ghibah, nifak, fasik, dan riya

A.    APA ITU GHIBAH / GOSIP
Bahasa yang sederhana dari ghibah adalah mengumpat, menggunjing, ngerumpi (Ngerumpiin orang lain) atau membicarakan orang lain. Jika menilik makna Ghibah menurut wikipedia adalah demikian
Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok
Ghibah adalah termasuk dalam dosa besar sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an.

(artinya) : “Janganlah sebagian kalian menggunjing/ mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati ? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S.Al Hujurat : 12).
Jika masih belum cukup dengan firman Allah diatas, berikut saya tambahkan dari
Hadits Rasululloh SAW bersabda :

“Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, (dan juga kehormatan kalian) semua itu adalah haram atas kalian sebagaimana kesucian hari kalian ini (hari ‘Arafah), pada bulan kalian ini dan di negeri kalian yang suci ini.
Masih banyak lagi hadits yang menjelaskan tentang Ghibah ini. Tunggu dulu, tidak semua Ghibah itu tidak diperbolehkan, ada juga Ghibah yang diperbolehkan adapaun dengan tujuan tertentu[1]:
1.      Mengadukan kedhaliman
2.      Meminta bantuan dalam mengingkari kemungkaran atau mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang benar
3.      Meminta Fatwa
4.      Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan dan kejahatan seseorang serta menasehati mereka dari bahayanya
5.      Orang yang terang-terangan dalam berbuat kefasikan atau kebid’ahan


B.     NIFAK / MUNAFIK
 Nifak dalam Bahasa Arab di ambil dari akar kata (kata dasar) (نفق اليربوع)yang bererti "Lubang Tikus",  ini kerana kebiasaannya tikus mudah menampakkan jalan masuk ke lubangnya namun tidak menampakan jalan keluarnya.  Maka ia memberi maksud: "Menampakkan dan melahirkan sesuatu kemudian menyembunyikan (merahsiakan) lawannya".
Antara kalangan ulama muktabar yang telah mendefinisikan nifak ialah Imam Ibn Kathir rahimahullah.    Menurut beliau nifak ialah:
 اِظْهَارُ الْخَيْرِ وَاِسْرَارُ الشَّرِّ
"Melahirkan yang baik dan menyembunyikan (merahsiakan) yang buruk.
Ibn Juraij rahimahullah pula mendefinisikan nifak sebagai:
المنافق يخالف قوله فعله وسره علانيته ومدخله مخرجه ومشهده مغيبه

"Si Munafik itu bertentangan perkataannya dengan perbuatannya, yang dirahsiakan dengan yang berterang-terangan, yang di dalam (hati)nya dengan luarannya dan yang dipersaksikannya dengan yang disembunyikannya".
Menurut pendefinisian Ibn Qaiyim rahimahullah pula bahawa nifak ialah:
"Nifak itu ialah penyakit yang memenuhi anggota dalaman seseorang yang tidak disedari olehnya.  Kerana nifak adalah urusan yang tersembunyi pada manusia.  Cara kebanyakan yang menyembunyikan nifaknya ialah dengan bermuka-muka sebagai seorang pelaku kebaikan sedangkan dia adalah seorang yang pembuat kerosakan"

