| ||||||||||||||
Bagian Ketiga
Saudara, selamat bersua kembali dalam rangkaian acara
yang membahas gerakan misionaris Kristen di negara-negara Islam. Pada pertemuan
yang lalu, kami sudah menyampaikan pembahasan alasan kerjasama antara gerakan
misionaris dan imperialisme berakar dari Perang Salib dan kedengkian mereka atas
kemajuan peradaban Islam yang sangat pesat. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan
membahas akibat-akibat kehadiran misionaris di negara-negara Islam.
Pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas Masehi,
misionaris Eropa masuk ke negara-negara Islam dan memulai kegiatannya secara
luas. Awalnya, gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan pemikiran Kristen dan
mengganti agama kaum muslimin. Namun, usaha mereka mengalami kegagalan. Karena
itu, mereka mengganti metode penyeberluasan misi mereka. Alih-alih mengajarkan
ajaran Kristen, mereka malah mempropagandakan kebudayaan Barat dan nasionalisme.
Metode ini banyak dilakukan oleh misionaris asal Amerika. Berdasarkan pengakuan
sebagian penulis Barat, seperti George Antonius, benih-benih pemikiran pertama
Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme secara terus-menerus
ditanamkan oleh misionaris Kristen di negara-negara Islam. Tujuan mereka adalah
untuk memperlemah keyakinan kaum muslimin di kawasan itu tehadap agama Islam dan
mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme di sana. Para misionaris,
dengan mendirikan sekolah-sekolah, pusat keilmuan, dan universitas, menyebarkan
dasar-dasar pemikiran Barat dan dengan jalan ini mereka mempromosikan peradaban
Barat di dunia Islam.
Universitas St. Joseph di Suriah dan Universitas
Amerika di Beirut dan Libanon, adalah beberapa contoh dari pusat keilmuan yang
didirikan para misionaris. Tentang aktivitas dua universitas itu, J.B. Gibb
dalam bukunya “Suriah, Libanon, dan Jordania” menulis, “Kedua universitas ini
membuka jalan bagi masuknya pemikiran Barat ke Suriah, Libanon, dan Jordania dan
unsur pemikiran baru yang terpenting yang mereka sebarkan adalah nasionalisme.”
Universitas St. Joseph didirikan pada tahun 1874 Masehi, sementara Universitas
Amerika di Beirut didirikan tahun 1866. Universitas St. Joseph menekankan pada
pengkristenan kaum muslimin dan penyebaran kebudayaan Barat di Suriah. Sementara
Universitas Amerika di Beirut yang nama awalnya adalah Sekolah Protestan Suriah,
berusaha menyampaikan pahamnya dengan metode westernisasi dan liberalisasi.
Universitas ini menerapkan rencananya dengan jalan menyebarluaskan materialisme,
nasionalisme, dan liberalisme. Oleh karena itu, Universitas Amerika di Beirut
dengan tujuan memecah-belah dunia Islam dan kaum muslimin, mempropagandakan
nasionalisme Arab dan anti-Turki.
Akibat pengajaran sistem pendidikan Barat yang
dilakukan oleh kedua universitas ini dan universitas serupa lainnya yang
didirikan di berbagai negara Islam, terjadi gelombang penjajahan budaya dan
penindasan budaya pribumi dan juga masuknya ideologi-ideologi dan pendidikan
Barat. Namun, bidang industrialisasi dan kemajuan ekonomi dan ilmu-teknologi
sama sekali tidak dikembangkan di negara-negara Islam. Joseph Szyliowicz, dalam
bukunya yang berjudul Pendidikan dan Modernisasi di Timur Tengah mengakui bahwa
program-program kedua universitas ini lebih banyak bermanfaat bagi Perancis dan
Amerika daripada memenuhi kebutuhan masyarakat Timur Tengah.
Pengakuan ini menjelaskan jatidiri dan tujuan yayasan
pendidikan yang didirikan oleh misionaris. Yayasan-yayasan itu jelas-jelas
merupakan alat propaganda dan westernisasi yang bertujuan untuk mengamankan
posisi kaum imperialis. Dengan memperhatikan catatan sejarah, masuknya
misionaris ke negara-negara Islam biasanya diikuti oleh para pedagang Eropa.
Menyusul setelah itu, datang pula tentara-tentara Inggris, Perancis, Portugis,
Belgia, dan Rusia. Setelah pemerintahan imperialis berdiri, para penjajah itu
amat melindungi gerakan misionaris dengan tujuan agar penyebaran kebudayaan
Barat terus berlanjut. Perlindungan ini tampak dalam berbagai bentuk materil dan
moril. Contohnya, dalam masalah pendidikan, pemerintah imperialis memberikan
dana yang cukup bagi pendirian berbagai yayasan oleh misionaris. Di samping itu,
sistem pendidikan serta tanah air yang mereka kuasai, secara terbatas
diserahkan kepada misionaris untuk dikelola.
Salah satu tujuan sekolah-sekolah dan pusat-pusat
keilmuan yang dikelola oleh misionaris adalah mendidik manusia menjadi penurut
dan pendiam. Seperti misalnya di Afrika, misionaris mendidik rakyat Afrika agar
tidak menentang hukum. Patrice Lumumba, ketua Gerakan Nasional Kongo, yang
pernah belajar di sebuah sekolah misionaris, dalam bukunya “Hidup dan
Peperanganku” menulis:
“Tidak pernah bisa kupahami mengapa di sekolah-sekolah
selalu diajarkan kepada kami agar menjaga dasar perdamaian dan kesucian
Al-Masih, sementara di luar sekolah orang-orang Eropa melakukan penindasan
kepada kami.”
Di sini kita bisa menyimpulkan bahwa misionaris juga
memainkan peranannya dalam menenangkan warga pribumi dan menidurkan semangat
perlawanan mereka terhadap penjajah. Misionaris juga berada di balik peristiwa
pembunuhan Patrice Lumumba di Katanga pada periode Musa Chumbe tahun 1961,
perang dalam negeri Nigeria, juga pembangkangan dan revolusi bersenjata
separatis Kristen di selatan Sudan.
Ahmad Sekou Toure, Presiden Ghana pada tahun 1983,
telah mengusir semua misionaris Eropa dari negara itu. Sekou Toure adalah
pemimpin perjuangan rakyat melawan penjajahan Perancis di tahun 1957. Dalam
masalah pengusiran misionaris Eropa ini, dia berkata bahwa misionaris agama dan
pendeta Eropa adalah musuh terbesar Afrika karena mereka melakukan kegiatan
mata-mata dan perusakan.
Bagian Keempat
Meskipun India bukanlah negara
muslim, namun aktivitas para misionaris di sana juga patut kita cermati. Di
negeri ini, para misionaris ternyata menggunakan metode lain, yaitu dengan
berkedok sebagai turis. Pendeportasian seorang misionaris Amerika Joseph W.
Cooper dari India memperlihatkan aktivitas ilegal kaum misionaris di kawasan
barat India.
Cooper adalah seorang misionaris
Amerika yang berkunjung ke India dengan menggunakan visa turis. Tapi, ia di sana
malah sibuk menyampaikan agama Kristen. Pemerintah India akhirnya memberikan dia
tempo satu minggu untuk meninggalkan India. Menurut polisi India, Cooper telah
melanggar undang-undang tahun 1995 pemerintah India. Berlandaskan kepada
undang-undang ini, tidak dibenarkan seseorang melakukan aktivitas penyebaran
agama dengan menggunakan visa turis.
Sebenarnya, tidak ada laporan
menyangkut isi ceramah misionaris Kristen di Propinsi Kerala itu. Tetapi,
serangan terhadapnya oleh sekelompok extremis Hindu hingga ia cedera,
memperlihatkan betapa sensitifnya ucapan Joseph W. Cooper. Untuk mencegah
berlanjutnya ketegangan, sembilan orang anggota sebuah organisasi extrim
Rashtriya Swayamsevak Sangh telah ditangkap.
Pengesahan undang-undang tahun
1995 mengenai larangan aktivitas penyebaran agama bagi pengunjung yang memiliki
visa turis menunjukkan bahwa kasus serupa pernah terjadi. Untuk menghalangi
aktivitas misionaris agama yang menggunakan visa turis itulah akhirnya
pemerintah India telah mengesahkan undang-undang ini. Dengan melihat keragaman
ras, agama, dan bahasa, juga kemiskinan yang meluas, India merupakan lapangan
yang potensial bagi aktivitas misionaris agama.
Pertumbuhan penduduk secara
berlebihan, juga keterbatasan sumber dana pemerintah India untuk melaksanakan
program pembangunan, kesehatan, dan pendidikan, telah menyebabkan meningkatnya
kemiskinan di India. Selain masalah kemiskinan, terdapat 44 persen orang dewasa
di India yang buta huruf. Ini merupakan salah satu faktor pendukung maraknya
aktivitas misionaris agama di negara tersebut. Dari sudut ini, yang
mengkhawatirkan pemerintah India ialah pemanfaatan atas kondisi ini oleh pihak
asing untuk mencapai tujuan dan kepentingan mereka.
Salah satu metode negara asing
ialah pengiriman para misionaris dengan kedok turisme. Oleh sebab itu,
pemerintah India memperhatikan perilaku para turis dengan lebih teliti sehingga
mereka jangan sampai berceramah masalah keagamaan.
Aktivitas misioner di India
sepanjang tahun-tahun terakhir ini telah menggerakkan sentimen orang-orang Hindu
extrim dan meningkatkan kekerasan berdarah. Tampaknya sentimen atas gerakan
misioner ini menjadi bertambah kuat dengan berkuasanya Partai Bharatiya Janata.
Extrimis Hindu memiliki agenda pelaksanaan kebijakan Hinduisme di India dan
aktivitas religius apapun yang berpotensi menyinggung agama Hindu pasti akan
ditentang.
Orang-orang Kristen yang merupakan
dua persen dari satu milyar penduduk orang India, hingga kini hidup dalam
keadaan damai dengan para penganut agama lain ataupun kelompok minoritas
lainnya.
Oleh karena itu, terdapat
kekhawatiran dalam masyarakat Kristen India bahwa sebagian oknum ingin
menjalankan aktivitas misionernya di bawah kedok turis, dan masalah ini bisa
menyebabkan hubungan Hindu dan Kristen menjadi runcing.
Menurut pandangan para pengamat
politik, dengan memperhatikan kondisi ekonomi rakyat negara-negara Asia Selatan,
lahan aktivitas misioner tidak saja terbatas di India. Di negara-negara lain
juga aktivitas itu sangat mungkin ada. Oleh karenanya, keberhasilan aktivitas
misionaris Kristen berkedok turisme di India itu akan berakibat kepada semakin
merebaknya aktivitas serupa di kawasan lain.
Dari sudut ini, para pengamat
percaya bahwa salah satu faktor meningkatnya perang di antara kelompok di
kawasan Asia Selatan termasuk India, ialah aktivitas misionaris agama. Dalam hal
ini, salah satu metode adikuasa dan imperialis untuk mengembangkan
infiltrasinya, ialah dengan menggunakan missionaris di perbagai kawasan dunia.
Memberi hadiah dan membangun pusat yang secara lahiriah memberikan manfaat
pragmatis bagi masyarakat setempat, termasuk salah satu langkah misioner di
berbagai negara.
Sebagaimana yang disebutkan dalam
surat kabar, misionaris yang telah dideportasi dari India itu sebenarnya telah
bertahun-tahun keluar masuk ke negara ini. Realitas ini menyebabkan kekhawatiran
pemerintah India bahwa dengan menggunakan paspor turis, Joseph W. Cooper telah
mengunjungi berbagai kawasan untuk meneliti tradisi, budaya, serta kondisi
sosial-politik dan kebudayaan setempat.
Sebagian organisasi India dan
aktivis keagamaan menilai aktivitas misionaris Amerika di bawah kedok turisme
itu dilakukan secara terorganisir. Karenanya, aktivitas agama Kristen mendapat
reaksi negatif yang sangat keras.
Karena dianggap menciptakan
suasana saling curiga di antara orang-orang Hindu dan Kristen, pada tahun-tahun
lalu, sejumlah gereja diserang oleh orang yang tidak dikenal. Tahun 2000 lalu,
untuk pertama kalinya selepas kemerdekaan India, minoritas Kristen India merasa
tidak aman. Sebagian organisasi India melihat aktivitas misioner untuk menarik
orang-orang Hindu kepada agama kristen itu dilakukan dalam rangka sebuah
program yang meluas dengan tujuan untuk mengubah India menjadi sebuah negara
Kristen. Oleh sebab itu, Hindu extremis menentang keras kehadiran misionaris
agama.
Tahun 2000 lalu, kelompok Bajrang
Dal, sebuah cabang militer Organisasi RSS meminta penganut Kristen supaya
dikeluarkan dari wilayah Uttar Pradesh. Dengan demikian, yang menciptakan
kekhawatiran tidak saja aktivitas agama misioner dan ruhaniawan
Kristen.
Tentu saja, sikap fanatisme
ekstrim kaum Hindu di India tidak hanya mengambil korban kaum Kristen, melainkan
juga umat muslim India yang telah hidup di India sejak berabad-abad yang lalu.
Umat muslim India bahkan turut serta secara aktif dalam perang memperjuangkan
kemerdekaan India.
Reaksi yang ditunjukkan oleh
kelompok extrim Hindu di India sangatlah mengkhawatirkan. Peperangan berdarah di
antara umat beragama terjadi di berbagai kawasan India. Dalam hal ini,
dipastikan bahwa tidak ada satu golongan pun yang akan mendapatkan
keuntungan.
Bagian Kelima
Saudara pendengar, pecinta Radio Melayu Suara
Republik Islam Iran, selamat bersua lagi dalam rangkaian acara “Gerakan
Misionaris di Negara-Negara Muslim” bagian ke lima”. Dalam acara bagian lalu,
kami sudah menyampaikan pembahasan mengenai metode para misionaris Barat dalam
memilih orang-orang pribumi dan mengajarkan dasar-dasar ajaran Kristen. Kami
juga sudah menyampaikan pembahasan mengenai pendirian berbagai lembaga keilmuan
dan universitas di berbagai negara Eropa dan Amerika yang bertujuan untuk
mendidik para misionaris. Pada pertemuan kita kali ini, kami akan mengajak Anda
untuk membicarakan karakteristik delegasi misionaris yang dikirim ke berbagai
negara muslim itu. Selamat mengikuti.
Para misionaris Kristen yang dikirim oleh
berbagai pusat keagamaan di Barat ke berbagai negara dunia ketiga, termasuk
negara-negara Islam, bekerja secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Mereka
memiliki tujuan yang berbeda-beda. Sebagian dari mereka bekerja untuk menarik
perhatian terhadap ajaran Al-Masih dan memberi pengajaran, sebagian untuk
berdialog, dan sebagian lainnya datang untuk bekerja di pusat-pusat keilmuan dan
pengajaran gereja-gereja.
Berkaitan dengan hal ini, meskipun tujuan asli
mereka adalah menyebarkan agama Kristen, namun ada sekelompok misionaris datang
dengan berbagai tujuan yang ditentukan oleh gereja dengan berkedok di balik
berbagai profesi, seperti dokter, insinyur, psikolog, dosen, pedagang, dan
penasehat militer. Tentu saja ada pula kelompok misionaris yang datang secara
terang-terangan sebagai pendakwah resmi agama Kristen. Berdakwah di balik kedok
berbagai profesi merupakan metode yang paling banyak dipakai para misionaris.
