dari Prancis yang bernama
Baster, yang berhasil menemukan bahwa cacing kecil yang terlahir dari kotoran
serta adanya bakteri yang di isyaratkan dimuka, tidak murni terlahir dari alam
secara sendirinya. Tapi, itu semua terjadi melalui proses pembentukan dari
hasil kuman yang sangat kecil yang tidak bisa terlihat dengan mata telanjang.
Selanjutnya,
dia membuktikan penelitiannya dengan bukti-bukti akurat yang semakin meyakinkan
ilmuwan lain akan kebenaran penemuannya. Yaitu dengan mengambil makanan lalu
ditutup, tidak terkena angin, sehingga bakteri yang ada didalamnya mati karena
kepanasan. Sehingga tidak ada bakteri baru yang mampu merusak makanan tersebut.
Inilah salah satu riset yang diuji cobakan kepada makanan yang tertutup rapi
dengan kaleng. Maka dengan ini menjadi jelas kebatilan pengertian yang pertama
tadi secara jelas dan gamblang.
Pengertian kedua: Bahwa yang
dimaksud dengan alam ialah sebuah ungkapan untuk menggambarkan tentang aturan dan
hukum alam. Maknanya, bahwa alam konsepnya ialah sifat-sifat dan kekhususan
yang dimilik oleh makhluk hidup. Diantara sifat-sifat tersebut yaitu panas dan
dingin, basah dan kering, halus dan kasar. Dan dua hal yang saling berlawanan,
semisal, gerak dan diam, mati dan hidup, kawin dan lahir. Semua sifat-sifat dan
dua hal yang berlawanan inilah yang dimaksud dengan alam.
Inilah penafsiran yang dikemukan oleh mereka yang
mengatakan bahwa alam lah yang menciptakan dirinya sendiri, dan dianggap bahwa
ini merupakan ilmu sains. Mereka mengatakan, "Sesungguhnya alam semesta
ini berjalan diatas jutaan tahun dengan hukum dan akurasi aturan yang ada pada
setiap partikelnya, dan seluruh kejadian yang ada terjadi sesusai dengan
hukum-hukum tersebut". Lalu mereka memfisualisasikan dengan jam yang
berjalan dengan akurat dan teratur sepanjang tahun, demikian pula alam, maka
berjalan apa adanya dengan dzatnya tanpa ada arah tujuan tertentu.
Sanggahan:
Pertama: Bahwa keterangan diatas
bukanlah sebagai jawaban, namun, lebih tepatnya ingin lari dari jawaban. Hal
tersebut, dikarenakan mereka pada hakekatnya sedang tidak menjawab pertanyaan
yang sedang diajukan, yaitu siapa sih yang menciptakan alam semesta?Akan
tetapi, lebih pasnya, mereka sedang menyampaikan kepada kita tentang bagaimana
proses yang terjadi dialam semesta. Mereka sedang menjelaskan kepada kita
bagaimana sistem kerja pada hukum yang ada di alam semesta ini. Sedangkan yang
kami inginkan yaitu jawaban siapa yang menjadikan alam ini ada, dan yang
menjadikan keakurasian hukum alam itu ada.
Orang purba dahulu mengira bahwa yang menurunkan hujan
adalah langit. Tapi, sekarang ini kita bisa mengetahui secara detail proses
terjadinya hujan turun yaitu dengan adanya penguapan air laut hingga akhirnya
menjadi sebuah hujan.Dan pada realitanya, bahwa semua yang kita saksikan yang
ada di alam adalah visualisasi dari fenomena alam. Bukan sebagai bentuk
penafsiran bagi dzatnya. Ilmu sains tidak mengetahui bagaimana fenomena alam
ini berubah menjadi sebuah hukum alam? Bagaimana pembentukan bumi dan langit
ini yang sangat menakjubkan, hingga demikian bermanfaat bagi penghuninya,
sampai para ilmuwan menjadikan sebagai bahan eksperiman untuk mengungkap
fenomena alam ini secara ilmiah?Sesungguhnya klaim yang dikatakan oleh seorang
manusia setelah berhasil mengungkap fenomena alam bahwa secara absolute sebagai
bentuk penafsiran alam adalah tipuan belaka. Yang diletakan pada rangkaian
hipotesa dan teori yang tidak jelas arahnya.