NIFAK TERBAGI DUA
Menurut Ibn Qaiyim lagi, nifak itu terbagi dua:
            Pertama:  Nifak Akbar, "Nifak Besar" atau nifak akidah (iktiqad) yang menyebabkan pelakunya jika tidak bertaubat sebelum meninggal dunia dia akan dikekalkan di dalam neraka.   Di neraka pula Si Munafik ini akan ditempatkan di neraka yang paling terbawah (kerak neraka).
            Boleh diertikan juga bahawa nifak akbar ialah:
           “Merahsiakan kekufuran dalam hati dan melahirkan keimanannya dengan lisan dan perbuatan (amalan)”.
Antara contoh-contoh nifak akbar (nifak besar) ialah:
1.      Mendustakan apa yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam sama ada sebahagian atau keseluruhannya.  Seperti menolak dan mendustakan bahawa hadis-hadis sahih (as-Sunnah) tidak perlu dipakai lagi dan cukup hanya dengan mengambil al-Quran sahaja.
2.      Mempermain-mainkan, memperlekeh atau menghina sebahagian dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam. Seperti menghina penutupan aurat bagi wanita mukminah, menghina akhlak Islamiyah atau memperlekeh dan menghina perlaksanaan hukum-hukum Allah Azza wa-Jalla yang alasannya hanya semata-mata bertujuan untuk mempermain-mainkan agama Allah.
3.      Membenci Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam sama ada dengan tindakan, ucapan, sindiran atau hasutan.  Seperti menuduh bahawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam sebagai seorang sayhwani (gila sex atau kaki perempuan).
4.      Merasa gembira dan senang dengan kejatuhan Islam dan  senang dengan kemenangan kuffar atau menolong (membantu) musuh dengan apa cara sekalipun dalam usaha menghancurkan Islam, memerangi umat dan Daulah Islamiyah.
5.      Membenci ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sallallahu 'alaih wa-sallam atau menentangnya sehingga menghalang-halangi dakwah dan kelancaran perjalanannya sebagaimana firman Allah:
      رَاَيْتَ الْمُنَافِقِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْكَ صُدُوْدًا
“Nescaya kamu lihat orang-orang munafik menghalang-halangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya”. 
An-Nisa, 4:61.
Kedua:  Nifak Asghar (اصغر)"Nifak kecil" atau nifak amali iaitu salah satu dari dosa-dosa besar yang paling besar. Namun pembuatnya tidak akan dikekalkan di dalam neraka. Dinamakan nifak kecil ialah apabila perbuatan seseorang nampak jelas berbeza dengan apa yang telah disyariatkan oleh syara.  Antara contoh-contoh nifak kecil ialah:
(1).  Mudah dan suka berdusta dalam ucapan atau perkataannya sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam al-Quran dan sabda Nabi Muhammad sallallahu 'alihi wa-sallam:
           وَاللهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ لَكَاذِبُوْنَ
“Dan Allah mengetahui bahawa sesungguhnya orang-orang munafik benar-benar orang pendusta (pembohong)”,  
        Al-Munafiqun, 63:1.

اِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ اِلَى الْفُجُوْرِ ، وَاِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِيْ اِلَىالنَّارِ ، وَلاَ يَزَلُ الرَّجَلَ يَكْذِبُ وَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يَكْتُبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا.

"Sesungguhnya dusta itu mengarah kepada kemaksiatan, kemaksiatan mengarah kepada neraka.  Sesungguhnya seseorang itu akan terus berdusta dan sentiasa mencari celah dusta sehingga ia dicatit di sisi Allah sebagai pendusta".
(2).  Tidak menepati janji sebagaimana sabda Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam:
وَاِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ
"Dan apabila berjanji ia tidak menepatinya" 
(3).  Mengkhianati amanah sebagaimana larangan Nabi Muhammadsallallahu 'alaihi wa-sallam dari melakukan pengkhianatan:
وَلاَ تَخِنُ مَنْ خَانَكَ
"Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianati kamu"
(4).  Curang atau keluar dari peraturan akhlak Islamiyah apabila berlaku pertengkaran atau ikhtilaf (berselisih faham), misalnya berkata bohong dalam menjelaskan perkara yang sebenar atau melebih-melebihkan permasalahan dengan segala kebohongan dan penipuan.  Rasulullah bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ اَرْبَعٌ : اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَاِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ وَاِذَا خَاصَمَ فَجَرَ وَاِذَا عَاهَدَ غَدَرَ

"Tanda-tanda munafik itu empat:  Apabila berkata ia dusta, jika ia berjanji tidak menepatinya, apabila bertengkar ia berlaku curang dan apabila berjanji dia berkhianat".
(5).  Gemar menipu (penipuan) sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam:
اِنَّ الْغَادِرَ يُنْصَبُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ : هَذِهِ غَدْرَةُ فَلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ

"Sesungguhnya setiap penipu akan dipancangkan baginya sebuah bendera dan dikatakan ini adalah penipuan  si Fulan anak si Fulan".  H/R Bukhari (5710) Al-Adab.