Dengan cara ini, mereka bisa menyampaikan ajaran Kristen tanpa perlu
memberitahukan kepada penduduk pribumi mengenai tujuan asli mereka.
Salah satu delegasi misionaris yang bisa kita
jadikan bahan pembahasan adalah delegasi misionaris Inggris yang dikirim ke
Uganda. Menurut buku “Century of Christiating in Uganda”, anggota delegasi
misionaris itu adalah Stephan Shergoldsmith, seorang perwira angkatan laut yang
menjadi ketua delegasi ini; C.T. Wilson, seorang uskup lulusan Universitas
Oxford; James Collyhust, seorang arsitektur; James Robertson, seorang petani;
dan John Smith, seorang dokter. Anggota-anggota lain delegasi ini berprofesi
sebagai insiyur teknik sipil dan ahli mekanik. Dalam komposisi ini, bisa
terlihat bahwa anggota delegasi misionaris yang berprofesi sebagai ruhaniwan
hanya satu orang. Namun demikian, semua anggota delegasi itu mengambil peran
sesuai dengan profesinya dalam kegiatan penyebaran agama Kristen.
Para misionaris itu, dengan menggunakan prinsip
psikologis dan ilmu-ilmu lainnya, berusaha menancapkan pengaruh mereka di hati
orang-orang pribumi dan dengan cara itu, mereka menyebarkan ajaran Kristen.
Bahkan, di negara-negara muslim, para misionaris berusaha mempelajari ajaran
Islam demi menarik perhatian penduduk pribumi. Salah satu contoh dalam hal ini
adalah penggunaan ayat Al-Quran berkenaan dengan Isa Al-Masih oleh para
misionaris sebagai alat untuk memperkenalkan ajaran Kristen kepada penduduk
pribumi negara-negara muslim. Al-Quran menyebut Al-Masih sebagai Ruhullah atau
RuhTuhan.
Para misionaris dengan menunjukkan ayat ini dan
menyebut nama Quran berusaha untuk menarik perhatian penduduk pribumi.
Kemudian, mereka menyampaikan pandangan Kristiani mereka berkenaan tentang Isa
Al-Masih dan syafaat Al-Masih terhadap para pengikutnya. Dengan demikian, tujuan
mereka untuk menyampaian ajaran Kristen dilakukan dengan cara tidak langsung dan
dengan menarik kepercayaan dan keyakinan kaum pribumi.
Karakteristik lain dari delegasi misionaris ini
adalah pengenalan mereka terhadap adat istiadat penduduk pribumi. Mereka
mempelajari bahasa-bahasa pribumi sehingga bisa berhubungan langsung dengan
penduduk pribumi. Mereka juga mempelajari kebudayaan pribumi agar bisa menarik
perhatian para penduduk di sana dan kemudian memanfaatkan kelebihan dan
kekurangan kebudayaan asli itu untuk menyebarkan ajaran mereka. Para misionaris
dengan berdialog dan berhubungan langsung dengan penduduk pribumi dan masuk
dalam kehidupan pribadi mereka, menyelami rahasia kehidupan mereka, dan
memanfaatkannya demi mencapai tujuan misionarisme.
Doktor Mustafa Khaledi dan Doktor A. Farukh,
penulis buku “Misionaris dan Imperialisme” dengan menyebutkan berbagai contoh
alasan-alasan pengiriman misionaris ke berbagai negara muslim menyatakan bahwa
tujuan para misionaris itu bukanlah perbaikan kehidupan maknawi penduduk
pribumi, melainkan merusak dan menjadikan kaum muslimin berada di bawah
kekuasaan mereka. Dalam salah satu bagian buku ini, disebutkan pula bahwa
seorang misionaris bernama Roise di Tarablus barat pernah berkata, “Penyebaran
ajaran Kristen di Tarablus sangatlah sulit. Setelah lima belas tahun berusaha,
baru saya memahami bahwa satu-satunya cara untuk mengkristenkan bangsa ini
adalah dengan mempengaruhi mereka dan mengubah kehidupan pribadi dan perilaku
khusus mereka sehingga dengan cara ini kami bisa mencapai tujuan
kami.”
Kardinal Lavigerie dan Charles De Foucauld
melarang anggota delegasi misionarisnya menggunakan cara-cara langsung dalam
menyebarkan ajaran Kristen, terutama bila berhadapan dengan kaum muslimin. Speer
E. Robert, juga mengajarkan kepada para misionaris agar menjauhi pembahasan dan
perdebatan dengan kaum muslimin dan memulai pekerjaan mereka dari poin-poin yang
selaras dengan ajaran Islam. Misionaris lainnya, J.H.Bavick, menghimbau agar
para misionaris berhati-hati sehingga dalam pikiran para pribumi tidak tercipta
gambaran bahwa para misionaris itu menganggap peradaban dan kebudayaan mereka
lebih tinggi dari kebudayaan kaum pribumi.
Masalah ini juga disinggung oleh William
Montgomery Watt dalam bukunya “Muslim-Christian Encounter”. Dia menulis, “Para
misionaris, sebagaimana orang Eropa lainnya, menganggap diri mereka lebih unggul
daripada kaum pribumi. Dengan anggapan seperti ini, para misionaris secara
gradual malah mencampuradukkan ajaran Kristen dengan keyakinan atas superioritas
orang Eropa atau peradaban Barat.”
Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa
kegiatan penyebaran agama menurut pandangan para misionaris adalah menciptakan
perubahan dalam pikiran umum sesuai yang mereka inginkan demi tercapainya
tujuan asli mereka. Dalam rangka ini, ajaran Kristen memperbolehkan mereka
menggunakan cara apapun juga.
Bagian Keenam
Salah satu metode penyerangan Barat terhadap kebudayaan
dan berbagai ajaran slam, ialah dengan mengadakan berbagai penelitian dan
penyelidikan mengenai Islam. Para misionaris merupakan peneliti Barat pertama,
yang hadir di berbagai negara Islam dan melakukan penelitian mengenai Islam dan
kaum muslimin. Di masa-masa lalu, motivasi terpenting para misionaris adalah
motivasi agama. Sebagian besar tulisan-tulisan mereka mengenai Islam menggunakan
berbagai sumber abad pertengahan dengan memperhatikan kondisi waktu itu,
misalnya berbagai perang Salib, dan interaksi antara kaum muslimin dan kristen
di Andalusia dan Spanyol.
Berbagai tulisan tersebut dibuat agar orang-orang
Kristen Eropa berpandangan jelek terhadap Islam. Tujuan utama para misionaris
pada tahun-tahun tersebut ialah untuk menjauhkan orang-orang Kristen dari
pengenalan atas Islam yang sebenarnya. Para misionaris tersebut berupaya
menunjukkan pandangan dan citra Islam yang negatif dan mereka menggambarkan
wajah Islam yang telah tercoreng dan tidak bisa diterima dikalangan masyarakat
Barat. Tentu saja, setelah terjadinya Renaisance, motivasi politik dan ekonomi
telah bercampur-baur dengan motivasi agama.
Pada tahun-tahun ini, terbentuklah kelompok baru dari
kalangan peneliti Barat yang disebut sebagai orientalis atau ahli ketimuran,
yang secara lahiriah mengadakan penelaahan dan penelitian mengenai Islam dengan
cara dan metode ilmiah. Namun, beberapa lama kemudian terbukti bahwa penelitian
ini menghasilkan penulis-penulis yang menulis mengenai Islam dengan cara
menyimpang dan tendensius. Mereka berusaha menciptakan keragu-raguan terhadap
agama-agama samawi.
Para
misionaris selalu berusaha menciptakan keragu-raguan terhadap Islam dan
menghapuskan kesucian agama Ilahi ini. Mereka mengenalkan agama Islam sebagai
sebuah agama duniawi yang jauh dari nuansa dan eksistensi Ilahi. Mereka
menginginkan agar proses tahrif atau penyelewengan yang terjadi pada sejarah dua
agama Ilahi terdahulu, yaitu Yahudi & Kristen, juga terjadi dalam sejarah
agama Islam. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah Yahudi dan Kristen,
tampil sebuah kelompok yang mengklaim diri sebagai pendukung utama agama.
Orang-orang tersebut, meski secara lahiriah menjaga dan berpegang teguh pada
risalah mereka, yaitu Taurat dan Injil, namun secara bertahap menyampaikan
khutbah-khutbah yang bertentangan dengan kitab suci mrka.
Penyimpangan dalam kedua agama ini terlihat secara
jelas dan bahkan diakui oleh para pemuka gereja dengan dikeluarkannya sebuah
perintah dari Paus untuk membentuk sebuah komisi penyelidikan khusus guna
menyusun penafsiran baru terhadap Injil. Masalah ini dilaporkan oleh berbagai
kantor berita pada tahun 1993. Komisi penelitian itu menyebutkan bahwa setelah
mengadakan pengkajian dan mengamatan berbagai segi terhadap berbagai versi kitab
Injil, disimpulkan bahwa isi kitab tersebut tidak relevan dengan hukum-hukum
Ilahi.
Surat kabar Australia “Australian” terbitan Sydney,
pada tahun 1995 telah melaporkan berita bahwa Dewan Yahudi dan Kristen Australia
mengusulkan penghapusan nama orang-orang Yahudi dari Injil, kemudian diganti
dengan nama-nama sebagian penduduk Baitul Maqdis. Surat kabar Australia ini
menulis bahwa revisi terhadap berbagai pasal Injil yang bertujuan untuk
menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan umat manusia dewasa ini, mendapatkan
reaksi negatif dan luas dari kalangan orang-orang
Kristen.
Para
misionaris dengan memunculkan berbagai keraguan terhadap dengan kitab suci kaum
muslimin, yakni Al-Qur’anul Karim, berusaha mengurangi nilai kesucian kitab
Ilahi ini. Para misionaris ini meyakini bahwa melalui cara tersebut… yang
terjadi dalam agama yahudi dan Kristen juga terjadai dalam agama Islam. Oleh
karena itu, salah satu cara propaganda kelompok misionaris dan orientalis ini,
berusaha agar orang-orang Islam menerima bahwa Nabi saww memiliki guru
orang-orang Yahudi dan Kristen. Hal ini dinyatakan oleh David Shamuel
Margoliuth, seorang dosen Univ. Oxford yang hidup antara tahun 1858 sampai 1940.
Dalam bukunya yang berjudul “Mohammad and The Rise of
Islam dia menulis bahwa Jabir adalah seorang guru yang mengajar Nabi Muhammad.
Lalu, setelah dia mendengar wahyu Ilahi yang disampaikan oleh nabi Muhammad,
uaitu beberapa ayat dari Surat Yusuf, jabir pun akhirnya masuk Islam. Fakta yang
ditulis Margoliuth ini memiliki kontradiksi. Bagaimana mungkin seseorang yang
awalnya adalah guru nabi, kemudian bisa dipengaruhi oleh muridnya dan memeluk
agama Islam?
Metode dakwah kaum Misionaris, selalu menyelewengkan
Islam dan berupaya untuk merendahkan nilai-nilai Islam, serta menunjukkan wajah
buruk Islam yang jauh dari peraban kaum muslimin. Hendry Jesp seorang
propagandis AS, menyebut kaum msulimin tidak berperadaban, menulis : Islam telah
memberikan pukulan yang telak terhadap kebudayaan dan peradaban manusia. Tidak
bisa dilupakan bahwa dalam periode kegelapan Abad Pertengahan, dimana saat itu
Eropa berada dibawah kekuasaan Gereja, sehingga tak seorang pun dapat berkata
dengan Ilmu, namun kaum muslimin telah berpengalaman dan menjadi bukti sejarah,
betapa mereka yang senantiasa dibawah ajaran-ajaran Islam, telah tampil menjadi
pelopor pada salah satu periode berkembangnya Ilmu dan Peradaban Sejarah Ummat
Manusia.
Ny. Dr. Zigrid Hunakeh seorang peneliti Jerman dalam
sebuah buku yang berjudul : Kebudayaan Islam di Eropa, menyinggung berbagai
kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Industry kaum Muslimin. Beliau dalam mukaddimah
bukunya menulis : Meski Dunia Islam timbul di Eropa spanjang 1400 tahun, namun
berbagai informasi mengenai peradaban Islam sangat sedikit mereka peroleh bila
dibandingkan dengan berbagai peradaban lainnya, meski demikian kebanyakan
informasi mengenainya (Islam) adalah salah…Dan ini merupakan dosa orang-orang
Barat dalam sejenis penulisan sejarah, yang senantiasa mencegah menjelaskan
hakikat. Para penulis sejarah Kristen sengaja melakukan penyelewengan yang
serius terhadap kaum muslimin, sehingga pekerjaan-pekerjaan yang besar berupa
Peradaban Islam nampak menjadi remeh dan tidak ada artinya samasekali. Bahkan
para penulis sejarah yang baru, juga melakukan tekhnik meremehkan semacam ini,
sekecil apapun konspirasi yang nampak mereka tutup mulut dan membiarkan hal itu
terus berlanjut.
Ny. Dr. Zigrid Hunakeh dalam lanjutan pernyataannya menulis : Seseorang tidak bisa berkata apapun, dimana pada Abad-abad perengahan tetangga Eropa yang paling dekat adalah kaum Muslimin, yang selama 800 tahun menjadi pelopor Dunia Peradaban. Berkembangnya Peradaban Islam mencapai dua kali lipat Peradaban Yunani, sehingga mempengaruhi Dunia Barat. Siapa lagi yang berbicara dari kenyataannya, dan siapa pula yg disebut-sebut mengenainya dalam sejarah ?Peneliti Jerman ini menandaskan : yang penting kita harus menyatakan jujur mengenai kebenaran Peradaban Islam. Dan sikap seseorang terhadap pembenaran yang benar, dimana masyarakat Eropa hingga saat ini tidak mampu menjadi juri yang benar, jujur dan tidak memihak, serta menyatakan hormat terhadap hal tersebut diatas, bahkan mereka menutupi kepala dan tidak menjelaskan peranan mendasar mereka dalam pembangunan Peradaban Eropa…. mereka telah merajut berbagai perangkat Peradaban. Mereka semua dengan kemampuannya berkecimpung dalam tersebut, sehingga mereka semua berhak unuk mendapatkan ucapan terima kasih.Dengan memperhatikan aktifitas para Misionari semacam ini, nampaknya secara maksimal mereka berusaha melakukan propaganda terhadap dasar-dasar Kristen, meski mereka juga memiliki berbagai informasi terbatas mengenai ajaran-ajaran Islam dan sejarah Agama Ilahi ini, karena itu barangsiapa yang tidak mengenal cara-cara debat kaum Misionaris ini, maka pastilah tidak mengerti terhadap tujuan Delegasi-delegasi pembawa berita gembira ini.Bagian Ketujuh
Pada bagian lalu, kita telah membahas aktifitas kelompok misionaris
Kristen yang telah berjalan selama bertahun-tahun, bahkan berbad-abad, dengan
mengirimkan utusan mereka ke tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka pun bahkan
telah membentuk suatu lembaga yang terorganisasi dan rapi. Para misionaris telah
berusaha menciptakan keraguan-raguan di tengah kaum muslim terhadap ajaran
Islam. Kini, kami akan berbicara mengenai usaha misionaris yang lain, yaitu
penyelewengan penerjemahan Al-Quran.