Kedua: Pengungkapan alam belum bisa
menafsirkan sedikitpun tentang hakekat keberadaan jagad raya. Yang pada
hakekatnya lafad tersebut membutuhkan penafsiran yang lebih gamblang lagi. Hal
tersebut dikarenakan, jika anda bertanya kepada dokter anda, apa faktor yang
menyebabkan warna merah pada darah?
Niscaya dia akan menjawab, bahwa didalam darah ada
sel-sel yang berwarna merah, dan ukuran setiap sel tersebut 1/700 dari setiap
butirannya. Ok, tapi tolong jelaskan kenapa sel-sel ini berwarna merah? Karena
didalam sel-sel darah tersebut terdapat hormon yang bernama Hemogolobin, yaitu
hormon yang memproduksi warna merah tatkala bercampur dengan Oksigen didalam
hati.Cukup menarik, tapi, tolong jelaskan dari mana datangnya sel-sel darah
yang membawa Hemogologin tersebut?Itu diproduksi oleh limpa yang ada dalam
tubuhmu.
Luar biasa, lantas, bagaimana cara menjabarkan tentang
keterkaitan benda-benda yang sangat banyak ini dalam darah, mulai adanya sel,
hati serta lainnya. Satu sama lain saling menopang secara sempurna, sehingga
bisa menjalankan tugas sesuai dengan kewajibannya hingga perkaranya sangat
akurat? Inilah yang kami namakan dengan hukum alam.Akan tetapi, apa yang anda
maksudkan dengan hukum alam tersebut, duhai dokter? Maksudnya, ialah pergerakan
dari dalam, yang tidak bisa dicerna, yang dihasilkan dari kekuatan alam dan
dorongan kimia.
Namun, tolong jelaskan, kenapa kekuatan ini selalu
menghasilkan pada produk yang pasti bisa diketahui? Bagaimana bisa begitu
teratur dan demikian rapi, hingga ada burung yang terbang diatas langit, ikan
hidupnya didalam air, manusia hidup dimuka bumi, dengan segala kemungkinan yang
dimiliki serta kemampuan yang begitu menakjubkan sebagai motor penggeraknya?
Ini tidak masuk kapasitas saya, maka jangan tanyakan hal ini. Sebab ilmu
yang saya milik hanya berkaitan dengan apa yang terjadi, bukan untuk menjawab
kenapa terjadi.
Demikianlah, dari diskusi diatas kita bisa menangkap
secara jelas, akan ketidak cukupan ilmu modern untuk menjabarkan permasalahan
yang berkaitan dengan faktor-faktor yang berada dibalik adanya jagad raya ini.
Dan bagi orang yang mencoba mendalami ungkapan yang diberikan oleh orang yang
berteori tabiat, dirinya akan mendapatkan bahwa semua hipotesa-hipotesa yang
mereka buat hanyalah dibangun diatas sesuatu yang tidak jelas, disebabkan
karena kebodohan mereka atau pura-pura bodoh akan pencipta hakiki.
Ketiga: Sesungguhnya prinsip penyebab
adanya jagad raya telah diakui bersama antara orang-orang yang beriman dengan
orang yang berpaham athies secara teori tapi dimana aplikasinya secara ilmiah?