C.     FASIK
1.      Definisi Fasik
Al-fisqu  secara bahasa berarti al-khuruj (keluar). Sedang secara syar’i berarti keluar dari ketaatan kepada Allah.
2.      Macam-Macam Fasik:
Kefasikan ada dua macam yaitu:
a.       Pertama:
kefasikan yang dapat menyebabkan pelakunya pindah agama, yakni kufur. Karena  kafir juga disebut fasik.
Demikian Allah Ta’ala berfirman:
فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ.
“Maka  ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (Q.S. al-Ahkafi: 50).
Artinya,  kefasikan darinya adalah sebuah kekufuran.
b.      Kedua:
Kefasikan yang tidak menyebabkan  pelakunya pindah agama. Karenanya, orang Islam  yang bermaksiat dinamakan orang fasik, sebab, kefasikannya tidak sampai mengeluarkannya dari Islam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا بِأَرْبَعَةِ شُهَداءَ فَاجْلِدُوْهُمْ ثَمنِيْنَ جَلْدَةً وَلاَ تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَدَةً أَبَدًا وَأُوْلئِكَ هُمُ الْفسِقُوْنَ.
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina)  dan mereka tidak mendatangkan empat orang  saksi, maka deralah mereka (yang  menuduh itu) delapan puluh kali dera. Dan  janganlah kamu terima kesaksian  mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang  fasik.” (Q.S  an-Nur: 4).
D.    RIYA
Riya menurut arti bahasa berarti "melihat" karena ketika berbuat, selalu berusaha agar dilihat dan diperhatikan orang lain untuk mendapat pujian. Sedang riya menurut istilah adalah "sikap atau tindakan seseorang memperlihatkan amal perbuatannya serta ibadahnya kepada orang lain". Dengan kata lain riya adalah melakukan amal ibadah dengan niat karena selain Allah, ingin pujian atau dilihat orang lain.
Niat karena Allah Swt sangat menentukan nilai dan kadar iman seseorang yang melakukan pekerjaan, apakah untuk mendapat ridha dan pahala Allah Swt atau untuk tujuan lain. Rasulullah bersabda:
Artinya: "Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya dan seseorang akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang diniatkan. " (HR. Bukhari dan Muslim).
Macam-macam riya'
Riya terbagi menjadi dua kategori, yaitu:
a.    Riya' dalam niat
Artinya sejak awal perbuatan, bahkan sebelumnya sudah didasari riya'. Dengan demikian riya' dalam mat apabila seseorang melakukan sesuatu pekerjaan, hatinya merasa bangga dan mengharap pujian, sanjungan dan penghargaan dari orang lain, bukan ikhlas karena Allah Swt Karena niat bukan karena Allah, maka segala apa yang ia lakukan baik ibadah salat, puasa, haji, maupun amaliah yang lainnya akan menjadi sia-sia dan musnah.
b.    Riya' dalam perbuatan
Artinya Riya' dilakukan ketika sedang melakukan perbuatan baik ibadah maupun pekerjaan amaliyah yang bersifat keduniaan bila didasari dengan niat riya', tidak ikhlas karena Allah Swt, ingin dilihat orang, mengharap pujian dan sanjungan dari orang lain, tidak akan mendapat nilai atau manfaat baik bagi dirinya maupun masyarakat, lebih-lebih bagi agama dan negara.
2.    Bersedekah didasari riya', laksana batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lain menjadilah dia bersih. Baca firman Allah dalam QS. Al Baqarah: 264.
3.    Allah melarang berperang berdasarkan riya' dan menghalangi (orang) lain menempuh jalan Allah (sabilillah), baca firman Allah dalam QS. Al Anfal: 47.

Opini penulis terhadap 4 sifat di atas.
Ghibah merupakan kegiatan menggunjing atau membicarakan orang lain. Perbuatan ini termasuk perbuatan tercela. Berdasrkan alquran surah al hujurat : 12, perbuatan ini termasuk dalam dosa besar. dalam hadits nabi pun demikian . Namun, islam memperbolehkannya asalkan untuk tujuan tertentu misalnya:
1.      Mengadukan kedhaliman
2.      Meminta bantuan dalam mengingkari kemungkaran atau mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang benar
3.      Meminta Fatwa
4.      Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan dan kejahatan seseorang serta menasehati mereka dari bahayanya
5.      Orang yang terang-terangan dalam berbuat kefasikan atau kebid’ahan

Untuk ke tiga sifat yang lain , ini sudah jelas jelas perbuatan dosa. Dimana allah telah melarang untuk melakukannya.

Komentar