Sebagian besar dari terjemahan-terjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai
Bahasa Eropa yang telah bertahun-tahun dilakukan oleh para misionaris dan
kelompok orientalis, jauh dari kebenaran dan hakikat. Peneliti seperti Marakachi
dari Italia, memperoleh inspirasi dalam menerjemahkan Al-Qur’an dari para
misionaris. Andre Duryer (1580-1660) seorang warga Burgan Prancis telah
menerbitkan sebuah terjemahan sederhana mengenai Al-Qur’an dalam bahasa Prancis
dengan judul Alcoron Mahomet. Dia bekerja sebagai pedagang dan melaksanakan
urusan-urusan Konsuler Prancis di negara-negara Timur. Buku Duryer ini telah
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa, dan selama masa satu abad menjadi
sumber pengetahuan masyarakat Eropa terhadap Islam.
Setelah itu, muncul tokoh lain bernama Arthur John Arberry
(1905-1969) seorang Inggris ahli masalah timur. Dengan menyebutkan berbagai
contoh kekurangan dalam terjemahan Andre Duryer, dia menulis, “Inilah pandangan
penterjemah yang tendensius, fanatik, dan memiliki keyakinan terhadap Al-Qur’an.
Terjemahan Andre sangat jauh dari kebenaran dan tidak melakukan penelaahan yang
mendalam.”
George Sale (1697-1736), satu lagi orang Inggris ahli masalah timur
dan juga seorang penerjemah Al-Qur’an, menulis, “Selama bertahun-tahun bahkan
berabad-abad, berbagai informasi yang diperoleh oleh masyarakat Eropa mengenai
Islam dan Al-Qur’an, bersumber dari kelompok-kelompok Kristen fanatik. Dengan
dasar tendensi dan dendam, mereka mengetengahkan berbagai alasan yang
dibuat-buat. Sifat dan tindak tanduk kaum Muslimin yang baik, dilupakan
samasekali. Namun, apabila mereka membicarakan kejelekan kaum muslimin, mereka
justru menampilkan kekurangan itu sebesar gunung.
Salah satu cara yang ditempuh oleh kelompok misionaris, ialah
melakukan berbagai penerjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai bahasa daerah secara
tidak sempurna dan kurang, lalu menerbitkan dan membagi-bagikannya di antara
kabilah-kabilah dan suku-suku yang jauh. Misalnya, sewaktu kelompok misionaris
Kristen masuk ke Afrika, mereka langsung mencetak Injil dan terjemahan sebagian
dari surat-surat Al-Qur’an. Sudah barang tentu para misionaris menterjemahkan
Al-Qur’an sedemikian rupa sesuai dengan pandangan mereka, kemudian
dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat. Tujuan utama kelompok misionaris ini
adalah agar warga pribumi mengerti bahwa Al-Qur’an telah diselewengkan, sehingga
mereka dapat membandingkan dan mengesankan sedemikian rupa bahwa Kristen lebih
baik dari Islam.
Sekalipun kelompok misionaris ini telah berupaya dalam bidang
tersebut, namun berbagai peristiwa sejarah dan berlalunya zaman telah
menunjukkan, betapa para misionaris tersebut tidak berhasil mencapai tujuannya.
Karena itulah penduduk asli Afrika tidak menggubris pernyataan dan perbuatan
mereka, bahkan mereka memalingkan wajah mereka. Hasil dari perbuatan kelompok
misionaris yang memutarbalikkan fakta ini adalah semakin berkembangnya Islam di
Afrika. Bahkan, Islam menyebar ke benua Amerika dari Afrika. Contoh-contoh
gerakan ini juga dapat dilihat di Asia. Misalnya di Libanon pendeta Kristen yang
fanatik bernama Yusuf Haddad, telah menerbitkan puluhan buku Islam &
Al-Qur’an yang banyak mengandung ayat-ayat yang diselewengkan.
Perlu disebutkan pula bahwa pertentangan yang ada di dunia Kristen
telah melahirkan empat versi Injil yang saling berbeda, yaitu Injil Markus,
Johanes, Lukas, dan Matius. Di dunia Islam, hanya terdapat satu kitab
Al-Qur’anul Karim. Al-Qur’an yang hingga dewasa ini sampai ke tangan kaum
muslimin adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saww. Isinya tidak
berbeda dan tidak ada perubahan samasekali, baik pada ayat atau
kalimat-kalimatnya. Ini adalah amanat Allah swt yang sampai kepada kita dari
generasi demi generasi.
James A. Mechz, seorang wartawan surat kabar, menulis : Al-Qur’an
bukan seperti Injil. Ia tertulis dalam bentuk untaian indah, tapi bukan syair,
dan bukan pula sajak-sajak biasa. Isi Al-Quran dapat memberikan kenikmatan dan
gelora iman kepada yang mendengarnya.
Upaya kelompok misionaris untuk mencoreng citra dan ajaran-ajaran
Al-Qur’an ini, memiliki berbagai alasan yang berbeda-beda. Di antaranya adalah
usaha untuk menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan ajaran Kristen, takut
kehilangan kekayaan dan kedudukan di dunia, serta karena kebodohan dan fanatisme
yang tidak logis. Namun demikian, ada juga orang-orang orientalis yang berusaha
secara obyektif mengetahui hakikat ajaran Islam yang cemerlang ini. Misalnya
dalam menghadapi orang-orang seperti Ignaz Goldziher (1850-1921) seorang
Orientalis asal Hungaria, yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah
ajaran tunggal, Hertwick Hirchfield mengatakan :
Sejak saat kami menemukan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber berbagai
ilmu pengetahuan, tidak perlu diherankan lagi bila seluruh permasalahan yang
berhubungan dengan langit dan bumi, kehidupan manusia, perdagangan, dan berbagai
jenis transaksi dimuat dalam Al-Qur’an dengan sangat baik dan mengagumkan.
Melalui cara inilah Al-Qur’an menghadapi berbagai masalah yang besar dan
penting. Perkembangan ilmu pengetahuan yang menakjubkan yang dipelopori oleh
dunia Islam yang selama 5 abad telah memberikan pengaruh positif pada dunia
kemanusiaan, secara tidak langsung membuat kita berhutang budi pada dunia Islam
ini.
Pada berbagai ayatnya, Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan Nabi
Muhammad saww untuk mengajak umatnya agar memperhatikan masalah maknawi. Pada
bagian lain, ayat-ayat Allah ini menyeru umat manusia untuk membantu dan berbuat
baik kepada orang lain. Al-Qur’an juga menciptakan berbagai perkembangan yang
besar dalam penelitian kedokteran, bahkan secara global dan tersirat memberi
petunjuk kepada dunia kedokteran. Dengan alasan itulah Nabi Mohammad saww dalam
menyifati Al-Qur’an, berkata, “Al-Qur’an itu secara lahiriah indah dan secara
batiniah mengandung makna yang sangat dalam. Ayat-ayatnya memiliki makna yang
tak akan pernah berakhir dan tidak pernah ketinggalan zaman.”
Bagian Kedelapan
Lutfi Liqunian, seorang penulis Kristen, meyakini bahwa periode baru
dalam metode misionaris telah dimulai. Dia menulis, “Eropa dalam Perang Salib
menggunakan pedang, sekarang menggunakan penyebaran paham sebagai cara untuk
mencapai maksud-maksudnya. Dengan Perang Salib baru ini, Eropa ingin mencapai
tujuannya tanpa pertumpahan darah. Dalam usahanya ini, Eropa memanfatkan gereja,
sekolah-sekolah, dan rumah sakit serta menyebarkan misionaris mereka.
Dewasa ini, penyebaran ajaran Kristen di berbagai negara, merupakan
salah satu strategi politik para pemimpin negara Barat. Kerjasama antara gereja
dan negara-negara Barat merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad
pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan
perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar
pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab
Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di
seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70
milyar dolar telah dihabiskan unutk membiayai aktivitas misionaris pada tahun
itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua
kali lipatnya dan terus akan meningkat.
Dalam dunia Kristen, terdapat banyak kelompok atau sekte yang
berbeda-beda. Namun, dalam melakukan aktivitas propagandanya di seluruh dunia,
kelompok-kelompok ini menghilangkan perbedaan di antara mereka dan bersatu-padu
dalam kelompok yang sama. Kita bisa melihat bahwa di Afrika, misionaris Katolik
dan Protestan saling berdampingan untuk menyebarkan ajaran yang sama. John B.
Nas, seorang penulis Inggris dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Agama-Agama”
menulis bahwa persatuan yang signifikan di antara berbagai kelompok Protestan
terjadi dalam aktivitas misionaris yang memiliki kepentingan dan makna yang
sangat besar. Penyebaran ajaran Kristen ke berbagai negara membuktikan bahwa
perbedaan antara berbagai gereja dan kelompok Kristen sama sekali tidak memiliki
hasil. Para misionaris terikat pada semua kelompok dan gereja. Mereka tidak
menghabiskan waktu untuk mengurusi perbedaan ini. Jika diperlukan, mereka siap
untuk melupakan berbagai perbedaan yang ada di antara mereka.
Benua Afrika adalah salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran
Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang
panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15, telah
membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris
selama berabad-abad berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di
Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika
peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran
para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja
misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera
dimulai.
Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesejalanan
dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para
misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya,
ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan
dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah
satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu,
karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi
mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.
Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa
para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota
Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah
satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang
kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota
ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari
tentara Amerika.
Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa
Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian
tersebut, sebagai berikut.
“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada
kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami
telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa
membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit
putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena
mereka mengenal kondisi daerah itu.”
Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang
penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Katanya,
“Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan
misionaris Kristen adalah orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan
terhadap rakyat Kongo. Namun, saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa
Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat Rezim
Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”
Patrice Lumumba, pemimpin rakyat Kongo, juga memperhatikan masalah ini.
Setelah terpilih menjadi perdana menteri, dia mengumumkan bahwa sebagian
misionaris merupakan anggota resmi Angkatan Bersenjata Belgia. Oleh karena itu,
dia menuntut agar para misionaris meninggalkan Kongo.
Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara
Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai
contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal
Ghana telah diusir dari negara ini.
Dengan memperhatikan kenangan pahit rakyat Afrika terhadap para misionaris, komisi penyebaran agama Kristen pada tahun-tahun terakhir ini, telah mengubah metode dan politik mereka untuk hadir di Afrika. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa metode dakwah yang paling membawa hasil adalah metode tidak langsung. Oleh karena itu, kehadiran misionaris secara fisik dalam bentuknya yang khas, tidak akan banyak menarik perhatian kaum pribumi. Dewasa ini, para misionaris mengetahui bahwa dengan wajah dan profesi yang berbeda-beda, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyebarkan paham kebudayaan mereka. Dokter, guru, insinyur, peneliti, anggota kelompok ilmuwan, dan perawat merupakan di antara profesi-profesi yang digunakan sebagai topeng oleh para misionaris. Mereka dikirim ke negara-negara tujuan untuk menyebarkan ajaran Kristen dengan tanpa menyinggung sensitivitas penduduk pribumi. Bagian Kesembilan
Lutfi Liqunian, seorang penulis Kristen, meyakini bahwa periode baru
dalam metode misionaris telah dimulai. Dia menulis, “Eropa dalam Perang Salib
menggunakan pedang, sekarang menggunakan penyebaran paham sebagai cara untuk
mencapai maksud-maksudnya. Dengan Perang Salib baru ini, Eropa ingin mencapai
tujuannya tanpa pertumpahan darah. Dalam usahanya ini, Eropa memanfatkan gereja,
sekolah-sekolah, dan rumah sakit serta menyebarkan misionaris mereka.
Dewasa ini, penyebaran ajaran Kristen di berbagai negara, merupakan
salah satu strategi politik para pemimpin negara Barat. Kerjasama antara gereja
dan negara-negara Barat merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad
pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan
perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar
pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab
Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di
seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70
milyar dolar telah dihabiskan unutk membiayai aktivitas misionaris pada tahun
itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua
kali lipatnya dan terus akan meningkat.
Dalam dunia Kristen, terdapat banyak kelompok atau sekte yang
berbeda-beda. Namun, dalam melakukan aktivitas propagandanya di seluruh dunia,
kelompok-kelompok ini menghilangkan perbedaan di antara mereka dan bersatu-padu
dalam kelompok yang sama. Kita bisa melihat bahwa di Afrika, misionaris Katolik
dan Protestan saling berdampingan untuk menyebarkan ajaran yang sama. John B.
Nas, seorang penulis Inggris dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Agama-Agama”
menulis bahwa persatuan yang signifikan di antara berbagai kelompok Protestan
terjadi dalam aktivitas misionaris yang memiliki kepentingan dan makna yang
sangat besar. Penyebaran ajaran Kristen ke berbagai negara membuktikan bahwa
perbedaan antara berbagai gereja dan kelompok Kristen sama sekali tidak memiliki
hasil. Para misionaris terikat pada semua kelompok dan gereja. Mereka tidak
menghabiskan waktu untuk mengurusi perbedaan ini. Jika diperlukan, mereka siap
untuk melupakan berbagai perbedaan yang ada di antara mereka.
Benua Afrika adalah salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran
Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang
panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15, telah
membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris
selama berabad-abad berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di
Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika
peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran
para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja
misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera
dimulai.
Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesejalanan
dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para
misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya,
ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan
dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah
satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu,
karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi
mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.
Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa
para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota
Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah
satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang
kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota
ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari
tentara Amerika.
Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa
Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian
tersebut, sebagai berikut.
“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada
kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami
telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa
membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit
putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena
mereka mengenal kondisi daerah itu.”
Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang
penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Katanya,
“Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan
misionaris Kristen adalah orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan
terhadap rakyat Kongo. Namun, saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa
Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat Rezim
Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”
Patrice Lumumba, pemimpin rakyat Kongo, juga memperhatikan masalah ini.
Setelah terpilih menjadi perdana menteri, dia mengumumkan bahwa sebagian
misionaris merupakan anggota resmi Angkatan Bersenjata Belgia. Oleh karena itu,
dia menuntut agar para misionaris meninggalkan Kongo.
Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara
Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai
contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal
Ghana telah diusir dari negara ini.
Dengan memperhatikan kenangan pahit rakyat Afrika terhadap para misionaris, komisi penyebaran agama Kristen pada tahun-tahun terakhir ini, telah mengubah metode dan politik mereka untuk hadir di Afrika. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa metode dakwah yang paling membawa hasil adalah metode tidak langsung. Oleh karena itu, kehadiran misionaris secara fisik dalam bentuknya yang khas, tidak akan banyak menarik perhatian kaum pribumi. Dewasa ini, para misionaris mengetahui bahwa dengan wajah dan profesi yang berbeda-beda, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyebarkan paham kebudayaan mereka. Dokter, guru, insinyur, peneliti, anggota kelompok ilmuwan, dan perawat merupakan di antara profesi-profesi yang digunakan sebagai topeng oleh para misionaris. Mereka dikirim ke negara-negara tujuan untuk menyebarkan ajaran Kristen dengan tanpa menyinggung sensitivitas penduduk pribumi. Bagian Kesepuluh
John Moot, seorang
misionaris Afrika dalam bukunya menulis, “Metode terang-terangan atau langsung
para misionaris tidak berhasil menarik kaum muslimin untuk berpaling dari
agamanya, karena baju yang digunakan oleh para misionaris hanyalah menimbulkan
kebencian.” Roise, seorang misionaris lainnya juga mengkritik cara langsung
gereja dalam menyebarkan ajarannya. Dia berkata, “Kami melihat sekelompok
misionaris telah bertahun-tahun hidup di sebuah kota, namun mereka tidak mampu
menemukan teman seorang pun.