Dan yang dimaksud dengan sababiyah disini yaitu bahwa
manusia yang telah diberi karunia dengan akal pikiran, semenjak akalnya bisa
berfungsi untuk berpikir dan mencerna benda-benda yang ada disekelilinya, mulai
bertanya, dan senantiasa dan akan terus bertanya mulai dari pertumbuhannya, mau
kemana akhir perjalanan hidupnya? Dan bertanya tentang benda-benda yang ada
disekitarnya, makhluk hidup yang ada, bagaimana bisa ada? Siapa yang
menjadikannya ada? Siapakah aktor utama dibalik ini semua?
Prinsip dasar ini, merupakan bagian dari prinsip kokoh
yang ada pada setiap insan, yang tidak mungkin bisa tergoyahkan sepanjang
masa.Dan masalah ini telah disepakati bersama antara orang-orang beriman dengan
orang-orang atheis.Adapun orang-orang beriman maka mereka mengungkapkan dalam
bentuk teori dan aplikasi nyata.Dan hal ini tidak membutuhkan bukti yang lebih
banyak.Sedangkan orang-orang atheis maka mereka pun menyatakan hal yang sama
dari segi teori, bukti akurat yang menjelaskan hal itu ialah ucapan para tokoh
mereka, diantaranya:
Berkata ulama mereka yang bernama Sparkin Wyhart,
"Dalam setiap aktivitas yang kita kerjakan akan senantiasa muncul sebuah
pertanyaan, tentang alasan adanya benda-benda yang nampak disekeliling kita,
dan pertanyaan tersebut sebagai salah satu sarana yang akan membantu untuk
menjabarkan unsur yang berada didalam semua makhluk hidup yang berada disekitar
kita, hingga sampai pada titik kesimpulan bahwa mereka semua ada bukan perkara
yang terjadi begitu saja.
Sehingga filosof Yunani yang bernama Demokratos
menulis dan membuat statmen, "Saya lebih menguatkan bahwa adanya penyebab
hakiki walaupun hanya mewujudkan satu benda, hingga sekedar untuk merubah saya
menjadi seorang raja di negeri Persia".Bila demikian, lalu apa maksud dari
teori kita sabab (penyebab) dan natijah (hasilnya)? Ilmu
pengetahuan mengajarkan kepada kita bahwa hasilnya adalah nol. Sebab, setiap
benda tentu ada yang melahirkannya, inilah yang mereka namakan dengan sabab.
Dan sabab inilah yang menciptakan dan memproduksi serta melahirkan
benda-benda yang ada. Dan hasil produksi yang berada dibawah tali kendali sabab
dinamakan dengan hasil atau pengaruh".
Inilah hipotesa umum yang dijelaskan oleh orang-orang
yang berpemahaman matrealisme dan atheis, yang mereka ambil dari sisi teori,
tapi, apakah mereka mengaplikasikan hasil terorinya dalam kehidupan nyata?Hal
ini akan menjadi jelas tatkala kita ajukan pertanyaan –yang menjadi akar
perdebatan antara orang-orang beriman dari satu sisi, dan antara paham
matrealisme dengan atheis dari sisi yang lain- pertanyaan yaitu: Siapakah
penyebab yang tidak terlihat dibalik adanya seluruh benda ini, mulai dari bumi,
langit, tumbuhan, binatang, manusia dan lainya dari makhluk-makhluk yang ada?
Dalam pertanyaan ini, kita jumpai mereka telah
mempersiapkan jawabannya secara taktis, yaitu bahwa semua perkara diatas masuk
dalam kategori ilmu Metafisika yang tidak terlalu penting bagi kami untuk
mengetahui satu kondisi dari kondisi-kondisi yang ada. Kita tidak mau
menyibukan akal untuk masalah ini, karena percuma saja, terlalu larut didalamnya
akan menghabiskan waktu. Kita bisa lihat, semua perkara yang menyelisihi teori
mereka –walaupun benar- langsung ditolak, lalu mereka berlindung dengan
menyembunyikan semua cacatnya lalu melegalkan sambil berdalih bahwa itu
termasuk dalam kawasan ilmu Metafisika atau idealisme yang diungkapkan dalam
pengertian mereka dengan melawan kodrat. Mereka tidak mengenal kecuali dunia
yang berisikan materi. Dunia yang telah ada wujudnya tanpa ada yang
menciptakannya, oleh sebab itu tidak ada yang namanya tokoh utama dibalik
adanya seluruh benda ini.