Periode penjajahan
Afrika oleh bangsa Barat memiliki dua dampak besar bagi agama Kristen. Pertama,
masuknya pengaruh Kristen ke wilayah-wilayah Afrika yang belum disentuh oleh
dakwah Islam, seperti Afrika Tengah dan Selatan. Kedua, meningkatkan semangat
anak-anak kaum muslimin untuk bersekolah di sekolah-sekolah baru yang
mengajarkan plajaran-pelajaran yang bersumber dari Barat. Dengan demikian,
murid-murid di sekolah ini akan jauh dari ilmu-ilmu Islam. Apalagi,
sekolah-sekolah Kristen tersebut telah mengajarkan huruf latin dan menyingkirkan
pelajaran bahasa Arab sehingga rakyat Afrika akhirnya melalaikan peninggalan
budaya dan bahasa mereka yang ditulis dalam huruf Arab.
Menurut para
misionaris, pengajaran adalah cara dakwah yang paling bagus. Mereka amat
mengutamakan pendidikan di kalangan anak-anak karena anak-anak memiliki kesiapan
dan bakat untuk menerima pengajaran. John Moot, misionaris Amerika, juga
menekankan pentingnya peran sekolah-sekolah dalam penyebaran ajaran Kristen. Dia
berkata, “Kami harus mengajarkan ajaran agama kepada anak-anak. Sebelum dewasa,
anak-anak itu harus kami tarik ke arah Kristen dan sebelum konsep Islam
terbentuk dalam dalam jiwa anak-anak itu, jiwa mereka harus kami
tundukkan.”
Dewasa ini, salah
satu tujuan sekolah-sekolah dan pusat-pusat universitas yang terkait dengan
misionaris adalah mendidik orang-orang yang kelak akan berpengaruh dalam
pemerintahan dan bisa menjadi pemimpin di negara mereka. Adalah jelas bahwa
misionaris akan mudah mencapai tujuannya bila yang digarapnya adalah orang-orang
yang pernah mendapat pendidikan di sekolah-sekolah Kristen. Buktinya bisa kita
lihat pada negara-negara Afrika, yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Ketika di antara tahun-tahun 1950-1970, negara-negara itu mencapai
kemerdekaannya, tiba-tiba mereka mendapati bahwa presiden mereka ternyata
seorang Kristen.
Kegagalan dalam
menjalankan program pembangunan, kekeringan, kelaparan, dan utang yang sangat
banyak yang dimiliki negara-ngara Afrika telah makin mempermudah masuknya
pengaruh misionaris di negara-negara itu karena mereka mendapat perlindungan
dana yang sangat luas dari negara-ngara barat.
Penyebaran ajaran
Injil yang meluas dan dilakukan secara gratis di tengah masyarakat, propaganda
dan penyebaran budaya sekularisme Barat, dan perluasan ajaran barat secara
sangat luas merupakan beberapa metode misionaris di Afrika.
Metode lain yang
dipakai para misionaris adalah pelayanan kedokteran dan kesehatan. Para dokter
memberikan dukungan yang amat besar bagi gerakan misionarsi dalam mencapai
tujuannya. Menurut mereka, di manapun manusia di dunia ini, orang yang sakit
akan selalu ada dan orang sakit akan selalu memerlukan dokter. Di manapun ada
kebutuhan terhadap dokter, di sanalah ada kesempatan untuk menyebarkan ajaran
agama.
Di Afrika banyak
terdapat rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan yang dikelola para misionaris
Kristen. Meskipun kaum misionaris mengatakan bahwa tujuan dari kegiatannya ini
tidak lebih dari pemberian pertolongan kepada masyarakat, akan tetapi, di
sebagian kawasan, para misionaris itu tanpa tedeng aling-aling menerangkan
secara jelas tujuan asli kegiatan mereka itu. Mungkin hal ini didasari oleh
pandangan mereka yang terlalu menganggap bodoh masyarakat pribumi.
Kondisi seperti ini
tercatat dengan jelas pada sebuah buku berjudul “Christian Workers”. Contohnya
adalah pada beberapa kawasan di Sudan. Di sana, ketika tengah mengobati para
pasiennya, para dokter Kristen memulai aktivitas pengobatannya dengan meminta
penyembuhan dari Al-Masih. Sejumlah dokter Kristen di kawasan Nasser bahkan
secara terang-terangan memberikan syarat pengobatan kepada pasiennya berupa
kesediaan para pasien untuk mengakui bahwa yang akan menyembuhkannya itu adalah
Al-Masih.
Tanggal 20 Mei 2002
lalu, dua orang dosen universitas telah menulis surat pada redaksi majalah New
York Times. Mereka menulis bahwa dalam kunjungan mereka ke Afrika Selatan,
keduanya berkenalan dengan sejumlah besar misionaris Kristen yang mengaku datang
ke sana membawa misi memerangi kefakiran dan penyakit AIDS. Akan tetapi, setelah
beberapa kali berkomunikasi, kedua dosen itu menyadari bahwa tujuan asli kaum
misionaris itu sama sekali bukan pertolongan terhadap masyarakat Afrika,
melainkan secara prkatis mereka ingin mendirikan gereja yang besar untuk
kemudian mengkristenkan warga pribumi. Koran New York Times juga menulis
kesaksian kedua dosen itu bahwa para misionaris itu mengabaikan warga setempat
dalam pendidikan cara-cara memerangi AIDS.
Para misionaris yang
dikirim ke negara-negara Afrika umumnya dilatih untuk bisa menghormati seluruh
adat dan budaya Islami yang dianut oleh masyarakat setempat dengan tujuan agar
mereka bisa menarik perhatian masyarakat pribumi. Ketertarikan kaum pribumi
terhadap para misionaris itu akan sangat memudahkan para misionaris dalam
menyebarkan ajaran Kristen.
Contohnya, di
Afrika, mereka menyebarkan ajaran melalui berbagai cerita rakyat yang tersebar
di berbagai suku Afrika, akan tetapi, isi cerita rakyat yang awalnya berupa
pesan khusus dari budaya masyarakat setempat itu, mereka ubah sesuai dengan
tujuan misionaris mereka. Terkadang, kita bisa menyaksikan bahwa di beberapa
kawasan Afrika, nyanyian-nyayian gereja mendapatkan inspirasi dari lagu-lagu
rakyat. Contoh yang terkenal adalah lagu “Bambu” yang awalnya menggambarkan fase
terakhir dari kedewasaan seorang pemuda Afrika, sekarang memiliki makna yang
berbeda ketika dinyanyikan pada ritus-ritus gereja.
Lagu tersebut kini
dimaknai sebagai masuknya seseorang kepada agama Kristen. Atau misalnya, pada
hari Minggu, di beberapa kota Afrika para misonaris Kristen bersama-sama dengan
orang-orang Kristen pribumi mengenakan pakaian kebesaran suku setempat dan
dengan pakaian itulah mereka melakukan ritus keagamaan di gereja sambil memukul
gendang menyanyikan lagu dan menari secara bersama-sama.
Bagian KesebelasPara misionaris ketika memasuki benua Afrika menemukan fakta yang mengejutkan yaitu sedemikian luasnya pengaruh Islam di benua ini. Penyebaran Islam di Afrika tidak dilakukan secara sistematis oleh kaum muslimin dan para muballigh Islam. Politik kolonialisme dan penjajahan terhadap berbagai wilayah Afrika oleh Belgia, Portugis, Perancis, dan Inggris dalam waktu yang sangat lama memberikan kesempatan yang luas bagi para misionaris untuk menyebarkan ajaran Kristen di benua ini.Menyusul ucapan Paus pada akhir tahun 1960-an bahwa “dunia secara menyeluruh harus menjadi Kristen”, serangan para misionaris terhadap berbagai agama lain, terutama Islam, muncul dalam bermacam-macam bentuk. Dengan mengadakan berbagai konferensi, yayasan, organisasi, dan lembaga keagamaan di berbagai negara, para misionaris melakukan aktivitasnya secara amat luas di berbagai lapisan masyarakat. Yayasan-yayasan ini, setiap tahun membagi-bagikan ratusan ribu Injil, buku-buku, dan majalah secara gratis untuk menyebarkan pemikiran Kristen di tengah pemuda dan remaja dan berbagai lapisan masyarakat lainnya. Yayasan-yayasan ini memanfaatkan penulis, psikolog, dan spesialis lain yang terkemuka agar isi tulisan, warna, gambar dan desain grafis jilid buku, serta foto-foto bisa menarik perhatian pembaca. Yayasan Emier merupakan salah satu contoh dari yayasan misionaris yang bertujuan utnuk memukul Islam. Yayasan ini memilki 13 penerbitan dan salah satu aktivitasnya adalah menerbitkan buku dengan gambar-gambar yang menarik bagi anak-anak. Yayasan “Amalur-rab” adalah contoh lain yayasan misionaris, yang memiliki ribuan pegawai profesional di berbagai bidang. Yayasan yang didirikan tahun 1928 dan didukung oleh Paus Johannes Paulus Kedua ini, juga bergerak di bidang politik. Di berbagai negara, yayasan ini melakukan mata-mata dan melakukan campur tangan dalam urusan pemerintahan. Penerbitan Injil dalam bahasa lokal merupakan salah satu kegiatan yayasan-yasan misionaris. Seorang ustad muslim di negara Pantai Gading Afrika menceritakan bahwa suatu hari di desanya dia didatangi oleh sekelompok pendeta yang meminta dia mengajarkan bahasa tradisional, dan tidak lagi mengajarkan bahasa Perancis atau Arab demi menjaga bahasa asli desa itu. Ustad muslim itu dengan cerdas mengetahui tujuan sesungguhnya para pendeta tersebut. Ustad muslim itu kemudian berkata keapda para pendeta tersebut, “Tujuan Anda untuk meminta saya mengajar bahasa tradisional kepada masyarakat adalah karena Anda sudah menerjemahkan Injil ke dalam bahasa asli kami dan Anda ingin agar pemikiran Kristen disebarkan kepada masyarakat dengan mudah. Sayang sekali Quran sangat sedikit diterjemahkan ke dalam bahasa asli dan karena itu Anda meminta saya untuk tidak mengajarkan bahasa Arab, karena itu akan membuat masyarakat lebh memahami Quran dan bila mereka sudah memahami Quran, mereka tidak akan mendengarkan perkataan Anda.” Berkenaan dengan masalah penggunaan fasilitas canggih oleh para misionaris untuk menyebarkan pemikiran mereka, Doktor Zainab Abdul Aziz dalam pidatonya dalam Konferensi Toleransi Islam di Casablanca, Maroko, yang berjudul “Perluasan Propaganda Kristen dan Pentingnya Kewaspadaan Dunia Islam” berkata, “ Pada tahun 1990, di kota Brussel didirikan sebuah universitas bernama Penyebaran Kristen. Universitas ini memiliki pengajar-pengajar dari kalangan jurnalis dan pembicara terkemuka yang mahir dalam menyampaikan ilmu agama dan pengajaran gereja. Mereka bertujuan untuk mendidik para misionaris. Di antara perlengkapan canggih yang dimiliki universitas ini adalah satelit Luman 2000 yang bertujuan untuk menyebarkan terjemahan Injil dalam berbagai bahasa ke seluruh penjuru dunia sehingga bisa ditangkap oleh pesawat radio. Negara-negara seperti Sudan, Kenya, dan Uganda dengan mudah bisa menangkap siaran radio berisi terjemahan Injil ini dengan kualitas suara yang sangat bagus. Satelit ini dioperasikan dengan bekerjasama dengan Vatikan dan pejabat kota Dallas Amerika. Tanzania, sebuah negara di timur Afrika yang lebih dari 60 persen penduduknya muslim, kekuatan politiknya lebih banyak berada di tangan orang-orang Kristen yang populasinya hanya 30 persen. Kaum Kristiani di negara ini memiliki aktvitas yang sangat luas, mulai dari radio, televisi, sampai internet untuk menyebarluaskan kebudayaan kristen di tengah masyarakat Tanzania. Sejumlah 6000 pendeta kristen di puluhan gereja melakukan aktivitasnya di negara ini. Mereka, sebagaimana juga di negara-negara Afrika lainnya, memanfaatkan tokoh-tokoh politik Tanzania untuk menyebarkan pemikirannya. Meskipun mereka menyatakan tidak campur tangan dalam urusan politik dalam negeri Tanzania, namun kenyataannya, dalam pemilu presiden, Dewan Gereja bahkan secara resmi menyampaikan pesan lewat radio dan koran mengenai keistimewaan seorang presiden. Aksi penguasaan terhadap sendi-sendi sebuah negara merupakan salah satu metode para misionaris untuk menyebarkan ajaran mereka. Pendeta Peel, seorang pejabat gerakan misionaris di Afrika timur, pernah mengatakan, “Tidak boleh ada negara Kristen yang memperbolehkan agama Kristen diperlakukan sama seperti agama-agama lainnya. Agama Kristen harus dikenalkan sebagai agama superior. Sebuah pemerintahan Kristen haruslah menunjukkan kinerjanya hingga masyarakat merasakan bahwa mereka yang pernah mengecap pendidikan kerohanian Kristen ini memiliki nilai yang lebih dibandingkan dengan orang lain dalam pekerjaan di pemerintahnya.” Akan tetapi, meskipun telah dilakukan upaya yang sangat luas oleh para misionaris Kristen di Afrika serta telah digunakannya berbagai fasilitas dan keuangan yang sangat banyak dalam program misionaris itu, kenyataan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok penyebaran agama Kristen itu tidak pernah mampu mencapai tujuan-tujuan mereka. Sebuah majalah AS “Life” pernah menulis sebagai berikut. “Di Afrika meskipun kaum misionaris yang jumlahnya tak terhingga telah melakukan berbagai program penyebaran agama, dan untuk itu telah dikeluarkan dana yang tidak terhingga, mereka hanya mampu mengkristenkan satu berbanding 10 orang Afrika yang masuk Islam. Padahal, Islam hingga kini tidak pernah mengirimkan satupun kelompok penyebar agama secara resmi ke tempat manapun di dunia. Umat Islam juga tidak pernah mendirikan rumah sakit, masjid, dan pusat pendidikan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran mereka.” Bagian Keduabelas
Surat kabar New York Times
pernah menulis laporan yang berisi sebagai berikut.
“Organisasi Amerika yang
bernama Pendeta-Pendeta Kristen Internasional yang bermarkas di
Indianapolis telah mendidik lebih dari 4500 misionaris yang bertujuan untuk
mengkristenkan kaum muslimin di berbagai negara dunia. Organisasi ini
meningkatkan aktivitasnya setelah kejadian 11 September. Masa penugasan para
pendeta misionaris tersebut adalah enam tahun.”
Selama beberapa tahun
terakhir, gerakan misionaris telah menghabiskan dana yang sangat besar untuk
menyampaikan ajaran mereka demi melawan Islam. Dengan mendirikan berbagai pusat
dan yayasan propaganda, mereka berusaha untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran
Kristen di berbagai penjuru dunia. Di antara negara-negara dunia, negara-negara
Afrika memiliki tempat yang khusus dalam pandangan para misionaris. Kunjungan
para pejabat tinggi gereja seperti Paus, ke benua Afrika selama dua dekade
terakhir ini membuktikan posisi khusus tersebut.
Untuk menyebarkan ajaran
Kristen ke negara-negara dunia, para misionaris melakukan berbagai usaha. Salah
di antara metode yang mereka pakaiadalah mengubah pengajaran Kristen dan
menyesuaikannya dengan kebudayaan masyarakat pribumi. Metode seperti ini
diungkapkan dalam sebuah buku berjudul “Re-thinking Mission” dan dianggap
sebagai sesuatu hal yang diperbolehkan dalam penyebaran Kristen. Buku ini
diterbitkan pada tahun 1932 oleh sebuah yayasan misionaris. Menurut buku ini,
propaganda Kristen harus terus dilakukan, namun metode-metodenya harus diubah
agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Contoh pelaksanaan metode
ini adalah mengenai masalah perkawinan. Sebagian mazhab Kristen di Eropa hanya
mengizinkan monogami dan tidak memperbolehkan percraian. Namun, di Afrika,
mazhab Kristen tersebut mengubah ajaran mereka dengan mengizinkan kaum pribumi
Afrika untuk menikahi lebih dari satu perempuan dan melakukan perceraian.
Lebih jauh lagi, para
misionaris bahkan mengubah wajah Isa Al-Masih. Selama ini, Isa Al-Masih di Eropa
digambarkan sebagai seorang kulit putih dan berambut pirang panjang. Namun, demi
menyesuaikan dengan kebudayaan Afrika, di negara-negara Afrika mereka
menggambarkan bahwa Isa Al-Masih seorang Ethiopia berkulit hitam dan berambut
keriting.
Para misionaris dengan
berbagai alasan, di antaranya ketakutan mendalam atas meluasnya pengaruh Islam
di benua Afrika, memiliki dendam yang mendalam terhadap Islam dan kaum muslimin.
Rasa dendam itu dimunculkan dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, mereka
menggerakkan pribumi Kristen Afrika untuk memerangi kaum muslimin, sebagaimana
terjadi di Uganda, Malawi, dan Tanzania. Dalam majalah dan buku-buku yang mereka
terbitkan, mereka menggambarkan Islam dengan buruk demi. Sebagai contoh, majalah
Vision edisi Mei 1986, pada halaman pertamanya memasang foto Isa Al-Masih yang
berwajah tenang dan melambaikan tangan penuh cinta yang disandingkan dengan foto
seorang ruhaniwan muslim yang bertampang marah dan memegang sebilah pedang.
Foto-foto yang diberi judul “Isa Al-Masih dan Islam” ini bertujuan untuk
menanamkan gambaran dalam pikiran para pembaca bahwa Islam adalah agama yang
kasar dan sebaliknya, Krisen adalah agama yang membawa perdamaian.
Nigeria adalah sebuah negara
di bagian barat Afrika dan merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di
Afrika. Rakyat Nigeria, setelah berjuang dalam waktu lama untuk melawan para
penjajah, akhirnya pada tahun 1960 berhasil meraih kemrdekaannya. Menurut
catatan sejarah, Islam masuk ke negara ini sejak abad ke-8 melalui jalan
perdagangan dan Islam berkembang pesat di utara negara ini. Pada tahun 1553,
penjajah Inggris masuk ke negara ini bersama-sama dengan kelompok misionaris.
Para misionaris inilah yang menjadi pelaksana politik Inggris di Nigeria.
Lugard, penguasa Inggris di Nigeria, didampingi seorang misionaris bernama
Miller merupakan pelaksana utama politik pengajaran kolonialis di negara
ini.
Politik pengajaran Inggris
di Nigeria memiliki tujuan-tujuan misionaris dan propaganda. Ketua kelompok
misionaris Inggris menulis, “Kami sejak saat ini menggunakan Injil sebagai salah
satu buku pelajaran. Beberapa bagian di ntaranya yang telah dipilih secara
cermat, dijadikan bahan untuk latihan menulis para pelajar. Kami berpikir bahwa
ini adalah kesempatan propaganda yang sangat bagus.”
Aktivitas kelompok
misionaris di urusan politik juga sangat besar. Ketika rakyat muslim dan pejuang
Nigeria berhasil meraih kemerdekaan dari Inggris dan mendirikan pemerintahan,
pasukan Inggris dengan pertolongan para misionaris mendalangi kudeta dan
membunuh beberapa pemimpin muslim, di antaranya Tafawa Balewe dan Ahmad Bello.
Kudeta ini dilakukan oleh lima perwira Kristen dari kabilah Eibo yang diketuai
Jenderal Aguiyi Ironsi. Dalam sebuah majalah bulanan terbitan London tahun 1966,
ditulis mengenai terbunuhnya para pemimpin muslim Nigeria ini. Menurut majalah
tersebut, “Kejadian ini diperlukan agar dapat menghalangi pengaruh kaum muslim
di utara yang semakin hari semakin meningkat.”
Dalam buku “Nigeria Tahun
1966” yang diterbitkan di Lagos, ibu kota negara ini, tertulis, “Sejarah masa
lalu dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Nigeria yang memiliki penduduk
mayoritas muslim mendirikan negara federal dengan pemerintahan pusat di Lagos,
situasi negara berjalan dengan baik. Tetapi, keinginan orang-orang Eibo Kristen
untuk memimpin kaum muslimin dan untuk membalas dendam secara kejam terhadap
para pemimpin muslim, membuat kepentingan negara dikorbankan oleh ambisi-ambisi
yang tidak pada tempatnya dan nafsu balas dendam kaum minoritas
Kristen.”
Setelah terbunuhnya Jenderal
Ironsi dalam pelarian, Ojukwu, komandan militer provinsi timur Nigeria yang
berpenduduk mayoritas Kristen, mengumumkan kemerdekaan daerah tersebut dan
mendirikan negara baru yang bernama Biafra. Tindakan ini, menurut media massa
Barat, mendapat perlindungan dari negara-negara Barat dan Vatikan karena
keberadaan sumber minyak di provinsi tersebut.
Ketika akhirnya Biafra
berhasil dijatuhkan oleh pemerintahan pusat Nigeria, di antara para pemberontak
yang tertangkap ditemukan 150 ruhaniwan Kristen. Pemerintahan pusat Nigeria
kemudian mengusir keluar para misionaris tersebut yang di antaranya warga negara
Selandia Baru.
Bagian Ketigabelas
Pada bagian kali ini, kami akan menukil isi pidato
seorang misionaris bernama W.H.T.Gairdner yang kami ambil dari buku “Konferensi
Misionaris Dunia, Misi dan Pemerintah” terbitan tahun 1910 yang berisi kumpulan
pidato, laporan, diskusi, dan program-program misionaris.
Gairdner dalam Konferensi Misionaris Dunia menyatakan
secara terang-terangan bahwa infiltrasi terhadap negara-negara Islam sangat
diperlukan untuk mempercepat kristenisasi di sana. Kepada para misionaris yang
hadir dalam konferensi itu, Gairdner menyatakan, “Masalah Islam tidak bisa kita
abaikan begitu saja. Pertama, karena Islam telah mendekati pintu gerbang kita.
Islam dari telah hadir dari Afrika Utara hingga Eropa. Pada dasarnya, bisa
dikatakan bahwa Islam bergerak dari dua arah laut Mediterania. Kedua, karena
Islam adalah masalah besar bagi kita. Islam bagaikan gunung yang kukuh yang
berdiri di tengah-tengah kaum Kristen di Barat dan penyembah berhala di
Timur.
Saya ingin mengingatkan bahwa meskipun jika masalah
kita di Jepang, Manchuria, China, dan India bisa kita selesaikan dan krisis yang
terjadi dengan mereka dewasa ini secara baik bisa kita atasi, tembok penghalang
yang tinggi ini, yaitu Islam, masih tetap berdiri dan memisahkan kaum Kristiani
di Barat dan Timur. Oleh karena itu, usaha untuk menyingkirkan penghalang ini
tidak bisa kita tunda esok hari.
Gardner berkali-kali secara implisit, dengan
menyebutkan bahwa Islam adalah musuh, menyatakan bahwa para misionaris harus
menggunakan berbagai cara dalam menghadapi Islam. Dalam pidatonya itu, dia juga
menyebutkan berbagai negara dan masyarakat muslim, salah satunya adalah Afrika.
Menurut Gardner, “ Islam di bagian timur Afrika hingga Kamerun dan bagian barat
Afrika hingga Nigeria, telah melakukan kemajuan. Saya berharap semua misionaris
di Afrika Barat melakukan usaha maksimal demi mengkristenkan kaum muslimim.
Dengan adanya musuh kita, yaitu Islam, kita harus mempersatukan diri. Kita harus
membuat satu program bersama yang ...
Dalam upaya pengkristenan dunia, delegasi misionaris
Afrika hingga kini melakukan berbagai tipuan agar mampu meraih posisi di antara
rakyat pribumi Afrika. Salah satu di antara tipuan para misionaris adalah dengan
memperkenalkan orang-orang yang mengaku semula muslim lalu berpindah ke agama
Kristen. Beberapa tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Buttuwil Mina muncul
di televisi Zimbabwe. Dia menyatakan diri sebagai seorang muslim yang berpindah
ke agama Kristen. Setelah beberapa lama, terungkap kenyataan bahwa dia tidak
pernah menganut Islam, melainkan seorang pendneta yang selama lima tahun belajar
agama di Kenya.
Dengan menelaah metode-metode penyebaran ajaran
Kristen, terlihat juga bahwa para misionaris menggunakan gadis-gadis untuk
menarik pemuda-pemuda muslim. Dalam buku “Mission and Imperialism” tertulis
sebagai berikut. “Kaum perempuan dalam pandangan para misionaris memiliki
peranan yang sangat besar untuk mencapai tujuan mereka. Sebagian misionaris
berkeyakinan bahwa delegasi misionaris harus berusaha menyampaikan ajaran mereka
di tengah kaum perempuan muslim karena perempuan adalah alat yang paling penting
untuk mengkristenkan sebuah negara muslim dengan segera. Perempuan adalah poros
kehidupan sosial. Dengan memanfaatkan mereka, para misionaris bisa melakukan
infiltrasi ke berbagai lapisan sosial masyarakat. Oleh karena itu, didirikan
pusat-pusat pendidikan misionaris khusus untuk mendidik perempuan sesuai dengan
ajaran Kristen.”
Sebagian pusat-pusat pendidikan ini secara langsung
mendidik kaum perempuan, termasuk gadis-gadis remaja, untuk menjadi misionaris.
Beberapa di antara pusat pendidikan itu berkedok yayasan pendidikan seni dan
kerajinan tangan kaum perempuan. Kepada kaum perempuan yang bergabung dengan
yayasan tersebut secara tidak langsung diajarkan nilai-nilai
Kristiani.
Adanya penanaman modal organisasi-organisai misionaris
dalam kegiatan misionaris perempuan juga bisa kita tangkap dari pidato Henry
Jesups, seorang misionaris Amerika yang selama ini berupaya mengkristenkan Timur
Tengah. Mengenai sebuah lembaga pendidikan kaum perempuan di Beirut, Jesup
berkata, “Lembaga pendidikan ini adalah prioritas saya. Lembaga ini kami buka
untuk mendidik para perempuan dan dengan ini kami memberikan perhatian kepada
dunia misionaris.”
Salah satu di antara negara Afrika yang dijadikan
ladang aktivitas para misionaris adalah Guinea. Delegasi misionaris datang ke
negara ini pada akhir abad ke-19 dan mendirikan puluhan gereja serta pusat
penyebaran ajaran Kristen. Namun, mereka tetap tidak berhasil menarik perhatian
rakyat Guinea. Hingga kini, penduduk muslim di Guinea tetap mayoritas, yaitu
lebih dari 95 %. Padahal, para misionaris telah melakukan usaha infiltrasi dan
memiliki kekuatan yang besar. Mereka juga melakukan aktivitas politik yang
luas. Ketika Ahmad Sekou Toure naik sebagai presiden setelah kemerdekaan negara
ini pada tanggal 2 Oktober 1958, dia mengusir semua pendeta kulit putih
Katolik dan Protestan dari Guinea dan menyatakan, “Mereka dengan berkedok
pendeta melakukan operasi mata-mata dan melakukan kerusakan.”
Setelah kematian Sekou Toure pada tahun 1984 yang
diikuti oleh kebangkitan militer Guinea, para misionaris kembali melakukan
aktivitasnya di negara itu. Dengan melakukan infiltrasi terhadap pemerintah,
mereka mengubah sistem pendidikan Guinea dan mengubah Kementerian Urusan Islam
yang dibentuk semasa pemerintahan Sekou Toure menjadi Kementrian Urusan
Religius. Dengan disahkannya hukum revisi UUD Guinea pada tahun 1991, para
misionaris melalui politikus-politiku Kristen berusaha menngambil posisi penting
dalam kabinet kementrian. Meskipun 95 persen rakyat Guinea adalah muslim, namun
para misionaris bebas melakukan penyebaran ajaran Kriaten melalu radio dan
televisi. Mereka umumnya melakukan aktivitas dengan berkedok sebagai organisasi
non pemerintah Amerika. Desa-desa merupakan daerah yang terpenting bagi mereka
untuk melaksanakan misi penyebaran Kristen di Guinea.
Bagian Keempatbelas
Menyusul keruntuhan Uni Soviet dan kemerdekaan
negara-negara Asia Tengah, puluhan kelompok misionaris atas dukungan
negara-negara Eropa dan Amerika dikirimkan ke wilayah ini. Pada pertemuan kita
kali ini, kami akan membahas kegiatan para misionaris di Azerbaijan. Selamat
mengikuti.
Secara umum, metode yang dipakai delegasi
misionaris di Azerbaijan sama dengan metode mereka di Afrika. Mereka
memanfaatkan situasi sosial-ekonomi yang buruk di negara tempat mereka bertugas
dan dengan berbagai cara mereka berusaha melakukan berbagai infiltrasi di tengah
masyarakat. Kemiskinan dan kesulitan ekonomi dan sosial di negar-negara yang
baru merdeka seperti Azarbaijan merupakan kondisi yang cocok bagi para
misionaris untuk melaksanakan misi mereka. Para misionaris itu mendapat dukungan
dana yang besar dan perlindungan politik dari negara-negara Barat, seperti AS,
Inggris, Perancis, Jerman, dan Belgia.
Misionaris Barat ini berusaha menyembunyikan
tujuan politik dan budaya mereka dengan cara mendirikan berbagai organisasi.
Mereka menampakkan kepada masyarakat bahwa tujuan mereka adalah menolong
kemanusiaan. Namun, karena kebutuhan ekonomi rakyat Azerbaijan, mereka juga
melakukan pemaksaan. Misalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebuah organisasi
bantuan kemanusiaan bernama Adra.