Hal ini sebagaimana dituangkan oleh tokoh mereka,
Lenin dalam tulisannya tatkala mencoba untuk mempresentasikan hipotesa tentang
unsur partikel menurut filosof generasi pertama yang bernama Hipokrates, dia
menerjemahkan ucapannya secara harfiah, "Dunia, satu kesatuan, yang tidak
diciptakan oleh seorang tuhan, tidak pula atas turut campur seorang manusia,
akan tetapi, dunia ini akan tetap ada api kehidupan abadi yang menyulut
kehidupan dan padam selaras dengan hukum alam". Ini merupakan pemaparann
yang sangat baik dalam penjelasan tentang teori materi".
Dalam redaksi ucapannya Lenin ini kita bisa melihat
bahwa dia menafikan aktor utama yang menjadikan alam semesta yang penuh dengan
material ini menjadi ada.Penafikan ini sangat gamblang dalam peraturan yang
mereka tetapkan untuk kelompoknya. Tatkala mereka berhenti pada penafsiran
suatu benda tertentu, mereka tidak akan berani melampaui peraturan tersebut,
sebab, sekali mereka berani melampaui batasan yang telah mereka buat maka akan
mengantarkan untuk mengetahui siapa pencipta alam semesta. Dengan itu,
mendorong mereka untuk mengetahui agama, sedangkan hal itu sama sekali tidak di
inginkan oleh mereka.
Maksud dalam penjelasan ini ialah menerangkan
penafsiran yang mereka ungkapkan dalam menggambarkan pembentukan jagad raya dan
isinya serta perubahan yang terjadi secara alami dan kenapa mereka enggan
menafsirkan tentang hakekat alam tersebut. Itu semua dilakukan oleh mereka
dalam rangka ingin lari dari peraturan sababiyah –yang terkenal dalam istilah
mereka-. Sebab dengan mengaplikasikan hipotesanya akan mengantarkan mereka
untuk mengenali siapa pencipta alam semesta ini. Dan hal ini, sama sekali tidak
di sukai oleh mereka.
Dari sini menjadi jelas, bagaimana rapuhnya pemahaman
kedua ini berkaitan dengan penafsiran alam menurut mereka. Maka tinggal tersisa
bagi mereka pemahaman yang ketiga, walaupun sikap mereka dengan jelas
mengingkari pengertian yang ketiga ini dikarenakan akan berdampak pada tuntutan
bagi mereka untuk menetapkan keberadaan Allah Shubhanahu wa ta'ala, dan tentunya dengan penetapan ini
mengharuskan mereka untuk mau beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta'alasemata tanpa menyekutukan -Nya. Dan pemahaman yang ketiga ini,
konsepnya sebagai berikut:
Pengertian ketiga:
Mengatakan, "Sesungguhnya alam adalah kekuatan yang mendorong proses
pembentukan jagad raya, dan kekuatan tersebut ialah yang maha hidup, mendengar,
melihat, bijak, mampu".
Maka kita katakan pada mereka, "Inilah yang benar
dan hak. Adapun kesalahan kalian yaitu tatkala menamakan kekuatan ini dengan
kekuatan alam. Sedangkan bukti akurat menunjukan kepada kita bahwa kekuatan
yang mampu untuk menjadikan sesuatu yang baru dan dapat menciptakan ialah
sebuah nama yang berhak untuk menyandangnya yaitu Allah azza wa jalla. Dialah
yang telah mengajari kita dengan nama-nama -Nya yang indah serta sifat-sifat
-Nya yang mulia.Oleh karena itu wajib bagi kita untuk memberi nama sesuai
dengan nama yang telah Dia berikan untuk dirinya sendiri".