Harian Musawat Nawin, terbitan Baku, mengenai
organisasi ini menulis, meskipun sudah jelas bahwa organisasi ini adalah sebuah
gerakan misionaris yang disponsori Amerika, namun para pejabatnya menyangkal
kenyataan tersebut. Ketika pejabat Azerbaijan mengumumkan bahwa organisasi ini
adalah sebuah lembaga misionaris Amerika, pemimpinnya, Vaksun malah menyatakan
bahwa ada 400 ribu warga Azarbaijan yang mendapat bantuan dari organisasi ini.
Dia mengancam, bila tekanan dari para pejabat politik dan media massa
Azerbaijan terus berlangsung, organisasi ini akan menghentikan bantuannya
tersebut.
Dukungan langsung pemerintahan negara-negara
Barat seperti AS atau organisasi keamanan dan kerjasama Eropa (OSCE) terhadap
kelompok-kelompok misionaris ini justru semakin membuka tujuan politik mereka.
Perlindungan kedutaan besar AS di Azerbaijan terhadap kelompok misionaris dengan
alasan melindungi kebebasan aktivitas kelompok agama juga lebih membuktikan
kenyataan ini.
Sementara kementrian luar negeri AS mengklaim
bahwa agama minoritas di Azerbaijan menghadapi berbagai masalah, kelompok
misionaris Barat dengan bebas dan leluasa melakukan aktivitas mereka. Menyusul
adanya kesempatan untuk mendaftarkan secara resmi organisasi dan yayasan agama
di Republik Azerbaijan, aktivitas misionaris di negara ini semakin meningkat. Di
antara organisasi-organisasi yang telah mendaftarkan diri, lebih dari 40 di
antaranya adalah organisasi yang terkait dengan kelompok Kristen dan Yahudi.
Perlu disebutkan pula bahwa banyak kelompok misionaris lainnya yang tetap
melakukan aktivitasnya meskipun belum mendaftarkan diri.
Padahal, pemerintah Azerbaijan sudah menuduh
bahwa sebagian organisasi-organsasi misionaris tersebut sebagai mata-mata. Nomik
Abasov, menteri keamanan Republik Azerbaijan dalam wawancara dengan televisi
negara itu menyatakan, “Agen keamanan negara-negara luar yang berkedok
organisasi misionaris memiliki tujuan masing-masing di Azerbaijan yang
bertentangan dengan kepentingan negara ini.” Dalam masalah ini, pemerintah Baku
bahkan sudah mengusir beberapa misionaris Barat yang terbukti melakukan
aktivitas ilegal dan mata-mata. Namun, atas bantuan pejabat AS, mereka bisa
kembali lagi ke Azerbaijan dan meneruskan kegiaan mereka.
Di sisi lain, tampak bahwa tindakan pemerintah
Baku dalam memberantas aksi mata-mata para misionaris masih bersifat
setengah-setengah. Para misionaris di Azerbaijan hingga kini bebas menyebarkan
buku-buku dan brosur propaganda Kristen di jalan-jalan dan stasiun-stasiun yang
dipenuhi lalu-lalang masyarakat. Sebaliknya, penduduk Azerbaijan yang 90% di
antaranya adalah muslim malah menemui banyak kesulitan dalam mengajarkan agama
Islam di kalangan mereka sendiri. Sebagai contoh, Menteri Pendidikan dan
Pengajaran Azerbaijan, Misir Mardinov, menentang dicantumkannya mata pelajaran
agama di sekolah-sekolah. Menurut pandangan pengamat masalah Azerbaijan,
tindakan ini menunjukkan adanya upaya dari pihak pemerintah untuk mengurangi
peran Islam dalam kehidupan masyarakat di negara ini.
Para misionaris juga sangat memperhatikan
penyebaran ajaran Kristen di tengah anak-anak. Alasannya adalah karena anak-anak
memiliki hati yang masih bersih dan polos. Ajaran dan pendidikan apapun yang
ditanamkan kepada anak-anak akan berpengaruh hingga ketika ia besar nanti.
Kepribadian sejati seorang manusia dibentuk sejak ia masih kanak-kanak. John
Moot, seorang misionaris terkenal pernah menyatakan, “Kita harus menarik
anak-anak ke dalam ajaran Kristen sejak mereka masih kecil.”
Tahun yang 2002 yang lalu, sebuah surat kabar
“Echo” terbitan Baku edisi 9 April menulis bahwa gereja Baptist di Azerbaijan
telah memanfaatkan kondisi kemiskinan anak-anak untuk menarik mereka ke dalam
ajaran Kristen. Anak-anak yang menjadi terget gereja ini adalah mereka yang
berusia antara 6 hingga 10 tahun.
Selain itu, para misionaris juga menyusup ke
militer Azerbaijan. Sabir Hasanali, sekretaris urusan umat muslimin Kaukasus dan
Rektor Universitas Islam Republik Azerbaijan dalam sebuah wawancara dengan
televisi INS Azerbaijan, menyatakan, “Anggota misionaris dengan memanfaatkan
kesulitan hidup para tentara angkatan bersenjata Azerbaijan, berusaha untuk
menjauhkan mereka dari Islam.” Sayyid Mahdi Kaliov peneliti di bidang ilmu
keislaman berkeyakinan bahwa sembilan puluh persen aktivitas misionaris di
Azerbaijan adalah untuk membawa negeri ini ke dalam perang saudara.
Bagian Kelimabelas
Memburuknya hubungan antara para
penganut Kristen dengan gereja di negara-negara Barat selama tahun-tahun
terakhir ini, menunjukkan peningkatan. Wartawan United Press dalam laporannya
mengenai penurunan jumlah penganut Kristen menulis, “Pada tahun 1975, delapan
juta orang di Inggris menjadi anggota gereja. Angka ini pada tahun 1992, menurun
hingga 6,7 juta orang. Pada tahun 2005, diramalkan akan menurun hingga 5,7 juta
orang. Dari sisi ini, Inggris berada dalam posisi kedua setelah Belanda. Menurut
mingguan Spiegel Jerman, jumlah pengikut gereja Katolik dan Protestan juga
menurun. Di Italia, harian La Republica yang menukil Franco Garti, sosiolog
negara ini menulis, jumlah orang Kristen di Italia telah menurun. Ada sekelompok
Kristen namun mereka tidak menjalankan aturan agama atau tidak mengakui akhirat.
Mereka ini menyebabkan goncangan iman seseorang dan pada akhirnya mengurangi
pemeluk agama.”
Pada saat di dunia Kristen jumlah
pengikutnya semakin berkurang, jumlah misionaris yang dikirimkan ke
negara-negara Islam malah semakin meningkat. Tujuan politik dan budaya memiliki
peran penting dalam kehadiran para misionaris ke negara-negara Islam. Tujuan ini
semakin penting bagi mereka karena ketidakberhasilan mereka di negara-negara
Barat.
Sebagaimana kita ketahui, periode
penyebaran ajaran Kristen oleh Isa Al-Masih relatif pendek. Oleh karena itu,
ketika Isa Al-Masih diangkat Allah naik ke langit, pengikutnya tidaklah banyak.
Namun, para pengikut Nabi Isa a.s. yang dalam sejarah dikenal sebagai kaum
Hawariyun meneruskan penyebaran ajaran-ajaran beliau.
Bertahun-tahun setelah mi’rajnya Nabi
Isa Al-Masih, ajaran beliau belum ada yang dibukukan. Kitab suci Injil yang
terdiri dari perjanjian baru dan perjanjian lama baru dibukukan secara lengkap
pada akhir abad ke-4 Masehi. Oleh karena itu, menurut Robert Hume, penulis buku
“Agama-Agama Dunia” , “Dunia Kristen sampai sekarang masih belum sepakat
mengenai apa saja yang benar-benar merupakan isi dari kitab suci
Kristen.”
Perlu disebutkan pula bahwa kitab
suci terdiri dari berbagai risalah yang berbeda dan tidak mengandung
keteraturan, urutan, dan keserasian dalam penempatan berbagai risalah tersebut.
Wyncken, ilmuwan kontemporer Jerman dan ahli teologi pernah menulis, “ Adalah
hal yang menakjubkan bahwa sekumpulan tulisan yang tidak sejenis dalam bentuk
satu kesatuan, yang ada di antara masyarakat, dinamakan buku kalam
Ilahi.”
Pada abad ke-19, dilakukan penelitian
dan penelaahan terhadap kitab Perjanjian Lama dan Baru dan ditemukan berbagai
kesalahan ilmiah, sejarah, dan lain-lainnya. Hal ini membuat sebagian penganut
Kristen, di antaranya Richard Bush, penulis buku “Dunia Relijius, Agama dalam
Masyarakat Dewasa Ini”, menulis, “Dewasa ini, sebagian besar umat Kristiani
meyakini bahwa dalam kitab suci mereka terdapat kesalahan kata-kata.” Kitab suci
Kristen mengandung nilai-nilai ketuhanan, namun, bukanlah benar-benar kata-kata
Tuhan. Oleh karena itu, memiliki berbagai kesalahan yang mengundang
keingintahuan dari para realis dan orang-orang yang penuh keingintahuan, yang
tidak bisa dijawab.
kini kami akan melanjutkan
pembicaraan dengan meninjau aktivitas misionaris di Tajikistan. Tajikistan
adalah salah satu negara di Asia Tengah. Setelah keruntuhan Uni Soviet, berbagai
delegasi misionaris berdatangan ke Tajikistan dan sebagian besarnya berkedok di
balik pelayanan sosial dan kesehatan. Karena kondisi ekonomi dan sosial yang
kurang baik di negeri itu, para misionaris berharap bisa menarik perhatian
penduduk dengan memberikan bantuan pengobatan. Mereka beranggapan bahwa dokter
adalah kedok yang paling baik dipakai untuk melaksanakan aktivitas misionarisnya
di Tajikistan. Karena, para dokter bisa berhubungan dengan segala lapisan
masyarakat daan dengan demikian dia bisa menyebarkan pemikirannya di
tengah-tengah masyarakat. Pada misionaris berkeyakinan bahwa para dokter adalah
Injil hidup karena mereka mampu menarik orang-orang sekitarnya untuk memeluk
Kristen atau minimalnya memberi pengaruh ajaran Kristiani yang mendalam ke dalam
jiwa orang-orang di sekitarnya.
Oleh karena itu, salah satu metode
para misionaris adalah mendirikan rumah sakit-rumah sakit, panti asuhan anak
yatim, dan pusat-pusat bantuan sosial di berbagai kawasan miskin. Baru-baru ini,
gereja di kota Dusyanbe, ibu kota Tajikistan, mengundang penduduk untuk datang
agar mendapatkan perawatan gratis. Namun, di sana, para dokter menyebarkan
ajaran Kristen dengan cara membacakan doa sebelum memeriksa pasien. Kelompok
misionaris yang berkedok dokter ini berkebangsaan Korea namun mendapat
perlindungan dari Amerika. Mereka juga menjalankan aktivitas misionaris mereka
melalui penerbitan di Tajikistan dengan kedok kemanusiaan.
Penggunaan media massa seperti surat
kabar, buku-buku, stasiun televisi dan radio serta pembuatan film sinema,
merupakan salah satu cara untuk menyebarkan ajaran Kristiani. Mingguan
Tajikistan dalam laporan khususnya mengenai film-film yang menyebarkan ajaran
Kristen, menulis, “Tujuan film ini adalah untuk menarik kaum muda muslim
Tajikistan ke dalam agama Kristen. “ Mengenai hal ini pula, sebuah majalah
misionaris “Religious Broadcasting” pada bulan Januari 1996 menulis mengenai
sebuah program besar bernama “Kehidupan Baru di Tahun 2000”. Di antara tujuan
program ini adalah mengirimkan sekelompok ke seluruh dunia untuk mengubah
keyakinan dan kepercayaan agama masyarakat dan menyebarkan tujuan-tujuan
misionaris mereka.
Bagian Keenambelas
Tabligh atau penyebaran ajaran kebenaran sebuah agama haruslah dilakukan
dengan kejujuran dan menggunakan cara-cara yang benar dan logis. Namun, para
misionaris Kristen dalam aktivitas mereka di negara-negara muslim amat jauh dari
hal ini. Salah satu dari metode yang mereka pakai dalam menyebarkan akidah
mereka adalah dengan melakukan konstekstualisasi pemikiran objek misionaris
dengan Injil. Dengan cara ini, mereka menyembunyikan permusuhan mereka terhadap
Islam dan sebaliknya mereka berusaha berperilaku sesuai dengan ajaran Islam
bahkan ritual agama mereka dilakukan dengan cara Islam. Misalnya, mereka
menggunakan pakaian yang serupa dengan pakaian orang Islam dan menghindari
makanan-makanan yang diharamkan dalam agama Islam.
Dalam masalah ini, seorang penulis Pakistan bernama Imtiyaz Zafar
menulis sebuah makalah berjudul “Pandangan Misionaris Pada Abad ke-20”.
Menurutnya, para misionaris menggunakan metode baru yang mengajarkan ajaran
Kristen dalam bentuk Islami. Gereja mereka dinamakan sebagai Masjid Isa dan
mereka membaca Injil lima kali sehari sebagaimana orang Islam shalat lima kali
sehari semalam. Mereka bahkan juga melakukan sujud seperti orang Islam bersujud
dalam shalat.
Imtiyaz Zafar dengan mengutip ucapan Phill Marshal, seorang misionaris,
menulis bahwa misionaris mengajarkan ayat-ayat Injil yang cocok untuk dibaca
dalam shalat. Dengan cara ini, shalat umat Islam akan mengandung nilai Injil.
Selain itu, para misionaris juga dianjurkan untuk menjauhi makan daging babi dan
minum alkohol.
Beberapa waktu yang lalu, sebuah surat kabar Kirkizistan menulis bahwa
para misionaris telah memanfaatkan ketidakwaspadaan dan keluguan masyarakat
untuk menyebarkan ajaran yang tidak mereka kenal. Surat kabar Urkintar juga
menulis sebagai berikut. “Beberapa hari sebelumnya, seorang warga negara Amerika
di provinsi Narin menyebarkan ajaran agama yang menurut para ahli lokal,
merupakan campuran dari ajaran Hindu, Kristen, Syimani, dan Islam. Ajarannya ini
bisa menyelewengkan seorang muslim yang kurang pengetahuan. Misionaris Amerika
yang bernama Richard Hewitt selama tiga bulan melakukan aktivitas misionaris
secara sembunyi-sembunyi dan menyebarluaskan pemikirannya dalam tulisan yang
mirip seperti buku Salman Rushdi. Setelah diusir dari Uzbekistan, dia lalu
datang ke sebuah daerah pegunungan di Kirkizistan.
Dewasa ini, di Amerika ada ratusan lembaga agama yang melakukan ritual
yang saling berbeda satu sama lain. Lembaga-lembaga yang sebagiannya mendapatkan
dukungan dana yang besar dari pemerintah Barat ini mengirimkan orang-orangnya ke
berbagai penjuru dunia untuk menyebarkan akidah mereka. Sekte “Kesaksian
Yehovah” adalah salah satu di antara lembaga tersebut yang didirikan di
Pensylvania Amerika, pada akhir abad ke-19. Sekte ini menyebarkan orang-orangnya
di berbagai negara, terutama di Asia Tengah dan menjalankan aktivitas misionaris
di sana. Sekte ini memiliki dana yang sangat besar dan mendapatkan perlindungan
politik dari pemerintah Amerika. Bahkan, Kementrian luar negeri AS dalam laporan
tahunannya tahun 2001 menekankan masalah penyelesaian masalah yang berhubungan
dengan sekte ini.
“Aktivitas mencurigakan dalam kedok agama” merupakan bahaya yang
membuat berkali-kali disampaikan oleh para pejabat agama dan politik
negara-negara Asia Tengah setelah keruntuhan Uni Soviet. Para pemuda di kawasan
ini menjadi sasaran utama gerakan misionaris Barat tersebut. Beberapa waktu yang
lalu, mingguan Zaman terbitan Kazakhstan memberitakan tentang meningkatnya
aktivitas misionaris di tengah rakyat negara ini. Mingguan ini menulis,
“Beberapa kelompok misionaris di kota Almati melakukan aktivitas mereka dengan
amat giat, khususnya di tengah-tengah para pemuda.
Metode misionaris untuk menarik perhatian para pemuda sangatlah beragam.
Di antaranya adalah dengan mendirikan pusat pendidikan bahasa Barat. Dalam pusat
pendidikan ini, para misionaris melalui materi-materi pelajaran menyebarkan
kebudayaan Barat dan pemikiran agama mereka. Dalam masalah ini, Shataliah,
seorang pendeta Perancis dalam sebuah majalah propaganda agama “Le Monde
Musulman” (Dunia Islam) menulis, “Tidak diragukan lagi, para misionaris kita
hingga kini masih belum berhasil membuat kaum muslimin berada di bawah pengaruh
kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita bisa memanfaatkan penyebaran bahasa-bahasa
Eropa. Melalui bahasa-bahasa Eropa tersebut, pemikiran Eropa bisa
disebarluaskan. Selain itu, dunia Islam bisa berhubungan dengan media massa
Eropa dan dengan jalan itulah organisasi-organisasi misionaris bisa mencapai
tujuannya untuk merusak pemahaman Islam di kalangan umat
muslim.”
Jalan lain yang digunakan untuk menarik kaum muda di Asia Tengah adalah
dengan membentuk klub-klub dan pusat-pusat olahraga serta hiburan. Pusat-pusat
olahraga dan hiburan ini aktif di bidang budaya dan sosial namun diatur dengan
pemikiran misionaris. Pusat-pusat yang sebagiannya berada di bawah nama
“Perkumpulan Muda” atau “Organisasi Pemuda” ini melakukan berbagai kegiatan
seperti tur atau konferensi mahasiswa dan pertandingan olahraga untuk menarik
perhatian kaum muda. Cornelius Botton, penulis buku “Aktivitas Misionaris
Gereja” menulis, “Peran perkumpulan-perkumpulan itu dalam memajukan gereja
adalah dengan berusaha mempengaruhi para mahasiswa dan pemikir di kota-kota.
Perkumpulan ini melalui pengaruhnya dalam kehidupan sosial dan olahraga, bisa
mengajak beberapa orang ke dalam ajaran Kristen. Hal ini akan sulit dilakukan
oleh para misionaris secara perorangan.
Bagian Ketujuhbelas
Beberapa waktu yang lalu, surat kabar
Wall Street Journal menuliskan laporan mengenai aktivitas kelompok-kelompok
misionaris yang jumlahnya tak terhitung yang bertujuan untuk mengkristenkan kaum
muslimin. Menurut suratkabar ini, gereja-gereja dengan mengirmkan
misonaris-misionaris ke sebagian wilayah Afrika dan Asia telah berusaha untuk
mengubah akidah umat Islam. Wall Street Journal menulis bahwa para penerbit
telah mencetak banyak buku mengenai bagaimana cara menarik kaum muslimin. Buku
ini dibuat sesuai perkembangan di kalangan muslim dan setiap babnya diberi nama
sesuai dengan nama surat-surat dalam Al-Quran.
Lebih jauh lagi, Wall Street
Journal juga melaporkan bahwa para misionaris Amerika mengirimkan
anggota-anggota mereka ke berbagai negara muslim dunia dengan berkedok sebagai
guru, penerjemah, wakil perdamaian, atau pedagang. Orang-orang ini dengan
menggunakan gereja atau lembaga-lembaga Kristen telah menjalin hubungan dengan
masyarakat pribumi lalu berusaha membentuk kelompok-kelompok Kristen.
Salah satu negara muslim terpenting
yang menjadi sasaran para misionaris adalah Turki. Karena letak geografisnya
yang unik, yaitu berada di antara Eropa dan Asia, Turki memiliki posisi yang
penting dan sensitif. Aspek geopolotik Turki yang penting itu membuat negara ini
selalu menjadi perhatian negara-negara Eropa. Usaha negara-negara Barat untuk
menanamkan pengaruh di Turki telah dimulai sejak periode pemerintahan Utsmani
dan para misionaris memiliki peran besar dalam usaha ini.
Pada awal abad ke-19, kawasan-kawasan
penting dunia seperi Asia Kecil, di antaranya Armenia dan Turki, selat Bosporus
dan Dardanela, Timur Tengah, Mediterania, dan Makedonia, dikuasai oleh
pemerintahan Utsmani. Di wilayah kekuasaan Utsmani yang amat luas itu, hidup
para pengikut berbagai agama dan kondisi ini dimanfaatkan oleh para misionaris.
Dengan dalih memberikan pengajaran agama kepada kelompok agama minoritas, para
misionaris Barat memasuki wilayah Utsmani. Kemudian, sedikit demi sedikit, para
misionaris menjalankan peran sebagai agen perluasan pengaruh negara-negara Barat
yang mengirim mereka, di kalangan pemerintah negara muslim tersebut.
Pemerintah Inggris, Perancis, Rusia,
dan Amerika adalah di antara negara-negara Barat yang memanfaatkan para
misionaris untuk memperluas pengaruh mereka terhadap pemerintahan negara-negara
muslim. Di samping mendirikan lembaga-lembaga agama, langkah pertama yang
diambil oleh para misionaris ketika memasuki wilayah Utsmani adalah mendirikan
yayasan pendidikan. Menjelang Perang Dunia Pertama tahun 1914, lebih dari 1300
yayasan Perancis, Inggris, dan Amerika aktif menjalankan kegiatan mereka di
berbagai pelosok wilayah Utsmani. Robert College adalah salah satu sekolah yang
didirikan oleh misionaris pada tahun 1863 di kota Istambul. Sekolah ini dikelola
oleh para misionaris Amerika. Menurut tulisan Athen Sezar, seorang penulis
Turki, yayasan ini memiliki peran yang sangat besar dalam menggerakkan
orang-orang Bulgaria untuk memisahkan diri dari kekuasaan Utsmani.
Yayasan-yayasan misionaris berperan
untuk menciptakan perasaan kebanggaan etnis dan ras di tengah-tengah masyarakat
dengan tujuan untuk meningkatkan pertentangan dan bentrokan di wilayah Utsmani.
Dengan meningkatkannya fanatisme kesukuan dan ras, perasaan kesatuan di antara
kaum muslimin di wilayah Utsmani kian menurun. Penciptaan perpecahan dan
perselisihan serta melenyapkan keutuhan dan persatuan kaum muslimin, selalu
menjadi salah satu tujuan para misionaris karena dengan cara inilah mereka bisa
mencapai keinginan mereka di bidang politik, budaya, dan sosial.
Seorang pendeta bernama Simon
menyatakan bahwa persatuan Islam adalah harapan bangsa-bangsa muslim yang
sadar, dan dengan cara itu mereka berusaha keluar dari pengaruh Eropa. Masalah
ini hanya bisa dicegah oleh program-program misionaris karena program-program
itu menampilkan wajah Eropa dengan menarik dan bisa menghancurkan persatuan kaum
muslimin.
Para misionaris dalam pengajaran di
sekolah-sekolah mereka berusaha menampilkan wajah Eropa yang menarik ke dalam
benak anak-anak muda muslim. Akibatnya, mereka melupakan sejarah bangsa mereka
yang penuh kebanggaan. Menurut Kardinal Lavie Garry, “Tanpa diragukan lagi,
agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh
karena itulah para misionaris berharap agar seluruh kaum muslimin menjadi
Kristen. Meskipun para misionaris juga menyebarkan ajaran mreka di kalangan
Budha dan Hindu, namun tujuan asli mereka adalah kaum muslimin.”
Dengan tujuan untuk melemahkan
pemerintahan Utsmani, aktivitas misionaris di kawasan ini semakin meningkat.
Setiap kali pejabat politk Utsmani berencana untuk membatasi aktivitas
misionaris Barat itu, mereka akan berhadapan dengan tekanan poltik pemerintah
pelindung misionaris tersebut. Akhirnya mereka pun terpaksa mengambil langkah
mundur. Kuat atau lemahnya pemimpin yang berkuasa di wilayah Utsmani akan
mempengaruhi besarnya pengaruh misionaris dalam pemrintahan. Sebagai contoh bisa
dilihat pada masa kepemimpinan Said Pasha di Mesir yang saat itu berada di bawah
kekuasaan Utsmani. Karena kepemimpinannya yang lemah, dia disukai oleh para
misionaris. Sebaliknya, ketika Ismail Pasha berkuasa, dia melarang segala
aktivitas misionaris. Akibatnya, dia selalu menjadi sasaran celaan para
misionaris dan mendapat tekanan dari negara-negara Barat.
Dengan melemahnya pemerintahan Utsmani
dan naiknya Kamal Attaturk ke tahta kekuasaan, para misionaris semakin bebas
melaksanakan aktivitas mereka. Bahkan, sebagian kebijakan politik Attaturk
sejalan dengan tujuan para misionaris. Misalnya, perintah Attaturk untuk
mengubah huruf Turki dengan huruf Latin adalah upayanya untuk memotong hubungan
kaum muslimin dengan warisan Islam yang kaya. Lebih jauh lagi, Attaturk bahkan
menutup semua sekolah Islam di Turki dengan alasan penyeragaman kurikulum
pendidikan di negara itu. Sebaliknya, pusat-pusat pendidikan misionaris Barat
diizinkan untuk terus beroperasi dan bahkan pada tahun 1930, sekolah-sekolah AS
di Turki dibebaskan dari pajak. Sepeninggal Attaturk, kegiatan misionaris ini
masih terus berlanjut dan mendapat tentangan keras dari masayarakat muslim
Turki.
Bagian Kedelapanbelas
Pada masa pemerintahan
Utsmani, para misionaris Barat merupakan salah satu alat untuk menyebarkan
pengaruh pemerintahan Barat di wilayah itu. Mereka dengan berbagai metode
berusaha untuk meningkatkan fanatisme kesukuan dan ras, serta menyebarkan
perpecahan di antara rakyat sehingga memperlemah pemerintahan Utsmani yang
merupakan satu-satunya pemerintahan di Eropa yang bermazhab resmi Islam
ini.
Setelah runtuhnya
pemerintahan Turki Utsmani dan naiknya Kamal Attaturk, para misionaris semakin
banyak dan bebas menjalankan aktivitasnya di negara ini. Kebijakan politik
Ataturk yang memukul Islam sejalan dengan tujuan para misionaris. Penetapan hari
Minggu sebagai hari libur yang mengantikan hari Jumat, mengganti huruf Arab dari
bahasa negara ini dan menggantikannya dengan huruf latin, pembatalan penanggalan
Hijriah dan menggantinya dengan penanggalan Masehi, adalah di antara
langkah-langkah Attaturk dalam menyingkirkan nilai-nilai Islam dari tengah
masyarakat Turki. Sebaliknya, Attaturk menyebarluaskan pengaruh kebudayaan Barat
di negara itu.
Secara umum, dewasa
ini, politik Attaturk yang anti Islam masih dilanjutkan oleh sebagian pejabat
negara ini, meskipun mendapatkan penentangan dari rakyat. Dengan kata lain,
sebagian pejabat negara ini berusaha melemahkan budaya Islam di tengah
masyarakat muslim Turki. Sejalan dengan itu, sebagian pejabat negara memberikan
kebebasan kepada para misionaris untuk menjalankan aktivitas mereka. Meluasnya
kegiatan misionaris Barat di Turki bahkan membuat dewan keamanan nasional negara
ini mengganggapnya sebagai sebuah fenomena yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan laporan
yang diungkapkan oleh Dewan Keamanan Nasional Turki, para misionaris selama tiga
tahun, yaitu sejak tahun 1999 hingga 2001, telah menyebarluaskan tiga juta
naskah Injil secara gratis di Tuki. Penyebaran Injil dalam jumlah yang amat
besar itu membutuhkan dana yang besar pula. Berdasarkan laporan tersebut, selama
satu tahun, di kota Istambul saja sudah 19 gereja yang didirikan. Hal yang
menarik di sini adalah bahwa gereja-gereja itu didirikan di daerah-daerah yang
tidak ada penduduk Kristennya. Para misionaris membeli atau menyewa unit-unit
apartemen dan toko-toko, lalu menggunakannya sebagai tempat peribadatan ataupun
gereja. Belum lama berselang, sementara para misionaris dengan bebas mengajarkan
ajaran Kristen kepada para pemuda dan remaja di sekolah-sekolah, kelas-kelas
pengajaran Quran malah diserang oleh oknum-oknum kepolisian.
Dalam sebuah laporan
resmi disebutkan bahwa tujuan utama para misionaris lebih jauh dari sekedar
menyebarkan ajaran agama. Tujuan utama mereka adalah memecah-belah Turki. Dalam
usahanya ini, salah satu kegiatan para misionaris adalah menciptakan perpecahan
antara bangsa Turk dan Kurdi. Para misionaris di tenggara Turki menyebarluaskan
Injil dalam bahasa Kurdi dan menggerakkan rakyat Kurdi untuk menuntut agar
bahasa Kurdi digunakan dalam pengajaran di sekolah-sekolah dan menyebarluaskan
program dalam bahasa Kurdi.
Hubungan Partai Komunis
Kurdi (KDK), yang sebelumnya bernama Partai Buruh Kurdi (PKK), dan gerakan
separatis Kurdi dengan gereja adalah sebuah fakta yang harus diperhatikan. Sejak
tahun 1983, gereja memiliki hubungan erat dengan kelompok-kelompok separatis.
Perlu disebutkan pula bahwa gerakan separatis pertama yang terjadi di tenggara
Anatolis pada tahun 1962, didalangi oleh para pakar AS yang terkait dengan
gereja-gereja Katolik dan Anglikan.
Untuk mencapai tujuan
politik dan budayanya, para misionaris Barat di Turki menggunakan metode yang
berbeda-beda. Misionaris yang beraktivitas di tengah masyarakat fakir menipu
masyarakat dengan tawaran kerja dan janji pemberian uang Sebaliknya, para fakir
miskin itu diminta untuk mengenakan pakaian Kristiani.