Dalam hal ini Imam Ibnu Qoyim menjelaskan,
"Seakan-akan saya mendengar engkau mengatakan duhai miskin, "Jagad
raya ini semuanya termasuk hasil produksi alam". Sedangkan bila
diperhatikan didalam alam tersebut dijumpai banyak sekali rahasia dan
keajaibannya. Kalau seandainya Allah Shubhanahu
wa ta'alamenghendaki hidayah kepadamu, niscaya engkau akan bertanya pada
dirimu sendiri, dan engkau akan mengatakan, "Kabarkan padaku tentang alam
ini, apakah dia benda yang berdiri sendiri yang mempunyai pengetahuan serta
kemampuan pada peristiwa dan kejadian alam yang sangat menakjubkan ini? Atau
bukan seperti itu yang kalian inginkan? Namun, realitanya alam ialah bentangan
benda yang mempunyai sifat yang tegak bersama kepribadiannya yang selalu
mengiringi dan disandang oleh benda tersebut.
Saya katakan pada anda, "Dia adalah dzat yang
berdiri sendiri, yang mempunyai ilmu yang sempurna dan kemampuan, keinginan
serta hikmah. Katakan padanya, Dia lah pencipta, yang maha mencipta serta
menguasai. Tidak dinamakan dirinya dengan alam! Demi Allah, dengan mengamati
alam semesta akan mendorong untuk mengetahui siapa penciptanya? Maka mari kita
namakan pencipta tersebut sesuai dengan nama yang diberikan oleh diri -Nya
melalui lisan para rasul -Nya, sehingga engkau masuk dalam barisan orang-orang
cerdas dan bahagia. Karena sesungguhnya benda yang anda sifati dengan alam ini
adalah sifat Allah ta'ala.
Jika ada yang berkata padamu, "Bahkan, fenoma
alam ini adalah bentangan benda yang dibawa yang membutuhkan pada dzat yang
membawanya. Dan ini semua dilakukan tanpa pengetahuan darinya tidak pula
keinginan dan perasaan. Dan buahnya bisa disaksikan secara
seksama".Katakan padanya, "Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa
dipercaya oleh seorang yang akalnya masih waras. Bagaimana bisa muncul fenomena-fenomena
alam ini yang begitu menakjubkan serta rotasi yang begitu detail yang sangat
sulit bisa diketahui oleh seorang paling jenius sekalipun, adanya kekuatan dari
seseorang yang tidak mampu berbuat, tidak punya kemampuan serta perasaan.
Apakah masih percaya dengan omong kosong ini, tidak ada yang percaya kecuali
orang gila dan hatinya sakit".
Lalu katakan pula, "Kalau seandainya benar apa
yang anda klaim, maka sebagaimana dimaklumi bahwa semisal sifat ini bukanlah
dikatakan telah menciptakan dirinya sendiri serta tidak membuat kreasi baru
bagi bentuknya. Sebab masih menyisakan pertanyaan, siapakah rabbnya, yang
membentuknya, serta yang menciptakanya? Siapa yang menjadikan alami dan
membuatnya seperti itu?Maka hal itu sebagai dalil terakurat yang menjelaskan tentang
adanya penguasa alam serta yang mengurusinya, dengan kesempurnaan ilmu, hikmah
serta kemampuan -Nya.Tidak ada yang membawa rasa engganmu, dengan meniadakan
rabb penguasa alam yang mempunyai sifat serta mampu bertindak melainkan
kenylenehanmu yang menyelisihi akal sehat dan fitrah yang selamat.