Majalah Aidin Lik
terbitan Turki, beberapa waktu yang lalu menyebutkan tentang adanya sebuah buku
terbitan New York yang berisi "metode-metode misionaris Prostestan”. Dalam buku
ini, secara jelas dituliskan bahwa lokasi terpenting aktivitas misionaris
adalah negara-negara Arab dan Islam. Kepada para misionaris, buku ini menuliskan
pesan sebagai berikut. "Peluang terbaik bagi kita adalah di negara-negara yang
baru lepas dari perang dan kondisinya diliputi kehancuran, kelaparan, dan
standar hidup yang rendah. Daerah terbaik untuk menyebarkan agama adalah di
pinggiran kota. Jika diperlukan, orang-orang yang tinggal di daerah-daerah
seperti ini bisa dibeli.”
Penggunaan radio,
televisi, serta bioskop adalah salah satu metode yang biasa dipakai para
misionaris. Berdasarkan sebuah laporan penelitian pada tahun 1993, di antara
film-film yang ditayangkan di televisi pemerintah dan swasta di Turki,
sebagiannya merupakan propaganda Kristen. Dalam film ini, para pastor atau
penyebar ajaran Kristen selalu digambarkan sebagai orang berwajah bersih dan
orang yang baik. Sebaliknya, dalam sebagian besar film-film buatan Turki yang
selama ini ditayangkan, para ruhaniwan Islam digambarkan sebagai orang yang
kepribadiannya tidak simpatik sehingga tidak bisa menarik perhatian para pemuda
dan remaja.
Menurut juru bicara
pers Patrik Khan Ortodoks, segala organisasi atau lembaga yang dibangun oleh
misionaris selalu saja melayani kepentingan para imperialis. Imperialisme
menggunakan para misionaris sebagai senjata dan oleh karena itu, misionaris
amat berbahaya bagi Turki dan dunia.
Bagian Kesembilanbelas
Negara Indonesia yang terletak di Asia
Tenggara ini, merupakan , sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar di
dunia. Sekitar 200 juta muslim hidup di negara ini. Artinya, sekitar 90 persen
dari total populasi negara ini adalah muslim. Jumlah muslim yang amat besar,
yang berada di sebuah negara dengan hasil alam yang amat kaya, terutama gas dan
minyak, menjadikan Indonesia sebagai sebuah target penting bagi para
misionaris.
Indonesia selama lebih dari tiga abad berada
di bawah penjajahan negara-negara Barat, seperti Spanyol, Portugis, dan Belanda.
Setelah melakukan perjuangan melawan Belanda, akhirnya rakyat Indonesia berhasil
meraih kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Kehadiran imperialisme
Belanda yang memakan waktu hingga 350 tahun menciptakan kesempatan yang sangat
luas bagi masuknya delegasi-delegasi misionaris Barat ke Indonesia. Sebagaimana
telah kami bahas pada bagian-bagian yang lalu, misionaris selalu menjadi
pendukung utama imperialisme. Karena itu, program-program misionaris selalu
sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh kaum penjajah. Belanda yang selama
tahun-tahun pertama abad ke-17 melancarkan program imperialismenya di Asia
Tenggara dan Timur Jauh, juga menggunakan bantuan dari para
misionaris.
VOC atau Perusahaan Belanda di Hindia Timur
yang dibentuk sejak tahun 1602 yang merupakan wakil imperialisme Belanda di
Asia Tenggara, selalu melindungi para misionaris dan rakyat pribumi di Asia
Tenggara dipaksa untuk mau menerima ajaran Kristen. Latourette, penulis buku
sejarah Kristen yang berjudul “A History of Christianity” , meskipun berusaha
mengaburkan adanya hubungan antara misionaris dengan program-program
imperialisme, mengakui dalam bukunya itu, bahwa “Prinsip dan kaidah Kristen
dalam kebijakan-kebijakan imperialisme Belanda memainkan peranan yang sangat
banyak.”
Sementara para penjajah Belanda memaksa
rakyat pribumi untuk menerima ajaran Kristen, sebaliknya, jika seorang Belanda
masuk Islam, keuangannya akan dihentikan dan orang itu akan ditangkap serta
dikeluarkan dari wilayah tersebut. Perlindungan para imperialisme Barat terhadap
para misionaris di Asia tenggara, termasuk Indonesia, menyebabkan mereka
memiliki posisi penting dalam masyarakat. Hal ini bisa dilihat, ketika Indonesia
meraih kemerdekaannya, orang-orang Kristen di negara ini menduduki
jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan dan memiliki pengaruh yang besar
dalam percaturan politik Indonesia. Contoh penting mengenai pengaruh Kristen di
Indonesia, adalah dalam proses penyusunan UUD RI. Pada konsep UUD tersebut,
disebutkan kelima “Ketuhanan yang Mahaesa dengan menjalankan kewajiban syariat
Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Penulisan konsep ini didasarkan pada kenyataan
bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Namun, karena kuatnya pengaruh
Kristen yang jumlahnya hanya 8 persen itu, kalimat tersebut diubah dan hanya
ditulis “Ketuhanan Yang Mahaesa”.
Dewasa ini, aktivitas misionaris di
Indonesia dilakukan dengan berbagai metode. Di antaranya, dengan berlindung di
balik organisasi-organisasi internasional seperti WHO, FAO, UNESCO, dan UNICEF.
Para misionaris itu banyak melakukan kegiatannya di daerah-daerah yang
penduduknya miskin dan terisolir, seperti di sebagian kawasan Irian Jaya dan
Sulawesi. Mereka mengirimkan dokter dan guru-guru ke daerah-daerah itu serta
mendirikan yayasan-yasayan sosial, dengan tujuan untuk mendekati dan menarik
hati masyarakat pribumi.
Di antara yayasan-yayasan misinaris yang
aktif di Indonesia adalah Nehemia Foundation yang sering disebut sebagai CCN.
Lembaga ini didirikan pada tahun 1987 oleh Pendeta Suradi dengan tujuan untuk
mendidik para pendakwah Kristen. Namun, dengan melihat cara kerja yayasan ini,
para tokoh Islam Indonesia berkeyakinan bahwa tujuan yayasan ini adalah untuk
menghina Islam. Untuk mecapai tujuan ini, yayasan tersebut melakukan berbagai
usaha, di antaranya menciptakan ayat dan hadis-hadis palsu.
Beberapa waktu yang lalu, majalah Moslem
Media terbitan London menuliskan laporannya tentang program Dewan Gereja
Indonesia yang bertujuan untuk mengkristenkan masyarakat Indonesia. Berdasarkan
program ini, Dewan Gereja menyuruh para anggotanya untuk ikut serta dalam
aktivitas politik, ekonomi, dan budaya agar bisa meraih puncak kekuasaan dan
bisa mengendalikan politik negara itu sesuai dengan kepentingan gereja.
Disebutkan pula bahwa Dewan Gereja juga menyuruh agar para anggotanya mendekati
orang Indonesia keturunan Cina karena mereka lebih mudah untuk ditarik ke dalam
agama Kristen dan posisi mereka di Indonesia bisa menguntungkan
Kriten.
Dalam majalah Sabili terbitan Indonesia pada
edisi 05 tahun 2003, dituliskan laporan mengenai aktivitas misionaris di
Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di masa lalu, Kerajaan Gowa adalah sebuah
kerajaan Islam yang gigih berjuang mengusir Belanda dari tanah air Indonesia.
Namun kini, Gowa adalah lahan empuk bagi para misionaris. Misalnya, di kelurahan
Malino sejak Februari 1974, didirikan Sekolah AlKitab, yang merupakan salah satu
dari sekitar 25 sekolah Alkitab Gereja Pantekosta di bawah naungan Belanda. Di
kelurahan ini, ada 7 gereja yang aktif. Di desa Sicini, yang penduduknya
merupakan masyarakat miskin terbesar di Gowa, para misionaris gencar mengirimkan
bantuan-bantuan kepada masyarakat. Mereka mendapatkan dukungan dana dari
Vatikan, AS, Kananda, dan Belanda. Di desa-desa lainnya di Gowa pun, situasinya
tak jauh berbeda. Para misionaris dengan giat menyalurkan bahan pangan, uang,
alat tulis, pakaian bekas. Mereka juga mengadakan pelatihan peternakan dan
pertanian kepada masyarakat, bahkan membangun jaringan pipa air bersih. Semua
kegiatan ini ditujukan untuk menarik hati masyarakat pribumi dan mengajak mereka
untuk memeluk agama Kristen.
Bagian Keduapuluh
Sejak abad ke-12 hingga 13,
Bangladesh berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu atau Budha. Kemudian, pada
abad ke-13, pengaruh Islam masuk ke wilayah ini, sehingga mayoristas penduduknya
memeluk agama Islam. Pada tahun 1757, Inggris menjajah anak benua India,
termasuk Bangladesh. Ketika Inggris angkat kaki dari kawasan itu, pada tahun
1947 berdirilah negara Islam Pakistan, yang wilayahnya juga meliputi Bangladesh.
Namun, pada tahun 1971, Bangladesh memisahkan diri dan menjadi negara yang
independen.
Bangladesh memiliki 120 juta
penduduk dan merupakan salah satu negara yang terpadat penduduknya di dunia.
Sembilan puluh persen populasi Bangladesh beragama Islam, dan sisanya Hindu,
Budha, dan Kristen. Kondisi penduduk Bangladesh yang sebagian besarnya miskin
dan perekonomian negara yang lemah, membuat negara ini menajdi lahan yang subur
bagi perkembangan gerakan misionaris. Sebagaimana yang mereka lalukan di
negara-negara lainnya, para misionaris melakukan kegiatannya di Bangladesh
dengan berkedok memberi bantuan materi. Dengan mendirikan lembaga-lembaga sosial
yang memberikan bantuan kepada masyarakat, mereka berusaha untuk menarik hati
para warga pribumi Bangladesh. Para misionaris di Bangladesh umumnya aktif di
pedesaan yang padat penduduk.
Masuknya misionaris ke
Bangladesh memiliki sejarah yang panjang. Gerakan misionaris pertama datang
dari Portugis pada abad ke-16. Hingga tahun 1673, tercatat lebih dari 30.000
orang Bangladesh yang menganut agama Kristen Katolik. Pada tahun 1974,
berdirilah gereja Katolik Roma yang ditangani oleh 260 misionaris asing. Gerakan
misionaris Protestan yang tertua di Bangladesh adalah British Baptist
Misionarries Society, yang mulai berjalan tahun 1793. Sampai tahun 1980, ada 21
kelompok misionaris Protestan yang aktif di Bangladesh dan memiliki 270 pekerja
asing. Grup misionaris terbesar bernama Association of Baptist for World
Evangelization yang memiliki 40 orang pekerja misionaris
asing.
Respon para misonaris terhadap
kesulitan yang dihadapi rakyat miskin Bangladesh, seperti bencana alam dan
kelaparan, membuat banyak warga pribumi Bangladesh yang menerima ajaran Kristen.
Bahkan, gereja-gereja Baptis, Anglikan, dan Katolik menyatakan bahwa mereka
menerima permintaan dari seluruh desa dari kasta Namasudra untuk menjadi pemeluk
Kristen, tetapi permintaan itu belum bisa terpenuhi karena kurangnya tenaga
misionaris yang ada.
Penduduk Bangladesh di daerah
pegunungan umumnya bersuku-suku. Para misionaris menyadari bahwa para anggota
suku tersebut satu sama lain saling mempengaruhi. Oleh karena itu, mereka
melakukan aktivitas misionarisnya secara menyeluruh dalam satu suku, bukan
dengan melakukan pendekatan secara perorangan. Seorang atau sekelompok
misionaris selama beberapa tahun hidup di sebuah suku dan mengajarkan ajaran
Kristen kepada warga suku tersebut. Karena tingkat pendidikan warga pedesaan
Bangladesh amat rendah, maka misionaris menyampaikan ajaran mereka melalui
dongeng-dongeng.
Mengenai dongeng-dongeng
rakyat Bangladesh ini, National News Agency of Bagladesh menulis, “Para
misionaris dari Inggris dan Amerika berperan besar dalam pengumpulan dan
penerbitan dongeng-dongeng rakyat Bangladesh. Karena tujuan mereka adalah untuk
menyebarkan Kristen di tengah masyarakat pribumi, mereka mempelajari adat
pribumi dengan tekun. Di antara para misionaris ini, yang paling terkenal adalah
William Carey. Dia mengajar di Fort William College dari tahun 1800-1831 dan
menerbitkan buku-buku dalam bahasa Bengali serta menggalakkan penerjemahan
dongeng dari bahasa Sanskerta yang sebelumnya hanya didengar dari mulut-ke
mulut.”
Para misionaris mengetahui
bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan jalan terbaik untuk mempengaruhi
masyarakat. Karena itulah, mereka mendirikan sekolah-sekolah, universitas,
bahkan taman kanak-kanak. Di antaranya adalah empat sekolah misionaris, yaitu
“Bibble Correspondence School,” yang didirikan di kota Dakka, ibu kota
Bangladesh. Seorang misionaris di Bangladesh mengisahkan, “Untuk memisahkan
anak-anak dari orangtuanya, kami mendirikan banyak sekolah yang jauh dari lokasi
pemukiman masyarakat. Dengan cara ini, hubungan anak-anak dengan orangtuanya
terputus dan mereka sepenuhnya bergantung kepada kami.”
Sebagaimana di negara-negara
lainnya, para misionaris di Bangladesh menanamkan modal yang besar dalam bidang
penerbitan buku-buku Kristiani. Lembaga-lembaga misionaris yang ada aktif
menerjemahkan Injil ke bahasa Bengali dan mencetaknya dalam jumlah besar lalu
menyebarkannya kepada masyarakatan secara gratis. Menurut catatan sebuah lembaga
misionaris “Bangladesh Bible Society, pada tahun 1977 saja, dicetak sebanyak
2,055,757 naskah Injil Perjanjian Baru.
Metode lain yang digunakan
para misionaris di Bangladesh adalah dengan menarik perhatian para perempuan.
Untuk mencapai tujuan ini, beberapa lembaga didirikan, di antaranya pusat
pendidikan Holy Cross yang menyebarluaskan propaganda kebebasan perempuan.
Lembaga-lembaga ini bertujuan, kalaupun tidak berhasil mengkristenkan kaum
perempuan Bangladesh, minimalnya, mereka bisa menyebarluaskan budaya Barat di
tengah kaum perempuan.
Abdul Karim Khan, seorang
penulis Bangladesh pernah menulis tentang aktivitas misionaris di negara itu.
Dia menyatakan bahwa tujuan para misionaris adalah untuk mengubah Bangladesh
menjadi negara seperti Nigeria, yang jumlah muslim dan Kristennya seimbang. Bila
komposisi berimbang ini bisa dicapai, para misionaris bisa mempengaruhi
percaturan politik Bangladesh. Abdul Karim Khan menulis sebagai berikut,
“Pekerjaan para misionaris di Bangladesh sangat membahayakan bangsa. Mereka
mengikis habis keimanan kaum muslim yang miskin serta menyebarkan ideologi
politik dan kebudayaan Barat di Bangladesh. Tak boleh dilupakan bahwa
pelindung para misionaris ini adalah negara-negara Eropa dan Amerika. Oleh
karena itu, sebagian besar misionaris cenderung patuh kepada kepentingan
negara-negara Barat. Inilah yang menjadi alasan bahwa dimanapun para misionaris
melakukan aktivitasnya, maka negara itu pasti akan berada dalam
bahaya.”
Bagian Keduapuluhsatu
|

Komentar
Posting Komentar