Kalau seandainya kita hukumi anda sebagai alam niscaya
kita akan mendapati engkau keluar dari konsepnya. Anda berada diluar jauh dari
tuntutan akal sehat, fitrah, tabiat, bahkan sebagai seorang manusia. Maka cukup
hal itu sebagai bentuk kebodohan dan kesesatan yang nyata. Apa engkau ingin
untuk menggunakan akal sehat, maka saya sarankan pada anda, "Tidak mungkin
dijumpai hikmah yang luar biasa dibalik alam semesta ini melainkan dari Dzat
yang maha bijak, maha mampu lagi mengetahui. Tidak mungkin ada keserasian yang
demikian hebat melainkan dari Dzat yang maha mencipta, maha kuasa lagi
menguasai serta mengetahui, apa yang di inginkan pasti mampu teralisasi. Tidak
ada kata-kata sulit bagi -Nya serta tidak ada yang mampu untuk menghalangi
-Nya.
Bila demikian engkau telah berada dipersimpangan jalan
yang sangat jauh dari jalur yang telah ditetapkan, yang tidak ada sesembahan
yang hak melainkan AllahShubhanahu wa
ta'ala, tidak ada rabb yang menguasai selain diri -Nya. Maka segera
tinggalkan penamaan batil dengan dalih alam atau tuntutan akal atau kewajiban
dzatnya. Dia lah AllahShubhanahu wa
ta'ala, maha pencipta, penguasa, yang mencipta semua makhluk, pemilik
semesta alam. Yang menjadikan langit dan bumi tegak, penguasa belahan timur dan
barat, yang begitu sempurna dalam mencipta serta akurat dalam ciptaan.
Lantas apa yang menyebabkan engkau ingkar terhadap
nama-nama dan sifat-sifat -Nya –bahkan terhadap dzat -Nya- lantas engkau
menyandarkan ciptaan dan hasil kreasi -Nya kepada selain AllahShubhanahu wa ta'ala? Sedangkan dirimu
di tuntut untuk menetapkan pada -Nya, engkau diharuskan untuk mengakui ke
elokan ciptaan -Nya, rububiyah -Nya, serta kekuasaan -Nya. Segala puji bagi
Allah Shubhanahu wa ta'ala rabb
semesta alam.
Bersamaan dengan itu jika anda perhatikan secara
seksama dari konsepmu yaitu thabi'ah (alam) serta makna dari lafad ini,
niscaya lafad tersebut akan mengantarkan dirimu untuk mengenal dzat yang maha
mencipta dan menguasai, sebagaimana akal sehat juga akan mengiyakan hal
tersebut. Bagaimana tidak, sebab thabi'ah
adalah kata yang berpola fa'ilah yang bermakna maf'ulah, artinya
kata tersebut bermakna mathbu'ah. Dan tidak bisa dibawa pada makna lain
kecuali makna ini. Dikarenakan thabi'ah dibangun diatas beberapa benda
yang tersusun dari tubuh yang berada dalam anggotanya. Seperti karakter dan
tabiat, insting dan watak, itulah yang menjadi pembawaan seluruh binatang.
Dan sebagaimana diketahui bahwa tabiat tanpa mempunyai
pembawaan dasar adalah perkara yang mustahil. Sehingga didalam lafad thabi'ah
ini menunjukan pada keberadaan Allah ta'ala, sebagaimana terkandung dalam makna
yang ada dalam lafat tersebut. Kaum muslimin mengatakan, "Bahwa thabi'ah
adalah makhluk diantara makhluk-makhluknya Allah Shubhanahu wa ta'alayang diciptakan dan dikuasai.Dan dia termasuk
dari sunahtullah didalam ciptaan yang telah ditentukan oleh -Nya. Kemudian
AllahShubhanahu wa ta'ala mengaturnya
sesuai dengan kehendak -Nya. Jika Allah Shubhanahu
wa ta'alamenghendaki maka bisa saja efeknya diangkat, dan bila Allah Shubhanahu wa ta'alamenghendaki bisa
saja membalikkan kondisinya berlawanan dari yang semula, untuk menunjukan
kepada para hamba -Nya akan kekuasaan -Nya dalam mencipta dan mengurusi,
bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta'alamaha
mencipta sesuai dengan kehendaknya. Sebagaimana disebutkan dalam firman -Nya:
﴿ إِنَّمَآ
أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيًۡٔا أَن يَقُولَ
لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٨٢﴾ [ يس : 82]
"Sesungguhnya keadaan-Nya
apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:
"Jadilah!" Maka terjadilah ia". (QS Yaasin: 82).
Sesungguhnya thabi'ah yang berhasil diamati dari binatang semisal
kelelawar menunjukan bahwa thabi'ah yang dibawa hanyalah makhluk dari
makhluk-makhluk -Nya yang sama kedudukannya seperti
makhluk-makhluk yang lainnya".[58]
[1]. Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 10/197-198.
[2]. Jawabul Kaafi hal:
310 oleh Ibnu Qayim.
[6]. Ibid.
[7]. Jawabul Kaafi hal:
310-312.
[8]. Tajridu Tauhid
Mufid hal: 14 oleh Imam al-Miqrizi.
[9]. Dafaatir
Falsafiyah 1/32 oleh Lenin.
[10]. Lihat dalam
kitabnya Stalin yang berjudul al-Maadiyah Deyalkiyah wa Maadiyah Tarikhiyah
hal: 29.
[11]. Asas Madiyah hal:
29 Alih bahasa Muhammad al-Jundi.
[12]. Ushul Falsafah
Marksiyah 1/206 alih bahasa oleh Sya'ban Barakat.
[13]. Sparkin dalam
kitabnya Asas Maadiyah hal: 30-31.
[14]. Nushushu Mukhtar
hal: 98.
[15]. Itijahaat Fikriyah
al-Mu'ashirah wa Mauqif Islam minha hal: 44-45 oleh D. Jum'ah al-Khawali.
[16]. Lihat dalam kitab
Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 5/538-539, dan Dar'u Ta'arudh al-Aql wa Naql 1/122.
[17]. Ibid.
[18]. Tafsir Ibnu Katsir
4/150.
[19]. Lihat
keterangannya dalam kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 46-47. D. Jum'ah
al-Khawali.
[20]. Lihat
keterangannya dalam kitab Aqa'id Fikriyah fil Qarn I'syrin hal: 36 oleh Abbas
Mahmud.
[21]. Ibid.
[22]. Asas Marksiyah
Leniniyah hal: 102-103. Kumpulan Ilmuwan Uni Soviet.
[23]. Kafasyif Zuyuf
hal: 487 oleh Prof Abdurahman bin Hasan al-Maidani.
[24]. Itijahaat Fikriyah
hal: 181 oleh D. Jum'ah al-Khuwali.
[25]. Lihat bantahan
atas mereka secara luas dalam kitab Marksiyah fii Muwajahah Diin, Haqaiq wa
Watsaiq hal: 25-26 oleh D. Abdul Mu'thi Muhammad Bayumi.
[26]. Shara' ma'al
Mulahidah hatta Idham hal: 105-106. D. Hasan al-Maidani.
[27]. Majmu Fatawa
13/151 Ibnu Taimiyah.
[28]. Majmu Fatawa Ibnu
Taimiyah 18/236-237.
[29]. Lihat
keterangannya dalam kitab Dar'u Ta'arudh al-Aql wa Naql 3/113.
[30]. Majmu Fatawa
18/235-236.
[31]. Seperti disinyalir
oleh Allah dalam firmanNya, artinya: "Dan bertawakkal lah kepada Allah
yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya".
QS al-Furqan: 58.
[32]. Sebagaimana
disebutkan oleh Allah dalam firmanNya, artinya: "Dan sesunguhnya telah aku
ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama
sekali". QS Maryam: 99. Dan juga dalam firmanNya, yang artinya:
"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia
ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?". QS al-Insaan: 1.
[33]. Lihat
keterangannya dalam kitab Aqidah Islamiyah wa Asasuha hal: 125-130 oleh
Abdurahman bin Hasan al-Midani.
[34]. Lihat
penjelasannya oleh Imam Ibnu Qayim dalam bukunya Miftah Daa'rus Saa'adah
2/62-63.
[35]. Sebagaimana dalam
firman Allah ta'ala, artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan
(penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan)
bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap
bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas
bayang-bayang itu". QS al-Furqaan: 45.
Dan juga firmanNya:
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan
langit dan bumi dengan hak? jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu
dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru". QS Ibrahim: 19.
Demikian dalam firmanNya:
"Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi
kering; Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?".
QS al-Mulk: 30.
[36]. Sebagaimana
kesempurnaan ciptaan Allah ini telah di isyaratkan didalam firmanNya: "Dan
kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, padahal ia
berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan
kokoh tiap-tiap sesuatu, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan". QS an-Naml: 88.
[37]. Seperti di
sinyalir oleh Allah didalam firmanNya: "Semua yang ada di bumi itu akan
binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan
kemuliaan". QS ar-Rahman: 26-27.
[38]. Lihat beberapa
buku yang menjelaskan masalah ini, semisal: ad-Durah wa manafi'uha salmiyah
hal: 14 oleh Martin Man terjemah D. Abdul Hamid Amin. Maadah Didhu Maadah hal:
17. oleh Mauris Dokke. Dan lain-lain.
[39]. Allah Yatajalla
fii Ashri Ilmi hal: 27 oleh sekumpulan Ilmuwan Amerika.
[40]. Itijahaat Fikriyah
Mu'ashirah hal: 128 oleh D. Jum'ah al-Khawali.
[41]. Itijahaat Fikriyah
Mu'ashirah hal: 182 oleh D. Jum'ah al-Khawali.
[42]. Allah Yatajalla
fii Ashri Ilmi hal: 25 oleh sekumpulan Ilmuwan Amerika.
[43]. Asas Maadiyah hal:
60-61 oleh Sparkin Yahut.
[44]. Insan wal Irtiqa'
hal: 8-10 oleh John Lees.
[45]. Mauqif Islam min
Nadhariyah Marks hal: 290 oleh Ahmad al-Awayisyah.
[46]. Bantahan ini
banyak mengambil dari kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 182-183 oleh D.
Jum'ah al-Khawali.
[47]. Kawasyif Zuyuf
hal: 516-517 oleh al-Midani.
[48]. Lihat
keterangannya dalam kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 182-183 oleh D.
Jum'ah al-Khawali.
[49]. Lihat berita
tentang kongres ini dalam kitab Qishah Tathawur hal: 11-23 oleh D.Anwar Abdul
Halim.
[50]. Lihat penukilannya
dalam kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 182-183 oleh D. Jum'ah
al-Khawali.
[51]. Ibid.
[52]. Lihat keteranganya
dalam kitab Kawasyif Zuyuuf hal: 517 oleh Al-Maidani. Shura'u ma'a Mulahidah
hal: 116 oleh Abdul Halim Khafaji. Dan Hiwaar ma'a Syuyu'iyiin hal: 104-105.
[53]. Asaas Maadiyah
hal: 60-61 oleh Sparkin.
[54]. Kawasyif Zuyuuf
hal: 560-562 oleh Abdurahman Hasan al-Maidani.
[55]. Lihat penukilannya
dalam kitab Kawasyif Zuyuuf hal: 492 oleh Abdurahman Hasan al-Maidani.
[56]. al-Insan wal
Irtiqa' hal: 8-10 oleh John Lewis.
[57]. Lihat dalam
Lisanul Arab 8/118 oleh Ibnu Mandhur.
[58]. Miftah Daar
Sa'adah 2/196-198 oleh Ibnu Qayim.

Komentar
Posting Komentar